Perajin Kecil Gerabah Kasongan, Berkembang

JUMAT, 7 APRIL 2017

YOGYAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Suryati (38), warga Dusun Kalipucang, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, ini terbilang berhasil menekuni usaha kerajinan gerabah dan keramik Kasongan. Ia hanya modal ulet dan sebuah PC Tablet yang digunakannya untuk memasarkan hasil kerajinannya secara online.

Suryati saat mengerjakan beragam sovenir berbahan gerabah 

Berada di kawasan sentra kerajinan gerabah dan keramik Kasongan, membuat warga Dusun Kalipucang banyak yang membuka usaha rumahan kerajinan gerabah dan keramik, berupa sovenir hajatan, seperti celengan, tempat bolpoin, hiasan, hingga pernak-pernik lainnya. Salah satunya, Suryati, ibu rumah tangga yang sejak 10 tahun lalu mulai mencoba peruntungan dengan membuka usaha kerajinan gerabah Kasongan.

Sebelumnya, Suryati bekerja di sebuah industri kerajinan gerabah dan keramik Kasongan. Namun, sejak melahirkan anak keduanya, ia terpaksa berhenti bekerja untuk merawat anak-anaknya. Namun, penghasilan suami yang hanya bekerja sebagai buruh bangunan, dirasa tak bisa mencukupi kebutuhan, sehingga Suryati tergerak untuk membantunya dengan membuka usaha kerajinan sendiri.

Dengan modal pas-pasan, Suryati membeli bahan mentah sovenir berupa kerajinan gerabah dari perajin besar. Hal itu dilakukan, agar lebih praktis. Ia kemudian menghias sendiri kerajinan tersebut. Setelah jadi, ia kemudian menjualnya kepada para pelanggan.

Saat itu, Suryati memasarkan produk kerajinannya dari mulut ke mulut. Keterbatasan modal membuat usahanya kurang bisa berkembang. Ia sendiri sebenarnya sempat beberapa kali mendapat tawaran pinjaman dari Bank Plecit yang sering datang ke dusunnya. Bank Plecit adalah istilah untuk rentenir atau lintah darat. Dari bahasa Jawa, plecit, yang berarti mengejar-ngejar atau menguber-uber. Istilah itu disematkan kepada rentenir, karena jika datang menagih, selalu mengejar-ngejar dan tidak mau tahu kesulitan orang yang ditagihnya.

Sadar akan resikonya itu, Suryati tidak pernah mau meminjam uang dari bank plecit. Khawatir tak mampu menanggung cicilan dengan bunga yang sangat tinggi setiap harinya. Ia pun lebih memilih berjalan apa adanya  dengan modal seadanya pula.

Kesabaran dan ketekunan Suryati, akhirnya mempertemukannya dengan program Simpan Pinjam Tabur Puja Yayasan Damandiri, yang disalurkan melalui KUD Tani Makmur dan Posdaya Kenanga I di tingkat dusun. Dengan segala kelebihan dan keunggulannya, pada 2014 itu Suryati langsung mengajukan pinjaman modal usaha sebesar Rp2 juta. Modal itu digunakan untuk membeli tambahan bahan mentah keramik serta sebuah PC Tablet.

Adanya perangkat elektronik itu membuat Suryati bisa memasarkan produk kerajinan sovenirnya secara online. Baik lewat lapak penjualan online ataupun lewat media sosial seperti Facebook dan lain-lain. Usaha Suryati pun semakin cepat berkembang. Banyak konsumen memesan barang-barang kerajinannya via online. Seiring dengan itu, Suryati yang merasakan betul pinjaman modal Tabur Puja tak memberatkan dan bahkan sangat membantu, pada tahun kedua Suryati kembali meminjam lagi sebesar Rp2,5 juta dan Rp4 juta di tahun ketiga. Modal itu digunakan untuk menambah lagi jumlah dagangan sovenirnya.

Kini, Suryati tak lagi hanya menjual sovenir dari bahan gerabah saja, namun juga dari jenis lainnya, seperti kipas, tempat lilin, guci, dan sebagainya. Pelanggannya pun semakin meluas, tak hanya dari sekitar daerahnya saja. Namun, hingga ke luar kota, bahkan luar pulau, seperti Bali, Kalimantan hingga Sumatera.

“Biasanya saya kirim sampai Solo, Jakarta, Jambi, Medan, dan sebagainya. Sekali pesan ada yang 300 biji, 500 biji ada juga yang sampai 800 biji. Untuk harganya bervariasi. Mulai dari 2.000 rupiah, 3.000 rupiah, hingga 5.000 rupiah juga ada. Untuk pemasukan tergantung pesanan. Tidak pasti. Kadang sebulan bisa lebih dari 1 juta rupiah,” katanya.

Suryati mengaku adanya program Tabur Puja di dusunya sangat membantu pelaku usaha kecil seperti dirinya. Pasalnya, tanpa bantuan modal semacam itu, usahanya akan sulit berkembang. Dari hasil berjualan sovenir itu sendiri, Suryati mengaku kini bisa membantu suaminya mencukupi kebutuhan keluarga. “Ya, lumayan, bisa untuk bantu suami. Sekolahkan anak dan sedikit-sedikit buat renovasi rumah. Ini saya bisa mengkeramik lantai rumah ini sebagian juga dari hasil berjualan sovenir,” tuturnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...