Bahasa Indonesia, Pemersatu antar Suku di Papua

NABIRE – Bahasa Indonesia adalah bahasa Nasional Indonesia yang dapat mempersatukan rakyat di seluruh negeri ini. Salah satu contoh pemersatu rakyat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dapat dilihat di Kampung Bomopai, Nabire, Papua.

Kampung Bomopai, Distrik Yaro, Nabire didominasi masyarakat dari Suku Mee berasal dari Kabupaten Dogiyai, dan tersebar di beberapa kabupaten, seperti Paniai, Deiyai dan Kabupaten Nabire.

Dari pantauan Cendana News, saat di lokasi Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD), Selasa (25/7/2017) sore, terlihat suasana yang begitu akrab dari prajurit TNI AD Satuan KODIM 1705 Paniai bersama puluhan mama-mama dan anak-anak warga kampung Bomopai.

Nampak Kepala Seksi Teritorial (Pasiter), KODIM 1705 Paniai, Kapten Inf. Eko Sulistiyono, tengah berbincang dengan masyarakat, saling bertukar pengetahuan bahasa daerah yang didasari dengan bahasa Indonesia.

Senyum tegur dan sapa merupakan sarana, agar dapat mengambil hati dan simpati masyarakat, terlebih saling mengetahui bahasa daerah sehari-hari masyarakat dan mengenalkan lebih jauh tutur bahasa Indonesia dengan baik.

“Betapa hebatnya masyarakat di kampung ini, walaupun mereka hidup di daerah pedalaman yang jauh dari perkembangan ilmu pengetahuan, mereka masih mampu menggunakan dan memahami bahasa Indonesia dengan baik dan benar,” kata Eko.

Menurutnya, mama- mama dengan senang hati mengajarkan beberapa bahasa pergaulan sehari-hari yang dipakai oleh masyarakat Kampung Bomopai. Dengan adanya momen ini, ia dapat juga mendapatkan pengetahun bahasa daerah Suku Mee, seperti Koha Abata (selamat pagi), Alapik (selamat siang), Bonita (selamat malam), Ake Kawadu Wena (mau kemana), Bolida (ke kebun).

“Mereka semakin lancar berbahasa Indonesia dan mengucapkannya dengan baik. Saya pun semakin tahu bahasa daerah sehari-hari mereka seperti Ehe artinya terimakasih dan mengenal angka dalam bahasa daerah seperti satu (enak), dua (wihak), tiga (wido), empat (Wi), lima (idibik), enam (benumik), tujuh (pituwuk), delapan (Woluwuk), sembilan (ihe) dan sepuluh (lagi),” tuturnya.

Sementara, Maria, salah satu mama-mama saat berbincang dengan prajurit TNI AD di lokasi TMMD ke-99 KODIM 1705 Paniai itu mengatakan, selain bahasa daerah yang biasa digunakan sesama suku di kampung, ia juga harus mengasai bahasa Indonesia, karena bahasa itulah yang selalu digunakan di tengah Kota Nabire.

“Bila belanja atau berinteraksi dengan masyarakat suku lain di samping bahasa daerah yang dipakai untuk intern mereka. Kalau kami ke luar Papua juga sudah pasti harus dapat berkomunikasi dengan orang-orang di Jawa, supaya gampang bergaul,” kata Mama Maria.

Betapa pentingnya bahasa Indonesia sebagai landasan bahasa pemersatu bangsa dari Sabang sampai Merauke. Di mana bahasa Indonesia ini lahir sejak Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 silam pada butir ke-3 berbunyi, Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Lihat juga...