Monumen dan Makam Raden Intan II di Lampung Selatan

SABTU, 11 MARET 2017

LAMPUNG — Monumen Raden Intan II di Desa Gedongharta, Kecamatan Penengahan, dan sebuah makam yang ada di lokasi benteng yang dikenal dengan Benteng Cempaka di kompleks makam tersebut, pada beberapa bagian pondasi mengalami kerusakan. Meski demikian, pada beberapa bagian pondasi dan pagar depan itu perbaikan telah dilakukan untuk pemeliharaan situs sejarah perjuangan Pahlawan Nasional asal Provinsi Lampung tersebut.

Gerbang depan Benteng Cempaka

Menurut juru pelihara atau juru kunci situs perjuangan Raden Intan II, M Yusuf (52), kompleks tersebut saat ini terdiri dari bekas benteng, parit-parit perlindungan, taman, bangunan aula berupa rumah panggung, lokasi penyimpanan benda-benda peninggalan Raden Intan II yang ditemukan dalam benteng tersebut serta makam Raden Intan II. Yusuf dan istrinya, Nuraini (45), yang hingga kini dengan setia menjaga kompleks makam Raden Intan II tersebut, mengaku upaya pemeliharaan telah dilakukan meski akibat dimakan usia beberapa bagian bangunan di kompleks makam dan monumen Raden Intan II menjadi rusak.

Bangunan rumah panggung yang dibangun beberapa waktu lalu pada beberapa bagian pagar rusak dan memerlukan pembenahan, meski ia mengakui saat ini pengelolaan berada di bawah Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten (BPCBB) yang membawahi empat wilayah kerja, yakni Banten, Jakarta, Jawa Barat dan Lampung. “Kalau selama ini memang untuk pemeliharaan masih dari pusat. Tapi, bukan tidak mungkin bantuan atau upaya pemeliharaan diperoleh dari pemerintah daerah serta pihak lain yang peduli pada potensi cagar budaya,” terang Yusuf, saat ditemui Cendana News, Sabtu (11/3/2017).

Yusuf mengatakan, cagar budaya sekaligus warisan dan tempat wisata religi makam Raden Intan II telah mengalami berbagai upaya perbaikan dan kini mulai banyak dikunjungi oleh berbagai pihak, terutama mahasiswa, pelajar, peneliti, dan peziarah. Selama ini, cagar budaya yang ada di Lampung Selatan tersebut lebih dikenal sebagai lokasi ziarah bagi warga wilayah Lampung dan Banten, yang melakukan peziarahan untuk mengenang perjuangan pahlawan asal Lampung tersebut.

Monumn Raden Intan II

Yusuf mengungkapkan, hingga kini makam Raden Inten II masih sering dikunjungi para peziarah, baik dari wilayah Lampung maupun dari wilayah Banten. Jumlah kunjungan per bulan mencapai 4000 orang. Sebagian besar pengunjung seringkali datang berombongan. Makam dan monuman Raden Intan II, selain menjadi tujuan utama para peziarah juga selalu dikunjungi satu paket dengan destinasi wisata religi lainnya.

Yusuf mengatakan, selain makam pahlawan nasional, destinasi wisata religi yang masih sering dikunjungi rombongan peziarah di antaranya makam Ratu Darah Putih yang ada di Desa Kuripan, Kecamatan Penengahan.

Bersama sang istri, Yusuf mengaku selalu melayani setiap pengunjung yang akan mengetahui lebih banyak tentang sejarah makam dan perjuangan Raden Intan II. Kunjungan peziarah yang sebagian melakukan perjalanan secara rombongan biasanya bersamaan dengan paket wisata alam yang ada di Lampung Selatan. Perjalanan wisata tersebut selain wisata religi, sejarah, juga dilakukan beberapa mahasiswa yang belajar tentang kebudayaan Lampung dan peninggalan sejarah Sriwijaya yang ada di Lampung.

“Setiap akhir pekan, peziarah datang dari provinsi Banten, karena kita tahu sejarah Raden Intan II nenek-moyangnya berasal dari Banten dan selain mengunjungi makam Raden Intan, peziarah juga mengunjungi makam Ratu Darah Putih,” ungkap Yusuf.

