RABU, 3 MEI 2017
LAMPUNG — Tinggal di kawasan yang sangat jauh dari akses listrik bukan berarti masyarakat di wilayah Dusun Sumberjaya, Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang dan Dusun Sumber Rejeki, Desa Tetaan, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, tidak mengharapkan sumber pasokan listrik.
![]() |
| Panel tenaga surya terpasang di atap rumah. |
Sarni menyebut, untuk memperoleh pasokan listrik dengan tenaga surya, ia harus mengeluarkan uang sekitar Rp1 juta untuk keperluan membeli instalasi pembangkit listrik tenaga surya. Mulai dari panel, kabel-kabel hingga accu (aki) untuk penyimpan daya dan konverter. Bekerja sebagai petani dengan aktivitas sebagian besar setiap hari dilakukan di lahan perkebunan, diakui Sarni, membuat kebutuhan arus listrik dominan digunakan saat malam hari untuk penerangan dan menyalakan alat-alat elektronik, mengisi daya telepon seluler untuk mendengarkan radio. Sarni bahkan menyebut, dengan fasilitas yang disediakan sendiri tersebut, ia masih tetap berharap bisa menikmati fasilitas listrik dari PLN.
![]() |
| Sarni menunjukkan aki penyimpan daya listrik tenaga surya untuk berbagai keperluan di rumahnya. |
“Kalau memang listrik PLN sampai di wilayah kami, tentunya kami akan memasang KWH meter untuk listrik. Tapi, hingga saat ini, kami belum bisa menikmati listrik dari PLN meski sudah kami ajukan ke pihak desa,” ungkap Sarni, saat ditemui Cendana News di rumah yang terletak di tengah perkebunan jagung dan pisang tersebut, Rabu (3/5/2017).
Sarni menyebut, dengan fasilitas listrik tenaga surya tersebut, dirinya hanya bisa menggunakan baterai solar cell dengan daya sekitar 100 ah (ampere hours) serta beberapa baterai cadangan. Kapasitas aki tersebut diakuinya bisa digunakan untuk kebutuhan penerangan menggunakan lampu LED dari pukul 18:00 WIB atau Maghrib hingga pukul 06:00 WIB pagi hari. Selain untuk kebutuhan penerangan sesekali dengan aki-aki cadangan ia menyebut keluarganya masih bisa menonton televisi dengan mengandalkan tenaga surya yang disimpan dalam aki-aki yang sebagian diambil dari bekas aki kendaraan roda dua. Meski berkeinginan memiliki lemari pendingin serta alat elektronik lain namun dengan keterbatasan daya karena hanya mengandalkan tenaga surya, Sarni menyebut harapan untuk memiliki kulkas masih belum terealisasi.
![]() |
| Instalasi listrik tenaga surya digunakan untuk penerangan dan alat elektronik di rumah. |
Salah satu warga lain, Ponirin (34) yang sekaligus sebagai Ketua Dusun di Dusun Sumberjaya menyebut, sekitar 10 tahun silam warga sudah mengusulkan untuk pembuatan tiang-tiang listrik untuk penyaluran listrik PLN. Sebagian warga bahkan telah dimintai sejumlah uang untuk merealisasikan kebutuhan akan listrik tersebut dengan menyetorkan uang dari mulai Rp500 ribu secara bertahap hingga mencapai Rp3,5 juta. Namun, oknum yang meminta melakukan pengumpulan sejumlah uang tersebut kabur dan warga yang menyetor uang secara bertahap tanpa kuitansi tidak bisa meminta uangnya kembali. Pilihan penggunaan pembangkit listrik tenaga surya secara mandiri oleh setiap rumah bahkan berlangsung hingga tahun 2017 ini.
Sebagian warga bahkan telah melakukan pemasangan instalasi mulai dari saklar hingga instalasi listrik. Namun batalnya pemasangan tiang-tiang listrik dan kabel dari PLN membuat instalasi tersebut terpasang di setiap rumah meski tidak difungsikan. Sebagian warga termasuk Ponirin mengaku masih bisa menikmati penerangan listrik dengan menggunakan tenaga surya yang dihasilkan dari memasang panel-panel tenaga surya di atap rumah. Bagi warga yang mampu membeli beberapa panel di atap rumah dipasang sekitar 2-3 panel tenaga surya, sementara bagi yang hanya mampu membeli satu panel dipasang di atap rumah.
![]() |
| Ponirin di depan rumahnya yang masih menggunakan listrik tenaga surya. |
Ponirin menyebut, sebagian warga termasuk dirinya setidaknya sudah melakukan penggantian panel tenaga surya selama beberapa kali. Selain akibat sudah cukup lama sebagian panel tenaga surya kerap bermasalah dan mengalami kerusakan. Ia menyebut, proses pemasangan pembangkit listrik tenaga surya di setiap rumah merupakan bantuan dari salah satu calon bupati pada periode 2010-2015. Namun sebagian sudah rusak sehingga warga terpaksa membeli instalasi baru. Ponirin menyebut, ia menggunakan berbagai komponen yang dibelinya dengan harga siap pakai mencapai Rp3,5 juta meliputi panel surya (solar module), solar charge controller, batterey, inverter DC ke AC yang digunakan untuk menghidupkan televisi.
“Biaya pembelian di awal memang mahal. Namun kita tidak perlu melakukan pembayaran bulanan. Hanya harus rajin melakukan perawatan pada instalasi termasuk membersihkan panel akibat debu atau hujan,” ungkap Ponirin.
Berdasarkan data di beberapa dusun yang ditinggali oleh para penghuma (umbulan) petani jagung dan karet, sebagian besar warga dengan jumlah mencapai puluhan rata-rata menggunakan pembangkit listrik tenaga surya. Lokasi yang jauh dan berada di kawasan Register 1 Way Pisang eks Proyek Jaka Utama, membuat kawasan berjarak puluhan kilometer dari ib ukota kecamatan tersebut sebagian masih mengandalkan tenaga surya. Selain keterbatasan akses listrik, tinggal di wilayah yang memiliki kontur perbukitan tanah padas membuat warga kesulitan memperoleh akses air bersih terutama untuk kebutuhan minum.
![]() |
| Air bersih warga harus diperoleh dari lokasi lain akibat susahnya akses air bersih. |
Sebagian besar warga di kawasan tersebut bahkan harus terpaksa menyiapkan puluhan galon air untuk kebutuhan minum dan memasak meski untuk kebutuhan mandi masih menggunakan sumur air dalam. Sebagian besar sumur yang dibuat memiliki kedalaman sekitar 15-20 meter dengan kondisi air kecokelatan. Warga berharap, meski masih menggunakan listrik tenaga surya, ke depan dengan adanya sistem listrik pra bayar, jaringan listrik dari PLN bisa menjangkau wilayah tersebut.
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi
Source: CendanaNews




