Harga Tinggi, Petani Gedong Harta Memanen Pinang

LAMPUNG — Sejumlah petani di Desa Gedong Harta, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, mulai panen tanaman pinang yang ada di kebun sebagai tanaman sela sekaligus tanaman pagar di kebun pisang dan jagung yang mereka miliki. Buah pinang mulai banyak dicari oleh para pengepul sebagai bahan baku pembuatan kosmetik dan obat, hingga bahan batik.

Zainal Abidin, warga setempat mengungkapkan, membaiknya harga buah pinang dari semula hanya Rp3-4 ribu per kilogram, kini mencapai Rp9-10 ribu. Musim panas diakui Zainal ikut menjadi faktor membaiknya harga pinang hasil petani setempat, karena kualitas pengeringan buah pinang menjadi lebih baik dibanding musim hujan.

“Saat harga anjlok, sebagian petani di desa ini hanya membiarkan buah yang sudah matang dan menguning, tapi saat harga membaik kami mulai memetik dan mengumpulkan buah pinang yang ada di kebun untuk dijual”, terang Zainal saat ditemui Cendana News tengah menjemur buah pinang dengan cara menghamparkan di rumput depan rumahnya, Rabu (26/7/2017).

Zainal menyebut, dua bulan terakhir harga buah pinang kering setelah dijemur selama dua hari bisa mencapai Rp10 ribu, sementara buah pinang muda yang dikeringkan bisa mencapai Rp7 ribu. Perbedaan harga tersebut karena kualitas pinang yang sudah tua ditandai dengan kulit yang sudah menguning dan berwarna orange lebih keras, sementara pinang muda dengan kulit hijau lebih lembek. Pengepul memintanya memisahkan pinang muda dan tua untuk memudahkan proses penyortiran sebelum dikirim ke pabrik yang ada di Jambi.

Zainal menjelaskan, proses pemanenan buah pinang terbilang mudah, karena pohon pinang yang tumbuh di pinggir-pinggir kebun sebagian hanya setinggi lima meter dan bisa dipetik menggunakan galah dengan pengait atau sabit. Pohon pinang yang merupakan sejenis kelapa tersebut berbuah sepanjang tahun, dan bisa dipanen dalam kondisi matang setiap pekan melihat kondisi buah pinang siap panen.

Sebanyak 100 batang buah pinang pada lahan seluas satu hektar miliknya ditanam di pinggir-pinggir kebun sebagai pembatas antara lahan miliknya dan milik tetangga, sekaligus pagar alami tersebut menghasilkan secara ekonomis. Selama dua pekan terakhir, ia menyebut sudah mulai mengumpulkan sebanyak 20 kilogram pinang kering siap jual, sementara hasil pinang dari kebun miliknya bisa mencapai 50 kilogram pinang kering, yang bisa memberinya penghasilan ratusan ribu.

Petani lain yang mulai memanen buah pinang, Suandi, mengungkapkan, puluhan petani di Gedong Harta dan di bawah kaki Gunung Rajabasa sebagian memiliki tanaman pinang yang dijadikan pagar pembatas lahan dan hasilnya bisa dijual. Proses perawatan yang mudah dan hasil yang lumayan membuat petani menjual hasil dari panen buah pinang yang ada di kebun.

“Kami juga tidak kesulitan memasarkan buah pinang, karena seminggu sekali ada pengepul mengambil pinang kering yang sudah kami masukkan ke karung dan akan ditimbang bobotnya,” terang Suandi.

Buah pinang yang dipanen tersebut, terang Suandi, dibelah menjadi dua untuk dijemur, setelah kering dilakukan proses pencungkilan untuk dipisahkan dari kulitnya. Kulit buah pinang oleh sebagian warga masih kerap dimanfaatkan sebagai penghangat untuk ternak kerbau sekaligus pengusir nyamuk pada malam hari pada kandang ternak.

Suandi menyebut, membaiknya harga buah pinang menjadi berkah bagi petani seperti dirinya, di saat harga komoditas pertanian jenis pisang dan jagung mulai anjlok. Buah pisang per tandan yang semula mencapai harga Rp25 ribu per tandan dan kini hanya Rp14 ribu, mulai merugikan petani, sehingga naiknya harga buah pinang bisa menjadi sumber penghasilan alternatif bagi para petani.

Buah pinang muda dan tua dijemur di halaman rumah warga. [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...