RABU, 12 APRIL 2017
JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Berawal dari menjadi Anggota Tabur Puja yang diinisiasi oleh Yayasan Damandiri, ibu tiga orang anak, Mutiah (35) bergabung dengan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) Jeruk. Setelah dua tahun menjadi anggota, kini ia bisa menjual makanan ringan khas Betawi, Kembang Goyang hingga ke negara tetangga, Australia.
![]() |
| Mutiah bersama ibunya dan Ketua Posdaya Jeruk, Novita Setiawati. |
Perjuangan yang dilakukan Mutiah untuk mengembangkan usaha hingga dunia internasional itu tidak mudah. Berkat binaan yang dilakukan Posdaya Jeruk serta PKK di Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, ia mulai belajar membuat makanan khas Betawi itu hingga layak jual dan memiliki aneka rasa yang bisa memikat pelanggannya.
Walau begitu, wanita ini mengaku dalam produksinya ia kekurangan sumber daya manusia. Setiap harinya ia hanya bisa memproduksi 28 kemasan kembang goyang. Dibutuhkan tiga kilogram adonan tepung terigu, mentega dan dipadukan dengan bumbu-bumbu masakan yang lainnya untuk menghasilkan kuliner itu.
Sebagai pengusaha industri rumahan yang masih baru, setiap harinya Mutiah dibantu oleh ibunya yang sudah berusia lanjut dalam produksi kembang goyang. Saat memulai produksi, diperlukan waktu yang tidak sedikit dalam memproduksi kembang goyang. Sekurang-kurangnya diperlukan waktu hingga dua jam untuk menyelesaikan satu kilogram kembang goyang.
Mutiah dan ibunya mengaku tidak asal-asalan dalam memproduksi kembang goyang, mereka menjaga kualitas rasa makanan ringan itu agar tidak kehilangan pembeli dan pelanggan. Mereka juga sudah menentukan patokan-patokan yang digunakan dalam produksi kembang goyangnya.
Untuk menjaga rasa yang khas dan enak agar hasil produksi makanan ringan mereka diminati atau bahkan tetap dicari oleh pembeli, mereka menggunakan minyak goreng tertentu, tepung terigu tertentu dan mentega khusus juga. Walau tak mudah tapi itu tetap mereka lakukan dan mereka jaga demi kepercayaan pelanggan.
Sebelum menembus hingga negeri Kanguru, industri rumahan Mutiah itu diawali oleh perhatian ke makanan ringan khas Betawi itu. Kembang goyang cukup diminati masyarakat di Jakarta, khususnya saat sudah memasuki bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri. Akhirnya, dengan pemikiran dan tujuan yang sama, Mutiah dan ibunya bersepakat untuk mengajukan pinjaman melalui Tabur Puja (Tabungan Kredit Pundi Sejahtera) yang diinisiasi oleh Yayasan Damandiri untuk membuka usaha kembang goyang.
Walaupun meminjam uang untuk usaha kecilnya, Mutiah mengaku tidak keberatan dengan program Tabur Puja, karena dengan program itu ia bisa mendapatkan pinjaman dengan cara yang mudah, bahkan tanpa agunan dan mengutamakan kepercayaan sesama anggota yang tak lain adalah para tetangga yang berada di sekitar tempat tinggalnya.
Untuk diketahui, kembang goyang merupakan salah satu kue tradisional khas Betawi. Kue ini dinamakan kembang goyang karena berasal dari bentuknya yang menyerupai bunga atau kembang. Selain itu dalam proses pembuatannya pun adonan harus digoyang-goyang hingga terlepas dari cetakannya dan membentuk kue yang enak dinikmati kala sembari bersantai.
Kembang goyang sendiri dibuat dari tepung beras. Seiring perkembangan zaman, kue ini memiliki tambahan beraneka rasa dan berbagai variasi dalam bentuk. Dalam penyajiannya, kue ini menjadi suguhan yang banyak diminati, bahkan cenderung terkesan wajib untuk disajikan kepada tamu yang tengah bersilaturahim saat hari raya Idul Fitri.
Karena itu, anggota Posdaya Jeruk ini menjadi sangat sibuk saat Idul Fitri. Ia mengaku kewalahan karena banyaknya pesanan makanan ringan khas Betawi ini.
![]() |
| Mutiah sedang menggendong anak bungsu. |
Ia mengaku, saat memasuki Ramadan atau bulan puasa, tidak kurang Mutiah dan ibunya memproduksi kembang goyang sebanyak 6-8 kg setiap hari. Untuk menyiasati kekurangan tenaga pembuat kembang goyang yang permintaannya melonjak saat bulan suci itu, biasanya mereka bekerjasama dengan anggota-anggota Posdaya Jeruk yang lain untuk memenuhi tingginya permintaan pasar.
Jurnalis: Bayu A. Mandreana / Editor: Satmoko / Foto: Bayu A. Mandreana
Source: CendanaNews

