Kritisi Pemerintah, Mahasiswa Solo Aksi Tidur di Jalan

RABU, 12 APRIL 2017

SOLO — Seratusan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi di Solo, Jawa Tengah, menggelar aksi menagih janji pemerintah. Aksi yang dilakukan dengan tidur di jalan ini sebagai kritik keras terhadap pemerintahan Jokowi-JK yang dinilai belum bisa mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia.
 

Begini aksi tidur mahasiswa Solo melakukan kritik terhadap pemerintah.

Aksi gabungan mahasiswa  yang digelar di Bundaran Gladak, Slamet Riyadi untuk menyikapi berbagai persoalan bangsa Indonesia yang tak kunjung selesai. Mulai dari kasus korupsi, menagih janji presiden untuk kesejahteraan rakyat, hingga persoalan hak berkumpul dan berserikat yang akhir-akhir ini mulai terancam karena dinilai sebagai upaya makar.

Dalam orasinya, Koordinator Aksi  Ilham Akbar menyebutkan, hingga tiga tahun kepemimpinan Jokowi-JK, pemerintah Indonesia tak kunjung baik, dan justru rakyat semakin sengsara. Ketimpangan sosial terlalu tinggi, kasus korupsi dipertontonkan, penegakan supremasi hukum yang terkesan tajam ke bawah dan tumpul ke atas, membuat mahasiswa kian geram dengan pemerintah.

“Apalagi kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Ini sangat tidak rasional. Jika pemerintah mengklaim kenaikan untuk menghemat, kenapa uang Negara justru banyak yang dikorupsi. Listrik ini sangat memberatkan rakyat, karena bersinggungan langsung,” paparnya dalam aksi, Rabu sore (12/4/2017). 

Bahkan, aksi yang mengusung tema belasungkawa karena negara telah hilang itu dilakukan dengan tidur di tengah jalan. Kemacetan cukup panjang tak tehindarkan karena mahasiswa memblokir jalan utama Kota Solo. Mahasiswa menilai kebijakan yang dilakukan pemerintah saat ini tidak terstruktur dengan baik dan terkesan serampangan. Endingnya, rakyat yang menjadi korban karena kian terhimpit.

“Kami meminta dengan tegas Pemerintah Indonesia betanggung jawab terhadap kekacauan yang telah dibuat dan mencabut kebijakan serampangan yang menyengsarakan rakyat. Kami juga minta kepada KPK untuk menepati janji menuntaskan kasus mega proyek e-KTP dan tidak mengaburkan perkara dengan bertele-tele dalam proses hukum,” tegas dia.

Aksi yang berlangsung selama 2 jam sempat dijaga ketat aparat keamanan baik dari TNI maupun Polri. Aksi seratusan mahasiswa gabungan  ini juga diikuti perwakilan BEM dari Yogyakarta, dan Semarang.  Aksi ini ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Pimpinan Pondok Pesantren Takmirul Islam, KH Muhammad Ali Nahar Assyaafi’i sekaligus sebagai doa keselamatan bagi bangsa Indonesia. 

Salah satu aksi lainnya mahasiswa Solo.

 
Jurnalis: Harun Alrosid/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Harun Alrosid

Source: CendanaNews

Lihat juga...