JUMAT, 31 MARET 2017
LAMPUNG — Meski terkesan barang bekas namun pedagang pakaian layak pakai di pasar Desa Belambangan Kecamatan Penengahan masih tetap dicari masyarakat dari berbagai kecamatan di Lampung Selatan.
![]() |
| Pembeli tengah memilih berbagai jenis pakaian |
Agus Nawan (37) dan isteri, Afridalena (36) sejak beberapa tahun lalu berjualan di sejumlah pasar di Kabupaten Lampung Selatan diantaranya di pasar Sukaraja Kecamatan Palas, Pasar Belambangan Kecamatan Penengahan dan Pasar Blangah Kecamatan Sragi.
Ia menyebut konsumen yang setia kerap menyebut dengan sebutan barang “Batam” yang merupakan asal pakaian yang dijual, meskipun sebagian barang berasal dari Bandung hingga Singapura dengan sistem karungan.
Khusus untuk selimut, tutup kasur membeli dalam jumlah satu bal dengan harga Rp5 juta dengan jumlah kisaran 200 lembar dengan harga satuan dijual dengan harga Rp75ribu hingga Rp100ribu dan ia mengaku mengambil keuntungan Rp15-20ribu per lembar.
![]() |
| Agus Nawan penjual pakaian bekas layak pakai di pasar Belambangan |
Sementara untuk jenis pakaian mulai dari celana dan baju anak anak, jaket, sweater ia mengaku membeli dengan jumlah sekitar 5 ball dengan harga berkisar Rp7 juta hingga Rp8 juta dan dijual bervariasi dengan harga mulai dari Rp10.000 hingga Rp100ribu yang banyak diminati oleh kaum ibu rumah tangga dari beberapa wilayah.
“Meski barang bekas namun modal untuk belanja barang bekas ini dapta mencapai puluhan juta dan saya sudah menekuni bisnis ini karena memang sejak orangtua juga bisnis di bidang jual pakaian bekas,” ungkap Agus Nawan penjual pakaian bekas di pasar Belambangan Kecamatan Penengahan saat dikonfirmasi Cendana News di lapak miliknya, Jumat (31/3/2017)
Ia bahkan menyebut meski hanya pakaian bekas namun konsumen yang membeli bukan hanya dari kalangan ekonomi menengah ke bawah dari beberapa pedesaan namun juga dari kalangan menengah ke atas yang membeli dalam jumlah banyak karena harganya relatif murah.
![]() |
| Afridalena baju merah menawarkan pakaian bekas layak pakai |
Sang isteri Afridalena yang setia mendampingi sang suami berjualan pakaian bekas layak pakai tersebut mengakui kerap menemui ibu rumah tangga yang membeli pakaian untuk anak anaknya dalam jumlah banyak. Beberapa di antaranya memilih membeli di lapak miliknya karena dengan membawa uang Rp100ribu hanya akan memperoleh beberapa potong pakaian di toko bermerek, sementara membeli di lapak pakaian bekas miliknya ia bisa membeli dalam jumlah banyak.
“Kita juga ikut membantu masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang ingin membelikan baju baju berkualitas dan bagus tak kalah dengan membeli di toko baju,”terang Afridalena.
Konsumen dengan jumlah mencapai ratusan orang saat hari pasaran pada hari Rabut, Jumat dan Minggu tersebut diakui Afridalena dalam satu hari bisa mendapatkan omzet sekitar Rp2juta dan didominasi oleh kaum perempuan dan ibu rumah tangga dari berbagai kecamatan di Lampung Selatan.
Santi (29) wanita asal Kalianda yang terlihat dari kalangan menengah mengaku membeli pakaian untuk anak anaknya meski ia tinggal di dekat pasar Inpres kota Kalianda karena baginya membeli pakaian bekas layak pakai bisa lebih menghemat dan mutunya tidak kalah dengan barang dari toko.
“Kalau kualitas sebagian bagus namun saya senang beli di sini karena saya juga tidak kenal dengan orang-orang di pasar ini karena jauh dari rumah,” ungkapnya sambil memilih baju anak anak.
Sekali belanja untuk pakaian dewasa dan pakaian anak anak ia bahkan menghabiskan sekitar Rp200 ribu dan bisa mendapatkan puluhan stel baju untuk beberapa ukuran dan jenis. Padahal dengan uang yang sama hanya bisa memperoleh sedikit baju di toko.
Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

