JAKARTA—Wilayah Kelurahan Rawa Jati, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan merupakan daerah subur bagi pedagang makanan baik menggunakan kios maupun rumahan. Salah satu pelaku usaha kuliner di sana adalah Nita Hertuty, seorang ibu rumah tangga kelahiran Jakarta, 18 Maret 1971.
![]() |
| Nita Hertuty. |
Nita berasal dari keluarga yang keadaan ekonomi menengah ke bawah. Sama seperti keluarga lain yang tinggal di pemukiman padat penduduk, ayah dan ibu Nita harus berjuang setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Dengan perjuangan keras kedua orangtuanya di Jakarta, Nita tumbuh sebagai remaja perempuan cerdas di tempat tinggalnya di RW 02, Kelurahan Rawa Jati. Ketika ia duduk di bangku kelas II SMP Negeri 163 Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Nita menerima Beasiswa Supersemar pada 1986.
“Namanya masih anak-anak, saya kaget ketika dipanggil Kepala Sekolah dan disebutkan menerima fasilitas Beasiswa
Supersemar selama satu tahun penuh. Rasa senang, bingung, dan terkejut, campur aduk pokoknya perasaan kala itu,. Saya kemudian memberitahu orangtua di rumah,” kenang Nita.
Keesokan harinya, orangtua Nita datang ke sekolah dan meminta penjelasan Kepala Sekolah. Ternyata memang benar adanya Nita mendapat Beasiswa Supersemar sebagai anak yang dinilai cerdas di sekolah karena selalu masuk urutan tiga besar setiap menerima rapor.
“Pencairan Beasiswa Supersemar waktu itu seingat saya diambil bapak melalui sebuah bank di wilayah Jalan Cut Meutia, Jakarta. Setelah itu, selama satu tahun penuh hingga lulus SMP, saya sekolah gratis dengan biaya sepenuhnya ditanggung Yayasan Supersemar,” tutur Nita.
Karena biaya sekolahnya sudah ditanggung Yayasan Supersemar, ibunda Nita akhirnya bisa lebih mengembangkan usaha kue keringnya di rumah. Uang yang seharusnya untuk biaya sekolah, dialokasikan ibunya untuk modal mengembangkan usaha kue kering. Nita juga turut membantu sang ibu membuat kue setiap pulang sekolah. Dari rutinitasnya itulah Nita menjelma sebagai pembuat kue kering ketika dewasa.
Ketika lulus Sekolah Menengah Atas, Nita memilih bekerja sambil terus membuat kue bersama sang ibu. Hingga kini sampai dia menikah dan dikaruniai satu orang anak, usaha itu terus berlangsung, Suami Nita ternyata terus mendukung kegiatannya.
“Awalnya suami tidak setuju. Lalu saya terangkan sama dia bahwa hasil dari membuat kue bisa mendongkrak pendapatan keluarga. Untuk menjajakannya tidak terlalu menyita waktu karena saya masih sempat merawat anak di rumah. Lambat laun suami mengerti bahkan ikut menjajakan kue buatan saya kepada teman-temannya di kantor,” imbuhnya.
Kue kering buatan Nita biasanya terdiri dari Nastar nanas dan durian, Puteri salju, dan lain sebagainya. Nita juga berhasil membuktikan kepada suaminya bahwa bisnis kue kering bisa mendongkrak pendapatan keluarga. Setiap moment hari raya keagamaan, baik itu Idul Fitri, Natal, bahkan sampai Tahun Baru, Nita mampu meraup omzet sampai Rp17 juta untuk 200 toples kue dagangannya.
“Untuk sehari-hari, saya standar memproduksi kue sebanyak sepuluh toples. Alhamdullilah semuanya laku terjual pada hari itu juga. Lumayan untuk menambal kebutuhan hidup sehari-hari. Namun hujan rejeki memang terjadi setiap hari raya keagamaan dan menuju tahun baru. Bahkan bulan puasa juga sudah mulai ramai pemesanan,” pungkas Nita.
Saat ini Nita mulai mengembangkan usaha kue kering rumahannya dengan membuat roti. Masih mencoba tapi produksi roti buatan Nita mulai rutin dan cara penjualannya dengan menitipkan ke setiap warung yang ada di wilayah Kelurahan Rawa Jati.
Seorang rekan Nita, pengurus Koperasi simpan pinjam di RW 02 Rawa Jati bernama Henny Anggraeni, banyak menjadi saksi perjalanan Nita sebagai pedagang kue yang cukup ulet. Bahkan Nita juga enjadi salah satu nasabah Koperasi yang dikelola Henny.
“Saya sudah lama kenal Nita. Dia itu ulet sekali kalau menyangkut urusan membuat dan menjajakan kue. Untuk mengembangkan usaha roti dan parsel kue kering, Nita bergabung dengan Koperasi agar mendapat tambahan modal usaha,” ungkap Henny.
![]() |
| Kue produk Nita Hertuty. |
