Hindari Penumpukan Pengunjung, Pengelola Candi Borobudur Dirikan 20 Balai Ekonomi Desa

SELASA, 14 MARET 2017

YOGYAKARTA — Sebagai upaya meminimalisir ancaman kerusakan, khususnya keausan lantai pada bangunan candi, pihak pengelola Candi Borobudur akan memerapkan visitor management atau pengelolaan pengunjung. Hal itu dilakukan dalam rangka membatasi serta menyebar atau memecah pengunjung agar tidak menumpuk seluruhnya di bangunan Candi Borobudur. Sehingga diharapkan keaslian bangunan warisan budaya dunia itu dapat selalu terjaga.

Marsis Sutopo.

Kepala Balai Konservasi Borobudur, Marsis Sutopo, menyatakan, kondisi bangunan Candi Borobudur saat ini khususnya pada bagian lantai, mulai mengalami kerusakan berupa keausan. Keausan lantai bangunan candi terutama pada bagian undak-undakan atau tangga itu disebabkan karena secara terus-menerus dilewati oleh pengunjung. Keausan batu candi pada lantai tersebut bila dibiarkan akan semakin parah, sementara hal itu tidak bisa lagi dibenahi.

“Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan pembatasan dan pendistribusian pengunjung. Karena idealnya setiap kali naik itu pengunjung dibatasi hanya 150 orang. Jika sekali naik membutuhkan waktu sekitar 2 jam, maka sehari akan ada 6 shift atau paling tidak sekitar 900-an pengunjung per hari,” katanya.

Dengan banyaknya pengunjung Candi Borobudur setiap harinya, pihak pengelola akan membuat semacam titik-titik destinasi baru di sekitar kawasan Candi Borobudur. Yakni dengan mendirikan sebanyak 20 Balai Ekonomi Desa (Balkondes) di desa-desa sekeliling Candi Borobudur. Di setiap Balkondes ini nantinya akan dibuat tema terkait Candi Borobudur sehingga dapat menarik wisatawan datang.

“Kita sudah membuat 20 Balai Ekonomi Desa atau Balkondes di sekitar Candi Borobudur. Di Balkondes ini nantinya akan dibuat tema-tema tentang Borobudur. Misalnya tentang relief Karmawibangga. Nanti di situ akan ada pemandunya. Sehingga pengunjung yang ingin mengetahui tema itu dapat datang ke sana, tidak perlu panas-panasan ke candi. Di sana pengunjung juga bisa menikmati kuliner dari warga desa setempat,” katanya.

Dengan adanya Balkondes tersebut, diharapkan akan terjadi penyebaran atau distribusi pengunjung. Sehingga tidak semua pengunjung mengumpul di satu titik lokasi Candi Borobudur.  Selain itu masyarakat desa di sekitar kawasan Candi Borobudur dari sisi ekonomi juga akan dapat merasakan, karena mereka bisa menampilkan potensi yang dimiliki. Baik dari sisi kuliner, kerajinan, dan lainnya.

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Luar Negeri, Bidang Sosial Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat, Ninik Nuryati, menyatakan, Candi Borobudur merupakan salah satu bangunan warisan budaya dunia asal Indonesia yang memiliki kandungan nilai-nilai dan ajaran luhur yang luar biasa. Karena itu, keberadaan Candi Borobudur harus senantiasa dijaga dan dilestarikan agar dapat dipelajari semua kalangan. Khususnya generasi mendatang, baik itu masyarakat Indonesia maupun masyarakat dunia.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...