Jagung Titi, Makanan Lokal Kebanggaan Lamaholot
LARANTUKA – Berkunjung ke Larantuka ibu kota Kabupaten Flores Timur serasa belum lengkap kalau tidak menikmati Jagung Titi, makanan lokal masyarakat etnis Lamaholot yang berasal dari jagung yang digoreng dan dilempengkan atau berbentuk ceper.
Jagung Titi (jagung tumbuk) sejak dahulu merupakan makanan khas yang dibuat dan dimakan sendiri serta dihidangkan kepada para tamu yang datang ke rumah sebagai padanan saat minum kopi atau teh.
Menurut Mingga Fernandez seorang ibu asal kelurahan Sarotari Tengah kepada Cendana News yang menemuinya, Jagung Titi sudah ada sejak jaman dahulu dimana dulunya orang hanya makan Jagung Titi saat minum teh atau kopi.
Mama Mingga sapaannya mengaku, keahlian membuat Jagung Titi diwariskan dari ibunya dan ibunya mewarisi dari sang nenek sehingga kebiasaan ini terus terjaga sehingga dirinya bisa membuat Jagung Titi.
Jagung Titi terang warga kelurahan Sarotari Tengah ini, sebenarnya proses pembuatannya mudah hanya perlu kecepatan dalam mengambil jagung yang digoreng di dalam tembikar di tungku batu lalu dilempengkan dengan ditumbuk menggunakan batu ceper.
“Batu alasnya harus yang berbentuk ceper dan batu untuk menumbuknya pun harus ceper tidak boleh terlalu besar sehingga bisa digenggam di tangan,” ungkapnya.
Sekali ambil dari tembikar terang mama Mingga, jagungnya jangan terlalu banyak sehingga saat ditumbuk semua jagungnya bisa lempeng atau berbentuk ceper dan jagung yang akan ditumbuk juga matangnya harus pas.
“Harus cepat diambil dari tembikar dan ditumbuk sehingga jagungnya tidak hangus dan jagung yang digoreng pun jangan terlalu banyak,” bebernya.
Dalam menumbuk jagung tersebut kata mama Mingga, perlu kehati-hatian dimana saat jagung diambil dengan sebelah tangan dan diletakkan di batu ceper berukuran besar yang berada di tanah. Tangan yang satunya memegang batu ceper lalu segera menumbuk agar jagung yang masih panas tersebut akan menjadi lempeng.
“Saat menumbuk harus hati-hati agar batu yang dipakai untuk menumbuk tidak mengenai tangan yang sedang meletakkan jagung di atas batu ceper tadi,” ujarnya.
Jaman ,kata mama Mingga, orang mengangkat jagung dari tembikar untuk ditumbuk hanya menggunakan tangan. Meski jagungnya panas namun karena sudah terbiasa dan gerakannya sangat cepat hingga jagung ditumbuk maka jagung panas tersebut hanya sebentar saja digenggam sebelum ditumbuk.
Mery Diaz, warga kelurahan Sarotari Tengah lainnya pun saat ditanyai Cendana News mengaku, sudah lama membuat Jagung Titi atau Jagung Tite untuk dimakan sendiri maupun dijual atau jika ada pembeli yang memesannya. Baik jagung berwarna kuning maupun berwarna putih.
Mery mengaku sering menjual Jagung Titi di pasar namun saat ini karena kesibukan mengurus keluarga dirinya hanya membuat Jagung Titi saat ada pesanan saja atau untuk dimakan sendiri.
“Dulunya laris tapi sekarang sudah jarang yang beli karena banyak yang menjualnya di pasar sehingga saya hanya tunggu orang pesan saja baru buat Jagung Titi,” sebutnya.
Jagung Titi dijual seharga 100 ribu rupiah untuk ukuran satu kaleng biskuit setinggi sekitar 30 sentimeter atau biasa dipergunakan kaleng biskuit merek Khong Guan untuk takarannya.
“Kayu api yang digunakan untuk bahan bakar pun harus kayu lokal yang dinamakan Kukong dan Kesambi yang nyalanya lebih lama dan baranya pun tahan lama serta jagung harus digoreng di periuk tanah,” pungkasnya.
