Sambal Mentah dan Matang, Sajian Khas di Warung Penyetan

SABTU, 18 MARET 2017

LAMPUNG — Hujan rintik sepanjang hari tak menyurutkan Rosa (45), membuka warung tenda miliknya yang berdiri tepat di Jalan Lintas Sumatera KM 69 Lampung Selatan, di depan Kantor Kepolisian Sektor Penengahan. Warung tenda Rosa menjadi salah-satu warung tenda yang berjajar dengan rapi di antara beberapa warung tenda lainnya yang menyajikan makanan seperti pecel lele, ayam goreng, bebek goreng, nasi goreng dan lainnya.

Bebek goreng dengan sambal mentah

Warung tenda yang sebagian dominan buka sejak sore hingga dini hari tersebut rata-rata menyajikan sajian sambal khas yang menemani pelanggan menikmati berbagai sajian makan malam. Warung tenda milik Rosa yang sudah berdiri sejak 5 tahun terakhir, menyajikan menu khas sambal matah atau mentah dengan rasa khas terasi, tomat dan cabai merah pedas yang dituangkan dalam piring sebagai teman makan ayam penyet.

Tak puas dengan ayam penyet dan menyukai selera lain, pecel lele, bebek goreng pun disiapkan untuk konsumen yang sebagian merupakan warga lokal serta sebagian merupakan para pengendara yang berhenti saat akan menuju ke Pelabuhan Bakauheni dari Bandarlampung dan sebaliknya. “Kami buka sejak sore dan kalau cepat sampai malam sudah tutup, terutama saat kami kedatangan banyak konsumen dan stok ayam, bebek serta ayam dan bebek selalu habis,” terang Rosa, saat ditemui Cendana News di bilangan Jalan Lintas Sumatera KM 69 Lampung Selatan, Sabtu (18/3/2017), malam.

Sambal matang buatan Warji

Menurut Rosa, cita rasa khas sambal yang disajikan sama seperti pada sajian sambal lainnya dengan bahan bawang merah, bawang putih, tomat serta terasi serta penyedap rasa rahasia yang membuat sambalnya berasa nikmat.

Aroma khas sambal yang langsung membuat lidah ingin mencecapnya. Sambal mentah dengan rasa tomat yang masih mentah menjadi ciri khas sambal mentah dengan sajian khas masih terasa kecut, namun memberi sensasi nikmat saat disantap bersama ayam goreng yang bisa dipenyet atau disuwir-suwir dengan tangan.

Khusus untuk sambal mentah yang menggigit dan terasa nikmat tersebut, dengan satu porsi ayam penyet, Rosa memberikan harga sekitar Rp13.000, sementara untuk bebek ia memberi harga sekitar Rp18.000 dan untuk lele penyet dihargai Rp10.000. Selera konsumen yang berbeda dengan sambal yang khas membuatnya menyiapkan sebanyak 5 ekor ayam, 3 ekor bebek dan puluhan ekor ikan lele yang siap digoreng dengan jumlah sekitar 25 porsi, dan selalu habis.

Sementara itu, tak jauh dari warunhg milik Rosa, berjarak sekitar beberapa ratus meter masih di ruas jalan yang sama, terdapat sebuah warung tenda dengan nama Ragil Lamongan dengan ciri khas gambar ayam, bebek, dan lele menghiasi “geber” atau spanduk berjualan.

Warung Ragil Lamongan merupakan salah-satu warung tenda yang dimiliki oleh Warji (25), pemuda asal Candipuro. Ratusan kilometer mengadu nasib sebagai pebisnis kuliner warung tenda, Warji mengaku sajian khas warung tenda miliknya berupa sajian sambal yang diolah.

Warji

Sebuah cobek besar disiapkan untuk memenuhi hasrat para pemburu kuliner pedas dengan ciri khas sambal matang. Menurutnya, sambal matang yang dimaksud berbeda dengan sambal mentah yang dibuat dengan beberapa bahan masih mentah. “Sambal yang saya buat sama dengan bahan sambal lainnya untuk kuliner ayam penyet, bebek dan lele, hanya saja sambal yang saya buat sudah matang dari rumah dan tomat yang saya gunakan tomat buah, bukan tomat rampai mentah,” terang Warji.

Warji mengatakan, sambal matang dan sambal mentah sama-sama sambal yang pedas, namun bagi beberapa pelanggan memiliki selera yang berbeda. Ia mengaku dalam semalam menyiapkan sekitar 30 porsi untuk semua jenis penyetan di antaranya bebek, ayam, lele dan selalu habis hingga pukul 23.30 WIB atau paling lambat hingga pukul 01:00 WIB dini hari.

Udin (34), salah-satu konsumennya mengaku kerap membeli untuk oleh-oleh keluarganya sepulang dari bekerja, karena sambal matang yang dibelinya bisa awet hingga pagi. Selain itu, ia bisa menikmati sambal tersebut dengan menggoreng ayam atau lele di rumah dengan sambal matang yang dibeli dari tenda Ragil, sementara berdasarkan pengalamannya jika sambal mentah tidak bisa bertahan lama jika disimpan dalam kulkas, sehingga ia lebih menyukai sambal matang.

Ragil mengaku, meski harga cabai merah dan cabai rawit sempat mahal, takaran sambal matang yang dibuatnya tetap pedas. Ia juga tak menaikkan harga.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Lihat juga...