Kenaikan Harga Jagung Belum Tutupi Biaya Operasional Petani

RABU, 3 MEI 2017
LAMPUNG — Kenaikan harga dasar jagung di tingkat petani di wilayah Lampung Selatan pada musim panen bulan Maret hingga April cukup menggembirakan. Kenaikan harga dasar jagung tersebut diakui beberapa petani jagung di wilayah Kecamatan Ketapang, Kecamatan Palas dan Kecamatan Penengahan dengan harga yang terbilang lebih tinggi dibanding musim sebelumnya. 

Nurmanto, salah satu petani jagung di Lampung Selatan.

Nurmanto (36) menyebut, sebelumnya harga jagung pipilan kering dibeli oleh para pengepul jagung dengan harga Rp3.600 per kilogram. Kini dibeli mencapai Rp4.000 per kilogram. Sementara untuk jagung gelondongan belum dipipil per karung dijual dengan harga Rp100.000 meski sebelumnya dijual dengan kisaran harga Rp60.000 per karung.

Membaiknya harga jagung tersebut, diakui oleh Nurmanto, dengan banyaknya pabrik pengolahan pakan ternak yang kini berdiri di Lampung Selatan dengan jagung sebagai bahan baku pakan ternak. Sebagian pengepul jagung, diakuinya, membeli jagung petani di sejumlah lahan pertanian sehingga petani cukup melakukan sistem pengepokan atau pengumpulan di pinggir kebun. Pengepul pun bisa membeli langsung jagung milik petani tanpa harus menyetor ke gudang. Kondisi cuaca yang cukup baik untuk pengeringan jagung dengan panas yang cukup sempurna bahkan membuat jagung banyak dominan kering di pohon. Meski harga jagung merangkak naik, diakui Nurmanto, masih belum bisa mendongkrak penghasilan petani jagung dengan tingginya biaya produksi dan operasional.

“Dua kali musim panen ini harga komoditas jagung memang mulai membaik meski secara nominal tinggi. Namun hitung-hitungan petani jagung dengan biaya produksi yang tinggi serta biaya operasional petani masih memiliki keuntungan minim pada musim panen bulan ini atau bahkan belum bisa menutupi biaya produksi dan operasional,” terang Nurmanto, salah satu petani jagung di wilayah Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan saat ditemui Cendana News di depan rumahnya, Rabu (3/5/2017).

Biaya produksi yang dimaksud Nurmanto, di antaranya dengan harga bibit jagung per kampil (ukuran 5 kilogram) yang mulai merangkak naik, sistem penebusan pupuk yang lebih sulit dan terkadang langka, biaya pengolahan tanah serta perawatan pemberantasan gulma dengan pestisida hingga masa panen dengan upah tenaga pemetik dan juga upah pengangkutan. Khusus untuk upah buruh petik jagung per karung saat ini ia mengaku dengan kondisi lahan pertanian jagung yang relatif datar para buruh diberi upah sekitar Rp1.000 per karung. Sementara untuk upah tanam jagung dengan sistem harian penanam jagung diberi upah sekitar Rp60 ribu dalam sehari tanam. Biaya tersebut belum termasuk pembelian bibit per kampil bisa mencapai Rp350.000 dan juga pembelian pupuk.

Pembelian pupuk untuk petani jagung, diakui Nurmanto, saat ini harus menggunakan sistem billing atau proses pembelian dengan sistem online melalui bank. Selain itu petani jagung juga tidak bisa bebas membeli dalam jumlah banyak karena harus membeli pupuk dalam kelompok tani (poktan) dan sesuai dengan rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK). Nurmanto yang memiliki kebutuhan pupuk hampir mencapai 1 ton per hektar tersebut, mengaku terpaksa menambah kebutuhan pupuk dengan menggunakan pupuk organik dari kotoran ternak untuk meningkatkan produktivitas tanaman jagung miliknya dengan harapan bisa menekan biaya produksi.

Proses pengumpulan jagung sebelum diangkut pengepul jagung.

“Petani jagung berharap harga jagung tetap stabil terutama saat ini masa panen jagung nyaris tidak bersamaan. Meski ada yang sudah panen tapi sebagian lahan jagung masih ada yang berusia sekitar satu bulan tanam,” terang Nurmanto sembari menunjukkan lahan jagung yang masih menghijau.

Meski harga jagung meningkat saat hasil panen membaik salah satu petani jagung lainnya, Abdulah (45) mengaku, kemungkinan pada musim panen selanjutnya harga bisa bergerak turun sehingga ia mengaku segera menjual hasil panen jagung miliknya saat harga naik. Selain menghindari terkena serangan bubuk atau berjamur saat jagung telah dipanen juga menghindari jagung terkena hujan dengan kondisi cuaca yang tak menentu sebab pembeli akan membeli jagung dengan harga tinggi jika kualitas kadar airnya rendah.

“Selama ini petani jagung kerap dipermainkan oleh para pembeli dengan alasan kadar air tinggi sehingga harga dibeli dengan murah, namun pada saat panen musim kemarau tidak ada lagi alasan menurunkan harga jagung,” terang Abdulah.

Abdulah menyebut, naiknya harga jagung ini juga terpengaruh faktor mendekati Lebaran dengan meningkatnya kebutuhan peternak ayam petelur akan pakan ayam. Para peternak ayam petelur yang berada di wilayah Lampung di antaranya di Kecamatan Tanjungbintang dan Kecamatan Katibung memenuhi kebutuhan pakan dari pabrik pakan jagung yang ada di Kecamatan Sidomulyo dengan bahan baku jagung. Upaya mengejar produksi telur untuk kebutuhan masyarakat menjelang Ramadhan pada akhir Mei ini juga diakui Abdulah diprediksi sebagai satu faktor penyebab kenaikan harga jagung di tingkat petani di wilayah tersebut.

Sebagian tanaman jagung yang memasuki umur satu bulan.

Sebagai upaya menyiasati kemungkinan anjloknya harga jagung yang terjadi, sebagian petani jagung melakukan sistem penanaman dengan tumpang sari  menggunakan sebagian lahannya untuk menanam tanaman pisang. Tanaman pisang yang bisa ditanam di sepanjang jalur tepi kebun bahkan bisa menjadi tambahan penghasilan para petani jagung dengan harga pisang yang cukup menjanjikan berkisar Rp25 ribu hingga Rp35 ribu per tandan. Selain menanam pisang di sela-sela lahan jagung sebagian petani juga melakukan praktik tanaman tumpang sari tanpa mengganggu lahan jagung di antaranya dengan menanam tanaman cabai yang bisa dijual ke pasar.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Source: CendanaNews

Lihat juga...