PADANG — Danau Singkarak yang berada di Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, yang menyimpan ikan khas dan bahkan disebut hanya satu-satunya ada di dunia, yakni ikan bilih (mystacoleucus padangensis), mulai dikhawatirkan perkembangan hidupnya di dalam danau tersebut.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar Yosmeri mengatakan upaya yang dilakukan oleh pemerintah terhadap para nelayan ialah mengingatkan nelayan agar tidak menangkap ikan dengan mata jaring yang terlalu kecil, sehingga ikan bilih yang masih berukuran kecil tidak ikut tertangkap di dalam jaring.
“Untuk nelayan tradisional mata jaring ikannya sudah normal yakni sudah satu inci, ukuran tersebut sudah cocok. Tapi sadisnya, adanya nelayan bagan yang menangkap ikan bilih menggunakan mata jaring 2 mili. Bahkan lebih kecil dari mata jaring yang digunakan oleh nelayan tradisional, sehingga ikan-ikan yang masih berukuran kecil dan belum sepatutnya ditangkap, malah ikut terangkat,” paparnya, di Dermaga Singkarak, saat mendampingi Gubernur Sumbar Irwan Prayitno saat memberikan bantuan alat tangkap untuk para nelayan di Singkarak, Selasa (18/7/2017).
Ia mengakui, jika nelayan bagan tersebut dibiarkan dan tanpa ada pengawasan, maka ikan bilih akan habis dan bisa punah, karena tidak ada regenerasi ikan untuk berkembang, sebab ikan-ikan yang masih kecil dan masih butuh untuk tumbuh sudah ditangkap.
Yosmeri juga menyebutkan, nelayan di Singkarak tidak hanya berasal dari warga di sekitar Nagari Singkarak ataupun Kabupaten Solok, tetapi juga ada dari Kabupaten Tanah Datar. Untuk itu, agar pemerintah bisa mengendalikan penggunaan mata jaring ikan itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memberikan bantuan alat tangkap kepada nelayan di dua daerah tersebut.
“Untuk nelayan di Kabupaten Solok kita memberikan bantuan jaring langli sebanyak 10 unit dan mesin tempel sebanyak enam unit. Lalu untuk nelayan Kabupaten Tanah Datar diberikan jaring langli enam unit, dan mesin tempel juga sebanyak enam unit,” jelasnya.

Menurutnya, jaring langli yang diberikan kepada sejumlah nelayan tersebut, mata jaring sudah berukuran 2,5 inci. Dengan ukuran tersebut, dipastikan ikan bilih yang berukuran kecil tidak akan tertangkap, dan hanya ikan-ikan bilih yang berukuran sedang saja yang ditangkap oleh jaring para nelayan.
Gubernur Sumbar Irwan Prayitno juga mengakui sangat menyayangkan adanya kegiatan nelayan bagan yang menangkap ikan bilih dengan mata jaring ikan yang terlalu kecil. Menurutnya, perlu adanya payung hukum untuk mengatur para nelayan dalam menggunakan mata jaring, jenis alat tangkap yang digunakan, serta cara menangkap ikannya.
“Kami dari pemerintah tidak melarang para nelayan untuk menangkap ikan bilih di Danau Singkarak ini, tapi kita perlu untuk menjaga keberlangsungan kehidupan dan perkembangan ikan bilih. Jika tidak ada keprihatinan dan dibiarkan saja untuk terus dan terus menangkap ikan bilih nya, bisa-bisa ke depan kita semua tidak bisa lagi menikmati ikan bilih,” ungkapnya.
Gubernur menghimbau kepada para nelayan di Danau Singkarak, agar turut bersama-masa menjaga keberlangsungan kehidupan ikan bilih. Apalagi, ikan bilih merupakan ikan satu-satunya yang ada di dunia, dan itu hanya adanya di Danau Singkarak.
Sementara itu, salah seorang nelayan di Danau Singkarak, Dasril mengatakan, beberapa hari terakhir memang telah terjadi penurunan hasil tangkap nelayan untuk ikan bilih. Ia mengakui tidak mengetahui apakah penyebab menurunnya hasil tangkapan, terlah mulai sedikit isi ikan bilih di dalam Danau Singkarak. Namun, ia memperkirakan penyebab menurunnya hasil tangkapan ikan bilih akibat dari perubahan cuaca.
“Selama ini yang saya alami, jika arus air di dalam danau kuat, maka ikan bilih akan susah untuk ditangkap. Kondis itu, saat ini tengah di alami oleh para nelayan di Singkarak, karena beberapa hari ini sering turun hujan dan angin kencang,” tutupnya.