SABTU, 11 MARET 2017
LAMPUNG — Kue jejorong adalah kue khas Lampung yang biasanya lebih banyak ditemui di Bulan Ramadhan, karena mengandung unsur rasa manis dan asin, dengan aroma khas daun pandan. Dibuat dengan cara sederhana, namun kaya nutrisi dan bergizi.
![]() |
| Kue jejorong |
Sebagai kue tradisional yang lebih sering ada pada bulan Ramadhan, kue jejorong pada hari-hari biasa sulit ditemui. Namun, seorang pedagang kue tradisional di Dusun II Penengahan Pios, Desa Buah Brak, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Pety Siti Fatimah (34), menjajakannya setiap hari. Karena memiliki rasa manis, kue jejorong banyak dibeli pada siang hari. Rasa manisnya bisa menawarkan rasa lelah dan jengah.
Pety yang ditemui di kawasan SPBU Penengahan, Sabtu (11/3/2017), mengatakan, kue jejorong dibuat dari tepung beras. Setelah proses pengolahan, sebuah wadah berukuran kecil yang dibentuk bulat dari daun pisang disiapkan. Pada lapisan terbawah, cairan gula aren dituangkan, selanjutnya pada lapisan atasnya dituangkan adonan tepung beras yang sudah dicampur daun pandan berwarna hijau dan beraroma wangi.
Selanjutnya, lapisan paling atas tepung beras dengan rasa asin dan hambar, dituangkan. Sesudah menjadi beberapa lapis, lalu dikukus hingga matang. “Memakannya menggunakan sendok, harus pelan-pelan untuk mendapatkan cecapan rasa berbeda, bagian atas asin, hambar, makin ke bawah manis dan wangi, dan terakhir dahaga terobati dengan adanya cairan gula merah dari aren yang manis,” kata Pety.
Rasa unik, kaya gizi dan istimewa kue jejorong itu, membuatnya lebih sering disajikan sebagai menu buka puasa di Bulan Ramadhan. Namun, guna mengobati rasa kangen para konsumen, ia selalu membuat kue jejorong setiap hari dan menjajakannya setiap hari. “Saya dan sebagian pelanggan juga telah melakukan survei, dari sekian banyak pedagang keliling kue tradisional, hanya saya yang masih menjual jejorong. Kalaupun ada lainnya, hanya ada pada bulan Ramadhan saja,” ungkap Pety.
![]() |
| Pety, penjual kue tradisional keliling |
Sementara itu, salah-satu pelanggannya, Andi (40), mengakui jika Pety merupakan satu-satunya penjual kue tradisional di Kalianda yang masih bertahan. Andi mengatakan, sulit untuk mendapatkan kue-kue tradisional di pasar tradisional yang jenisnya cukup terbatas, karena biasanya hanya gorengan, serabi, nagasari serta jenis kue lain.
Andi yang yang bekerja sebagai karyawan SPBU tersebut, menyukai jejorong saat cuaca panas, karena jejorong merupakan makanan yang mengandung rasa manis. Terlebih bisa dimakan setelah menyantap makanan lain, seperti otak-otak ikan, bumbu kacang, berikut mpek-mpek dan bakso ikan bakar.
Di sisi lain, hobi Andi menyantap kue tersebut memberi rejeki bagi Pety, karena saat Pety ada di SPBU, puluhan pelanggan lain yang semula tak mengetahui kelezatan kue-kue tradisionalnya, ikut membeli. Selain jejorong, Pety pun juga menjual beragam kue tradisional lainnya dengan rasa yang khas dan mengenyangkan, dan bahkan sulit dijumpai di tempat lain. Karenanya, kehadiran Pety dengan kue-kue tradisionalnya selalu ditunggu oleh pelanggannya.
Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi
