Inilah Kesan-Pesan Sastrawan Pelajar Setelah Terima Penghargaan

SELASA, 4 APRIL 2017

JAYAPURA — Sepenggal kesan dan pesan dari penerima piagam penghargaan penulis sastra pertama di Provinsi Papua dan Papua Barat dalam tingkatan Sekolah Menengah Atas (SMA) telah tergores. Menanti piagam penghargaan lebih dari delapan bulan, tak membuat para pelajar berhenti berkarya. Berikut pesan dan kesan para pelajar tersebut yang dihimpun Cendana News, Selasa (4/4/2017).

Sepuluh pelajar yang mendapatkan piagam penghargaan sebagai sastrawan pelajar tingkat SMA se-Papua dan Papua Barat.

Nila Margi Jihani, akrab disapa Nila, merasa senang dirinya satu dari 10 rekan sekolahnya yang  mendapat piagam penghargaan dari Dinas Pendidikan Kota Jayapura dan juga dari pihak SMA Negeri 2 Jayapura. Penghargaan ini, menurut Nila, sebagai bekal atau bukti tertulis nantinya jika ia akan menempuh perguruan tinggi.

“Dengan menulis saya mendapat pengalaman, saya yang masih SMA dapat bertemu penulis-penulis sastrawan ternama di Papua,” kata Nila yang kini duduk di bangku kelas XII yang optimis lulus tahun ini.

Menurut Nila, sebuah kata yang bersatu dalam kalimat serta alinea akan hilang jika tak ditulis pada sebuah buku. Hal itulah yang membuat dirinya terus memacu adrenalin menulis dengan cara memperluas ilmu tulis sastra yang telah diberikan oleh Sastrawan Papua Igir Al-Qatiri.

Sastrawan pelajar SMA, Nila Margi Jihani.

“Semoga adik-adik kelas saya, makin banyak yang menghasilkan karya cerpen, pusi dan lainnya serta mempunyai hak cipta pada satu buku,” tutur putri dari pasangan Lamijo dan Ririn Indrawati.

Di usia 18 tahun, dirinya kini turut serta dalam tim penulis buku kedua yang rencananya akan selesai pada akhir bulan April mendatang. Baginya, Papua adalah rumah pertama dari tempat asalnya di Jawa.

“Saya 7 tahun di luar pulau Jawa dan 11 tahun di Papua. Saya sayang Papua melebihi tanah kelahiran saya. Papua banyak cerita, Papua mempunyai kharisma tersendiri yang membuat saya ingin terus berkarya,” tuturnya.

Senada itu, Nilawati Dwiputri bersyukur akan apa yang telah didapat bersama teman-temannya. Ia mengaku terus berkarya tanpa melupakan kewajiban di sekolah yaitu mendapat nilai baik. Kini, Putri sapaan akrabnya tengah menulis juga dalam buku yang nanti terbit berjudul Black Brothers Musik dalam Sastra.

Sastrawan pelajar SMA, Nilawati Dwiputri.

“Kami tak menyangka buku Punah yang telah dicetak bisa tembus ke pasar nasional. Walaupun dapat piagamnya lama dan membuat kecewa, tapi tak apa, karena kalau karya kita dibaca bisa menjadi motivasi buat pelajar lainnya,” kata Putri anak bungsu dari dua bersaudara itu.

Intinya, lanjut anak dari pasangan Muh. Amir Pombili  dan Murni itu, karya tulis sastra yang telah terbit dan akan terbit lagi, dapat menumbuhkan naluri membaca pelajar-pelajar yang ada di Papua dan Papua Barat, bahkan di Indonesia.

“Kalau tahun ini lulus, saya mau lanjut kuliah di Universitas Cenderawasih (Uncen) jurusan pendidikan Bahasa Indonesia dan Penjas. Tetap akan menulis sastra lagi saat mengisi jam-jam kosong. Saya berterima kasih juga kepada ibu guru Vonny Aronggear yang berikan pencerahan kepada kami soal sastra,” ujarnya.

Sedangkan Yuliana Aksamina Siriyey, satu-satunya anak asli Papua dari Kampung Meukesi, Distrik Tanah Merah, Kabupaten Jayapura yang tergabung dalam penulisan buku Punah dan tergabung lagi dalam penulisan buku kedua, tak henti-hentinya menyuarakan kebangkitan sastra untuk tanah kelahirannya.

“Bangga sekali, setahu saya belum ada pelajar dari Tanah Merah, Kabupaten Jayapura menulis buku sastra saat mereka duduk di bangku SMA. Ini baru saya sendiri,” kata Yuli, sapaan akrabnya.

Sastrawan pelajar SMA, Yuliana Aksamina Siriyey.

Ia menjabarkan bahwa menulis sastra itu susah, namun dirinya optimis rekan-rekan sebayanya pasti mampu melakukannya dengan niat sungguh-sungguh belajar. Dirinya sangat ingin anak-anak di kampungnya bukan hanya membaca karya orang lain, melainkan dapat membuat karya tulis yang dapat dibaca semua orang.

“Orang lain kalau membaca hasil tulisan kita, saya yakin mereka akan terdorong untuk melakukannya. Kakak dan adik saya senang dengan buku kemarin, malah bapak sudah pesan untuk buku kedua yang sedang kami garap,” kata anak dari Kabag OPS Polres Kaimana, AKP Yulianan Aksamina Siriyey.

Dari ratusan murid yang ada di SMA Negeri 2 Jayapura, 10 pelajar ini telah menorehkan namanya pada sebuah karya sastra yang tertuang dalam buku Punah terbitan Juli 2016 lalu dan telah tersebar ke penjuru Indonesia. Mereka mendapat apresiasi dari berbagai kalangan pelajar juga kerabatnya, bahkan sastrawan Indonesia terlebih khususnya Sastrawan Papua Igir Al-Qatiri dan penyair Vonny Aronggear. Teruslah berkarya adik-adikku!

Jurnalis: Indrayadi T Hatta / Editor: Satmoko / Foto: Indrayadi T Hatta

Lihat juga...