RABU, 3 MEI 2017
LAMPUNG — Kebutuhan akan proses pengeringan jagung skala besar bagi pemilik usaha jual-beli pebisnis jagung membuat penyediaan fasilitas alat pengering (dryer) sangat penting. Terutama untuk menghilangkan kadar air di dalam jagung sebelum dijual ke pabrik pengolah pakan ternak atau pengolahan jagung menjadi produk jadi.
![]() |
| Agus,pebisnis jual-beli jagung. |
Salah satu pebisnis jagung di Desa Klaten, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, Agus (39) menyebut, saat ini dengan kapasitas rata-rata jagung yang diterima dari petani hampir mencapai 10 ton lebih per hari, dirinya membutuhkan alat pengering modern untuk proses pengeringan.Tterutama saat proses pemanenan memasuki musim penghujan atau kerap mendung tanpa ada sinar matahari. Alat pengering vertikal (vertical dryer) miliknya dipasang hampir setinggi 20 meter dengan memiliki kapasitas hingga 4 ton dengan kecepatan pengeringan 1-1,5 % per jam.
Agus menyebut dengan alat pengering tersebut, proses pengeringan jagung yang akan dikirim ke pabrik setelah dibeli dari para petani jagung bisa dilakukan dengan cepat. Alat vertical dryer yang kerap digunakan pada saat saat tertentu tersebut, diakuinya membutuhkan biaya produksi yang cukup besar. Mulai dari penyediaan bahan bakar kayu hingga mencapai puluhan kubik dengan rata-rata pembelian kayu Rp350 ribu per satu kendaraan L300. Belum termasuk bahan bakar minyak untuk menghidupkan diesel sebagai alat pengaduk jagung di dalam mesin. Selain itu, biaya untuk operasional mesin pengering jagung menggunakan teknik modern untuk percepatan pengeringan dan mengurangi kadar air hingga 9-12 persen tersebut, diakuinya membutuhkan tenaga kerja hampir 6-8 orang mulai dari menyediakan bahan bakar hingga proses memindahkan jagung ke dalam alat.
![]() |
| Proses penjemuran secara alami dengan tenaga matahari. |
“Teknik pengeringan secara modern ini memang sudah berjalan hampir sejak lima tahun lalu. Saat itu saat musim panen kerap hujan sehingga banyak petani memiliki jagung dengan kadar air tinggi dan saya kerap ditolak oleh pabrik pengolahan jagung karena kadar air tinggi,” terang Agus, salah satu pebisnis jual-beli jagung dari petani dan menjualnya ke pabrik pengolahan pakan ternak berbahan jagung di Lampung maupun luar Lampung, saat ditemui Cendana News di rumahnya, Rabu (3/5/2017).
Agus menyebut, saat ini proses pasca panen jagung menentukan kualitas produksi jagung mulai dari proses pemanenan, pengangkutan, pengeringan, pemipilan hingga penyimpanan. Cara proses pengeringan selama ini dilakukan oleh para petani dengan cara pengeringan alami dalam bentuk berkelobot, tanpa kelobot dan pipilan. Proses pengeringan atau menurunkan kadar air yang rata-rata dari mulai pemanenan dengan kadar air sekitar 38 % membutuhkan waktu sekitar 87 jam atau 57 jam secara tradisional. Sementara untuk mencapai kadar air berkisar 9-12 persen memerlukan waktu yang cukup lama.
![]() |
| Bangunan lokasi pengering buatan dengan teknik pengering vertikal sementara tidak digunakan. |
Penggunaan mesin pengering jagung, diakui oleh Agus, dipergunakan saat musim penghujan dengan panas pengeringan sekitar 38-43 derajat celcius dan memperoleh hasil jagung kering dengan kadar air sekitar 12-13 persen. Selain efisien dan cepat melakukan proses pengeringan menggunakan mesin, namun Agus menyebut dengan kondisi selama hampir beberapa bulan terakhir mulai musim kemarau, ia bahkan lebih dominan menggunakan cara tradisional. Terutama untuk proses penurunan kadar air dengan menggunakan cara penjemuran di hamparan lokasi penjemuran dengan menggunakan semen pada lahan seluas 50 meter x 30 meter di bagian depan lokasi pengeringan menggunakan mesin dan di depan rumahnya.
