Posdaya, Program Pemberdayaan Berbasis Riset

SABTU, 18 MARET 2017

YOGYAKARTA — Berkembang dan berhasilnya Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di wilayah DIY, tak bisa dilepaskan dari peran perguruan tinggi. Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) yang dimiliki, Perguruan Tinggi turut membantu membentuk dan mengembangkan Posdaya di masyarakat. Salah-satunya, LP2M Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta. 

Kepala LP2M UST, Dra. Siti Rochmiyati, M.Pd.,

Bersama sejumlah perguruan tinggi lainnya, sejak 2008 LP2M UST Yogyakarta bekerjasama dengan Yayasan Damandiri telah aktif memberdayakan masyarakat melalui Posdaya di berbagai wilayah DIY, baik di Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Kulonprogo, Sleman maupun Gunungkidul. Pemberdayaan dilakukan terkait bidang pendidikan, lingkungan, kesehatan maupun ekonomi kewirausahaan.

Kepala LP2M UST, Dra. Siti Rochmiyati, M.Pd., menyatakan, melakukan pembentukan dan penguatan Posdaya dengan memanfaatkan program KKN Tematik mahasiswa. Tak hanya itu, pengembangan Posdaya juga dilakukan dengan membentuk relawan Posdaya yang terdiri dari dosen maupun mahasiswa.

“Selain lewat KKN Tematik, kita juga memiliki relawan Posdaya. Jadi, ketika kegiatan pendampingan KKN selesai, maka pendampingan akan dilanjutkan oleh para relawan ini. Jadi, lebih intens. Ada puluhan relawan baik dosen maupun mahasiswa dari berbagai fakultas yang terjun mendampingi Posdaya, sehingga lebih sinergis dan komprehensif,” katanya.

Wanita yang biasa disapa Atik itu juga menyatakan, sebagaimana ajaran Ki Hadjar Dewantara, perguruan tinggi memiliki kewajiban untuk ikut memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya. Karena itu, melalui LP2M yang dimiliki, UST turut terjun ke masyarakat untuk melakukan upaya pemberdayaan. Posdaya sendiri dipilih untuk mengimplementasikan pemberdayaan di masyarakat, karena dinilai sebagai program paling tepat.

“Posdaya itu sebuah forum silaturahmi tempat bertemunya berbagai kegiatan di masyarakat. Setiap kali ada kegiatan, akan terjadi proses pemberdayaan, inisiasi dan advokasi. Di situ pasti ada kelompok kegiatan yang maju dan tidak. Di situlah masing-masing kelompok kegiatan bisa saling menularkan program dan mencontoh satu sama lain,” katanya.

Selain bisa me-link-kan teori yang diajarkan di kampus dengan kemanfaatan di masyarakat, program Posdaya juga dinilai menjadi sebuah program pengabdian berbasis riset atau penelitian. Pasalnya, tak hanya membuat mahasiswa dapat menerapkan ilmunya ke masyarakat, namun masyarakat juga sekaligus menjadi sumber belajar bagi mahasiswa itu sendiri. “Sehingga ketika para mahasiswa kembali ke kampus, mereka memiliki bahan untuk mengembangkan ilmu atau teorinya itu, agar bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan, dalam menjalankan pemberdayaan masyarakat melalui program Posdaya, LP2M UST banyak melalukan berbagai kegiatan. Misalnya dalam pemberdayaan di bidang pendidikan, LP2M UST menerjunkan langsung mahasiswa atau dosen dari fakultas keguruan dan ilmu pendidikan untuk membentuk dan mendampingi PAUD.

“Konsep pengembangan PAUD kita sedikit berbeda dengan PAUD biasa. Jadi, tidak hanya anak saja yang dibimbing, namun pengantar si anak, baik orangtua atau keluarganya juga kita bombing, agar bisa mendampingi anak ketika berada di rumah. Mulai dari pemberian keterampilan, pelatihan pendidikan anak usia dini, pola asuh, parenting dan lai-lain,” katanya.

Di bidang ekonomi, LP2M UST juga secara konsisten mengadvokasi masyarakat, salah-satunya dengan membentuk Koperasi Posdaya. Agar koperasi tersebut memiliki kontinyuitas, maka LP2M UST menggandeng pihak Pemerintah.

Sementara bidang kesehatan, salah-satu program yang dilakukan adalah dengan membentuk kebun bergizi, sebagai nilai tambah setiap keluarga Posdaya. Yakni dengan memanfaatkan lingkungan pekarangan sekitar dengan tanaman yang bisa memiliki nilai tambah, baik sayur, buah maupun tanaman toga.

“Kita juga membentuk bank sampah di sejumlah Posdaya. Tak sekedar menjual sampah itu, kita juga dampingi masyarakat sebagai mitra, untuk mengolah sampah tersebut menjadi barang kerajinan yang memiliki nilai lebih. Selain itu, kita juga memiliki program lansia peduli generasi, di mana para lansia kita berdayakan agar perduli pada anak usia dini, remaja maupun peduli sesama lansia,” katanya.

Dalam mengembangkan Posdaya di berbagai daerah, lanjut Atik, LP2M UST menerapkan konsep berkelanjutan dengan prinsip tiga lingkaran, yakni lingkaran masyarakat, perguruan tinggi dan pemerintah. Selain memberikan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat, seperti administrasi dan lainnya, LP2M juga menggandeng Pemerintah terkait dalam memberdayakan Posdaya.

“Kita biasanya membentuk Posdaya di wilayah yang masyarakatnya terbuka, serta memiliki apresiasi, kemandirian dan kepartisipasian tinggi. Harapannya ketika Posdaya itu berhasil dan maju, bisa menjadi virus positif bagi kelompok masyarakat di sekitarnya. Ketika kelompok yang maju itu menjadi teladan, mereka juga akan lebih termotivasi, sehingga setiap kelompok akan saling berlomba,” katanya.

Atik mengakui, banyak kendala yang dihadapi dalam melakukan pemberdayaan masyarakat melalui Posdaya. Salah-satunya ketika menemui kelompok masyarakat dengan egoisme cukup tinggi, sehingga tidak mau menularkan keberhasilannya kepada kelompok lain. Selain itu, juga ketika banyak masyarakat yang memiliki mental menengadahkan tangan dan berharap pada bantuan.

“Tapi, justru itulah tujuan kita, yakni untuk mengubah pola pikir masyarakat yang seperti itu. Biasanya kita akan menggandeng tokoh-tokoh masyarakat di kampung atau desa tersebut, agar bisa mengadvokasi,” katanya.

Hingga kini, telah ada banyak sekali Posdaya binaan LP2M UST di DIY. Bahkan dikatakan Atik, sudah ada 1 Posdaya di setiap Dusun di wilayah Kabupaten Bantul. Posdaya tersebut harus tetap terus didampingi agar tetap eksis. Terlebih bagi Posdaya yang masih baru terbentuk. Untuk menjaga agar setiap Posdaya tersebut tetap dapat eksis, pihaknya sendiri telah membuat Forum Posdaya sebagai tempat berkomunikasi, baik itu tingkat desa, kecamatan maupun tingkat kabupaten.

“Saat ini semakin banyak juga perguruan tinggi di DIY yang ikut terlibat dalam pemberdayaan masyarakat melalui Posdaya. Jika pada 2008 baru ada 3 perguruan tinggi, saat ini sudah ada 14 perguruan tinggi yang berkomitmen membentuk dan mengembangkan Posdaya. Ada dua korwil, yakni UGM dan UIN Sunan Kalijaga,” katanya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...