YOGYAKARTA — Mentri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Muhammad Nasir memproyeksikan Indonesia akan menjadi negara peringkat satu dalam hal publikasi karya ilmiah di kawasan Asia Tenggara pada tahun 2019 mendatang. Hal itu dilakukan dengan mendorong publikasi karya ilmiah para guru besar di Indonesia sebanyak 5000 publikasi setiap tahunnya. Dalam hal publikasi karya ilmiah, Indonesia sendiri saat ini masih berada di urutan ke 4 di kawasan Asia Tengara, di bawah Malaysia, Singapura, dan Thailand.
![]() |
| Mentri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Muhammad Nasir. |
Menurut Menrsitekdikti, masih minimnya publikasi karya ilmiah di kalangan guru besar perguruan tinggi Indonesia saat ini terjadi karena sistim pengawalan, sistem pendampingan maupun sistim anggaran yang dapat mendorong hal itu belum maksimal. Karena itulah pihaknya mengaku tengah berupaya keras memperbaiki dan menyelesaikan persoalan tersebut.
“Kita proyeksikan tahun 2017 ini akan ada penambahan 5000 publikasi. Dengan begitu jumlah publikasi karya ilmiah Indonesia yang saat ini sebanyak 11.279 bisa bertambah menjadi 16.279. Dengan begitu kita bisa mengejar Thailand yang memiliki sekitar 13.000 publikasi,” katanya.
Sementara pada 2018, ia memproyeksikan akan ada tambahan 5000-6000 publikasi sehingga jumlah publikasi Indonesia mencapai sekitar 22.000 publikasi. Dengan jumlah itu, diharapkan Indonesia bisa mengalahkan Singapura yang berada di urutan ke 2 kawasan Asia Tenggara saat ini dengan jumlah publikasi sekitar 17.000.
“Jika satu tahun kemudian publikasi tambah 5.000 lagi, maka pada tahun 2019 jumlah publikasi kita mencapai 28.000. Sehingga kita bisa mengalahkan Malaysia dan menjadi negara dengan angka publikasi tertinggi di Asia Tenggara,” katanya.
Untuk mewujudkan hal itu, pihaknya sendiri mengaku akan terus mendorong semua guru-guru besar di semua perguruan tinggi se-Indonesia agar menerbitkan karya ilmiah. Yakni dengan mewajibkan setiap guru besar melakukan minimal 1 publikasi setiap tahunnya. Ia juga mengaku hinga saat ini belum mencabut tunjangan bagi guru besar. Meskipun masih meninjau untuk tingkat lektor kepala.
“Kita akan terus dorong. Guru besar minimal harus melakukan 1 publikasi dalam satu tahun. Saya kira itu bukan hal yang sulit. Doktor saja bisa mempublikasikan 5, masak profesor tidak bisa. Apalagi mereka punya mahasiswa S-1 dan S-2. Jadi sangat memungkinkan,” pungkasnya.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Jatmika H Kusmargana