Ia menyebut, menggunakan mesin pengering memiliki keuntungan di antaranya menghemat tenaga manusia terutama saat musim hujan, dapat dilakukan setiap saat dari pagi hingga malam, dapat dilakukan pengaturan suhu sesuai kadar air yang diinginkan dan pengeringan dapat dilakukan sekaligus atau bertahap. Namun, ia juga tak menampik biaya produksi penggunaan alat tersebut cukup besar sehingga dengan memanfaatkan tenaga matahari selama musim kemarau dengan panas atau terik yang maksimal, ia justru lebih dominan menggunakan teknik penjemuran tradisional dengan pengeringan menggunakan sinar matahari (sun drying).
![]() |
| Bahan bakar kayu untuk pengeringan buatan saat musim penghujan. |
“Proses penjemuran menggunakan sinar matahari dimulai sejak pagi saat matahari sudah meninggi dan akan dikemas saat kadar air sudah mencapai yang diinginkan dengan menggunakan alat pendeteksi kadar air,” ungkap Agus.
Meski menggunakan tenaga surya atau tenaga matahari untuk proses pengeringan, ia mengaku dengan panas yang sempurna tanpa mendung proses pengeringan sebanyak 3-4 ton bisa dilakukan sekaligus. Sebanyak 4 pekerja bahkan membantu proses penjemuran mulai dari menghamparkan jagung menggunakan alat penyerok dari kayu dan memasukkan ke dalam karung-karung khusus setelah tingkat kekeringan jagung yang ada sudah mencapai kadar yang diinginkan. Proses pengeringan jagung selain permintaan pabrik, diakui Agus, memiliki manfaat untuk menurunkan kadar air biji sehingga bisa meningkatkan daya simpan jagung, pengangkutan lebih ringan sehingga biaya angkut bisa ditekan dan meningkatkan nilai ekonomis jagung.
Salah satu pekerja, Jarno (34) menyebut, proses pengeringan alami menggunakan tenaga matahari selain lebih menghemat bahan bakar kayu dan listrik juga lebih mudah dilakukan. Penghematan tersebut diakui Jarno dengan tidak dikeluarkannya biaya untuk membeli kayu, bahan bakar solar serta proses pengangkatan dari karung menuju ke mesin pengering. Selain itu jagung yang dihamparkan di atas tempat pengeringan menggunakan semen memiliki tingkat pengeringan maksimal, terutama saat kondisi cuaca terik matahari sangat panas pengeringan bisa dilakukan hanya dalam waktu beberapa jam.
“Kalau jagung yang dijemur rata-rata sehari sudah kering, selanjutnya dimasukkan dalam karung dan disimpan dalam gudang kering dan jagung lain yang belum kering bisa dihamparkan untuk proses pengeringan lagi,” terang Jarno.
Meski saat ini cuaca mendukung dengan panas matahari yang sangat potensial dan bagus untuk proses pengeringan alami, dalam kondisi terpaksa saat musim penghujan dan musim panen jagung melimpah penggunaan mesin pengering buatan tetap digunakan. Penggunaan mesin pengering modern yang harganya mencapai ratusan juta tersebut harus dilakukan untuk menghindari jagung membusuk, basah dan bahkan memiliki kadar air yang tinggi sehingga pabrik tidak bersedia menerima jagung dari para pebisnis jagung dan bisa berimbas pada kerugian.
“Kalau ada energi yang bisa dimanfaatkan untuk menjemur ya tetap harus dimanfaatkan karena selain untuk menjemur jagung sebagian petani juga menggunakan untuk menjemur gabah pada musim panen kali ini,” ungkap Jarno.
Meski menggunakan teknik penjemuran tradisional, menggunakan sinar matahari, Jarno juga mengaku tetap harus waspada jika sewaktu-waktu terjadi mendung atau hujan. Beberapa pekerja diakuinya sudah sigap menyiapkan terpal atau penutup plastik berukuran besar sehingga jagung yang sudah kering sempurna tidak terkena air jika sewaktu-waktu turun hujan dan bisa mengakibatkan terhambatnya proses pengeringan. Meski proses pengeringan alami menggunakan tenaga sinar matahari lebih murah dan tanpa memerlukan keahlian khusus, proses pengeringan jagung membutuhkan lahan yang cukup luas dengan pembuatan alas jemur yang terbuat dari semen.
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi
Source: CendanaNews