Yusuf mengungkapkan lagi, wisata religi bisanya dilakukan oleh ibu-ibu pengajian atau pesantren yang ingin melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang dikeramatkan untuk mengambil hikmah dari perjuangan para pendahulu, sekaligus pahlawan. Sebagai juru pelihara, Yusuf dengan sabar memberi penjelasan kepada para pengunjung yang berniat mengetahui sejarah peninggalan Raden Intan II, termasuk area makam yang merupakan sebuah benteng yang dikenal dengan nama Benteng Cempaka, yang di sekitarnya ditumbuhi Pohon Cempaka.

Selain makam yang selama ini menjadi tujuan berziarah, pengunjung juga bisa melihat museum peninggalan masa penjajahan Belanda yang pernah bertempur dengan pasukan Raden Intan II yang bergerilya di lereng Gunung Rajabasa, dan menyisakan Benteng Merambung, Benteng Ketimbang, Benteng Cempaka serta beberapa benteng lain yang digunakan dalam masa perjuangan melawan penjajah Belanda.

M Yusuf

Area makam Raden Inten II, lanjut Yusuf, dipugar sejak 1980 hingga 2000, oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten, dengan melakukan penataan, pembenahan di beberapa titik termasuk pembuatan Monumen Raden Intan II, relief, gerbang serta rumah panggung di area benteng cempaka tersebut.

Perhatian terhadap perjuangan Raden Intan II juga disebut Yusuf cukup banyak, di antaranya dengan adanya pemugaran Monumen Raden Intan II di Kota Kalianda, serta penggunaan Raden Intan II sebagai nama Bandara Udara di Lampung serta nama institut atau perguruan tinggi di Lampung.

Semasa hidupnya, Raden Intan II mendirikan benteng-benteng berupa benteng alam berbentuk gundukan tanah dan parit-parit buatan yang masih bisa dilihat hingga sekarang. Luas area makam ini sekitar 3.750 meter persegi, terdiri dari makam, taman, benteng, rumah informasi dan area parkir.

Peziarah yang datang dari Pulau Jawa pun tak kesulitan, karena hanya berjarak 75 kilometer dari Bakuheni. Pengunjung dari Pulau Jawa, setelah menyeberang ke Bakauheni Lampung sesampainya di Desa Gayam, sebuah plang besar dengan penunjuk arah ke makam Raden Intan II terpasang jelas, demikian juga dari arah Bandarlampung yang hanya berjarak sekitar 167 kilometer.

“Setiap pengunjung kami persilakan mengisi buku tamu, karena rata-rata datang ke rumah informasi untuk melihat peninggalan barang-barang semasa Raden Intan hidup dan pengunjung bisa mencapai ratusan selama sebulan,” ujar Yusuf.

Salah-satu peserta ziarah dari Banten, Umar (44), mengaku datang bersama rombongan ibu-ibu pengajian yang sengaja datang menggunakan minibus. Ia mengaku hendak mengunjungi beberapa destinasi wisata religi di Lampung, di antaranya Makam Syekh Ahmad Hasanudin di kaki Gunung Rajabasa, Makam Ratu Darah Putih, Makam Al-Habib Ali bin Alwi Al Idrus yang berada di Desa Ketapang.

Sebagai umat muslim, Umar mengaku wisata ziarah dilakukan untuk semakin mendekatkan diri pada Sang Pencipta, dengan banyak belajar dari para pendahulu terutama penyebar agama Islam yang rela meninggalkan kampung halamannya hingga rela meninggal di daerah yang dituju.

“Selain mengenal daerah lain secara spritual, perjalanan wisata ziarah dilakukan untuk mendoakan para pendahulu dan belajar untuk semakin beriman dan belajar sejarah masa lalu,” ungkap Umar.

Setelah mengunjungi beberapa tempat ziarah, di antaranya makam pahlawan, Samsiah mengaku pengelolaan dan perawatan tempat-tempat wisata religi tersebut harus selalu dijaga, sebab peninggalan tersebut merupakan kearifan lokal masyarakat setempat. Selain itu, akses jalan menuju tempat wisata religi tersebut hingga kini masih cukup memprihatinkan, terutama menuju makam Ratu Darah Putih yang masih berupa jalan setapak.

Sebagai juru pelihara makam Raden Intan II, Yusuf selalu berharap pemerintah memberi perhatian bagi situs-situs cagar budaya yang ada di Lampung sebagai warisan bagi anak cucu. Selain bisa menjadi simbol perjuangan pahlawan di masa lalu dalam mempertahankan dan merebut tanah air dari cengkeraman bangsa asing, cagar budaya yang kini masih tetap dipertahankan tersebut sekaligus bisa menjadi destinasi wisata religi yang ada di wilayah Lampung Selatan.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Lihat juga...