Tingkatkan Kesuburan Tanah, BPTP DIY Giatkan Penyemprotan Dekomposer

RABU, 8 MARET 2017

YOGYAKARTA — Pemanfaatan dekomposer dalam proses pengolahan lahan pertanian selama ini masih belum banyak dilakukan oleh para petani. Padahal metode tersebut memiliki banyak manfaat positif bagi lahan pertanian.
Sejumlah petani melakukan penyemprotan dekomposer di lahan persawahan
Untuk menggalakkan pemanfaatan dekomposer di kalangan petani, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan DIY menggelar Gerakan penyemprotan biodekomposer, bertempat di Kecamatan Imogiri Bantul, Rabu (8/3/2017). 
Gerakan penyemprotan biodekomposer ini juga merupakan salah satu bagian dari kegiatan demplot Jajar Legowo Super. Kegiatan yang dipusatkan di dusun Kanten desa Kebonagung Kecamatan Imogiri Bantul, ini dihadiri kelompok tani serta sejumlah perangkat desa setempat. 
“Dekomposer merupakan organisme pengurai yang dapat mempercepat penguraian limbah dari organisme lain dalam hal ini sisa hasil pertanian. Membuat tanah kaya akan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman,” ujar peneliti BPTP DIY, Arlyna Budipustika. 
Peneliti BPTP DIY, Arlyna Budipustika
Selain dapat menghemat waktu persiapan tanam, pemanfaatan biodekomposer ini juga dapat meningkatkan kualitas kompos, sumber pupuk organik pada tanaman. Tak hanya itu penggunaan biodekomposer juga aman digunakan dan bersahabat dengan lingkungan, serta dapat menjaga kesuburan tanah dan mempertahankan kadar bahan organik.
“Kegiatan penyemprotan dekomposer ini menggunakan produk Agrobiocomp yang merupakan produk dari Badan Litbang Kementerian Pertanian. Agrobiocomp merupakan dekomposer yang mengandung fungi dan bakteri pendekomposisi atau pengurai biomas tanaman yang ramah lingkungan, serta dapat mempercepat proses pengomposan limbah pertanian,” katanya. 
Sejumlah petani melakukan pembuatan dekomposer 
Dijelaskan, aplikasi penggunaan biodekomposer ini juga tergolong sangat mudah, yakni cukup dengan melarutkan setengah kilo produk agrobiocomp disemprotkan pada satu ton sisa hasil pertanian atau tunggul jerami. Setelah satu minggu atau dua minggu, baru kemudian dilakukan pengolahan tanah bajak dan garu. Setelah itu lahan pertanian siap digunakan. 

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...