Subiakto: Dulu, Koperasi Soko Guru Ekonomi di Pedesaan
JAKARTA — Subiakto Tjakrawerdaya, Menteri Koperasi Indonesia pada tahun 1993 hingga tahun 1998 pada Kabinet Pembangunan VI dan Kabinet Pembangunan VII pada masa pemerintahan Presiden Soeharto menceritakan perjalanan per koperasian di tanah air yang saat ini sudah memasuki usia yang ke 70 tahun.
Menurutnya, hari Koperasi tahun ini termasuk istimewa, karena memasuki usianya ke 70 tahun. Dirinya merasa sangat beruntung pernah menjabat sebagai Menteri Koperasi pada zaman keemasan ketika HUT Ke-50 Koperasi di tahun 1997, yang ditandai dengan berdirinya tugu atau patung yang berada di daerah Semanggi, yang ditandatangani oleh Presiden Kedua RI, HM Soeharto.
Masa keemasan pada waktu itu, salah satu indikasinya adalah perkembangan Koperasi Unit Desa (KUD) yang sangat luar biasa, di mana hampir di setiap desa memiliki KUD mandiri dan betul-betul sudah menjadi soko guru ekonomi di pedesaan. KUD-KUD pada waktu itu tidak ada yang dapat menyaingi dalam hal ini, di tingkat pedesaan kecuali Koperasi itu sendiri, dalam hal ini hanya Koperasi lah yang benar-benar eksis atau berperan aktif dalam meningkatkan perekonomian pedesaan.
“Koperasi- Koperasi di pedesaan pada waktu itu dalam kondisi yang sehat. Dikatakan sehat dikarenakan adanya proses audit yang dilakukan pemerintah dalam proses memajukan Koperasi di pedesaan, dan ini merupakan fakta sejarah yang hingga saat ini masyarakat Indonesia tidak akan lupa akan adanya KUD,” jelasnya di Jakarta, Kamis (6/7/2017).
Memasuki usianya yang ke 70, menjadi peristiwa yang sangat penting. Dirinya mengatakan bahwa Koperasi sekarang ini juga dalam kondisi cukup maju dengan banyaknya koperasi-koperasi yang berkembang dengan baik seperti koperasi simpan pinjam yang omsetnya cukup besar, koperasi retail yang juga cukup berkembang. Hanya saja mereka berkembang sendiri-sendiri sehingga tidak terlihat sebagai indikator soko guru. Berbeda ketika masa kurun 50 tahun yang menjadikan Koperasi sebagai soko guru perekonomian pedesaan di seluruh Indonesia.
Selama kurun waktu 50 tahun, koperasi secara nasional maju pesat, namun ketika krisis yang melanda, banyak pihak yang mengkritik bahwa hancurnya koperasi yang sudah sangat maju akibat dari terlalu dimanja oleh pemerintah.
Namun ketika fase krisis sudah terlewati, para pengusaha yang terkena dampak krisis mendapatkan bantuan hingga trilyunan, sedangkan koperasi walaupun mendapatkan bantuan, namun pada akhirnya tidak berlanjut sehingga pada akhirnya benar-benar dalam kondisi yang hancur dan tidak dapat terselamatkan.
Namun sekarang, sudah terlihat dan harus diakui kemajuan tersebut, tetapi bila memakai tolak ukur ke-soko guru-an masih jauh, sekarang justru berkembang sendiri-sendiri.
“Dalam ukuran soko guru masih kecil, dan ini merupakan tantangan kita bersama ke depan dalam ulang tahun yang ke 70 tahun ini menjadi momentum untuk melihat tantangan itu kemudian membulatkan tekad dan semangat kita untuk membangun kembali koperasi-koperasi dalam konteks ke soko guru-an dengan membangun koperasi dalam satu arsitektur ekonomi rakyat,” katanya lagi.
Jurnalis : M.FAHRIZAL