RABU, 1 MARET 2017
PADANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mencatat pada Februari 2017, Kota Padang mengalami deflasi sebesar 0,13 persen dan Kota Bukittinggi sebesar -0,45 persen.
![]() |
| Kepala BPS Sumbar Sukardi |
Kepala BPS Sumbar, Sukardi mengatakan, deflasi di Kota Padang terjadi karena adanya penurunan indeks pada satu kelompok pengeluaran yaitu kelompok bahan makanan sebesar -1,97 persen, sementara enam kelompok lainnya mengalami inflasi.
Ia menjelaskan, kelompok yang mengalami inflasi tersebut ialah kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,15 persen. Lalu untuk kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,97 persen. Selanjutnya kelompok sandang sebesar 0,47 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,43 persen, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,21 persen, dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,74 persen.
“Laju inflasi tahun kalender sampai Februari2016 Kota Padang dan Kota Bukittingi masing-masing sebesar 0,43 persen dan -0,23 persen. Laju inflasi year on year (Februari 2017terhadap Februari 2016) Kota Padang sebesar 4,56 persen dan Kota Bukittinggi sebesar 3,60 persen,” ujarnya di Padang, Rabu (1/3/2017).
Disebutkan, dari 23 (dua puluh tiga) kota IHK di pulau Sumatera, 10 kota mengalami inflasi dan 13 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Dumai sebesar 1,12 persen dan terendah terjadi di Kota Batam dan Palembang sebesar 0,02 persen.
“Deflasi tertinggi itu terjadi di Kota Jambi sebesar 1,40 persen dan deflasi terendah terjadi di Kota Bungo 0,02 persen,” jelasnya.
Sementara untuk Kota Padang menduduki posisi ke 11di Sumatera dan ke 17 dari seluruh kota yang mengalami deflasi secara Nasional. Sedangkan Kota Bukittinggi menduduki posisi tujuh dari seluruh kota yang mengalami deflasi di Sumatera dan posisi ke sepuluh secara Nasional.
Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto: Muhammad Noli Hendra