KUPANG — Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Boni Marasin menyatakan tengah memaksimalkan potensi sumber daya energi terbarukan (ETB) sebagai solusi untuk mengatasi krisis elektrifikasi yang hingga saat ini mencapai 58 persen.
“Artinya sampai saat ini rasio sekitar 42 persen masyarakat di daerah berbasiskan kepulauan ini yang belum menikmati penerangan yang bersumber dari Perusahaan Listrik Negara (PLN), sehingga perlu ada terobosan lain untuk memenuhi kebutuhan itu,” katanya di Kupang, Minggu (13/8/2017).
Terobosan melalui pengembangan energi alternatif terbarukan itu penting dilakukan karena menikmati energi dan kelistrikan merupakan simbol kemerdekaan bagi masyarakat di era reformasi dan kemajuan teknologi yang kian pesat itu.
Sumber daya ini cukup potensial untuk pengembangan energi alternatif terbarukan, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLTA), Pembangkit Listrik Panas Bumi dan Tenaga Mikrohidro.
Secara rinci kata dia potensi geothermal tersebar di 16 titik yaitu di Waisano, Ulumbu, Wai Pesi di Kabupaten Manggarai Raya, Gou-Inelika, Mengeruda, Mataloko, Komandaru di Kabupaten Ngada. Berikut Detusoko, Sokoria, Jopu, Lesugolo di Kabupaten Ende, Oka Ile Ange, Atedai Kabupaten Flores Timur-Lembata dan Bukapiting, Roma-Ujelewung dan Oyang Barang, Kabupaten Alor.
Ia mengatakan hal itu terkait daerah-daerah mana saja yang layak dibangun Energi Baru Terbarukan, berapa besar kapasitasnya dan apakah jenis energi baru terbarukan yang dikembangkan.
Selain energi geotermal, katanya, energi baru terbarukan sesuai potensi yang dimiliki NTT yang akan dikembangkan adalah energi arus laut, panas matahari dan angin. Energi terbarukan ini sangt potensial untuk dikembangkan di NTT.
“NTT ini sangat potensial untuk pengembangan energi baru terbarukan seperti energi arus laut, panas matahari dan angin. Kami akan berupaya agar potensi yang dimiliki NTT dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” ungkap Boni.
Ia menyebut Energi terbarukan di NTT sangat potensial antara lain, tenaga matahari di Pulau Sumba, tenaga angin di Timor Tengah Selatan (TTS), arus laut selat Gonsalu di Flores Timur, selat Pukuafu di Kabupaten Kupang, dan Alor. Bahkan untuk Selat Gonsalu sudah dilakukan survei dan siap untuk dikembangkan.
“Jika semua potensi listrik dikembangkan secara maksimal, NTT bisa surplus energi listrik. Kita harapkan pemda di NTT mendukung pengembangan energi terbarukan itu di masing- masing daerah,”katanya.
Secara nasional katanya Pemerintah menargetkan sebanyak 10.300 desa tertinggal, yang sebagian besar berada di Indonesia bagian timur, teraliri listrik mulai 2016 hingga 2019.
“Saat ini, masih ada 12.659 desa belum teraliri listrik, yang 2.519 di antaranya masih gelap pada malam hari,” katanya.
Desa-desa tertinggal ini sebagian besar di Indonesia bagian timur termasuk diantaranya Nusa Tenggara Timur dan melalui program yang dinamakan Program Indonesia Terang (PIT) rasio elektrifikasi akan meningkat dari 85 persen pada 2015 menjadi 97 persen pada 2019.
Jumlah 12.659 desa itu berarti mencakup 16 persen dari total desa dengan 2.527.469 KK dan 9.970.286 jiwa. “Total kebutuhan daya untuk PIT itu mencapai 500 MW hingga 1.000 MW,” katanya.[Ant]