RABU, 8 MARET 2017
MAUMERE — Adanya kejadian belasan murid SDI Wairhubing dan SDK Wetakara yang mengalami mual, pusing dan muntah-muntah usai mengkonsumsi obat Eritromisin yang merupakan obat bagi penyakit Frambusia tidak menyurutkan langkah pihak kecamatan Kangae dan Puskesmas Waipare Kangae untuk terus memberikan obat tersebut.
![]() |
| Camat Kangae Yohanis Yanto Koliwon bersama dr.Herlin Hutauruk sedang mengecek |
“Kami akan terus melakukan pemberian obat ini untuk diminum masyarakat sebab penyakit ini sangat berbahaya dan menular sehingga harus segera diatasi,” ujar camat Kangae, Yohanis Yanto Koliwon kepada Cendana News di Kangae, Rabu (8/3/2017).
Yohanis menjelaskan, pengobatan tetap dilakukan kepada semua masyarakat dan besok mulai dilanjutkan kembali meski adanya kejadian yang menimpa para murid sekolah dasar.
“Setiap obat yang diminum pasti ada dampak ikutannya seperti mengantuk dan lainnya dan kami akan mengimbau agar masyarakat makan kenyang terlebih dahulu sebelum mengkonsumsi obat ini,” tuturnya.
Kepala Puskesmas Waipare, Sofia Yasinta kepada Cendana News mengakui, tahun 2015 ditemukan salah satu penderita di desa Watuliwung sehingga pihaknya meminta kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka untuk membagikan obat tersebut.
Namun lanjut Sofia, karena proses pengadaannya lambat, obat tersebut baru tiba di tahun 2017 sehingga mulai didistribusikan kepada warga dengan cara meminumnya secara massal.
“Kami berikan obat pencegahan secara massal dari anak umur tiga tahun sampai orang tua yang berumur 79 tahun, sebab semua orang yang kemungkinan besar pernah kontak dengan penderita harus diobati karena kemungkinan besar udah tertular,’ ujarnya.
Penyakit Frambusia terang Sofia merupakan penyakit kulit menular menahun dan kambuhan yang disebabkan oleh kuman Treponema Pertenue dan biasanya menyerang anak-anak dengan usia di bawah 15 tahun.
Selain itu lanjutnya, pada fase awal gejalanya berupan benjolan di kulit yang tidak sakit dan berbentuk bulat seperti buah arbei dengan permukaan basah tanpa nanah sedangkan fase lanjutnya gejala lukanya kering kecuali disertai infeksi atau borok.
“Pada fase lanjut dapat megenai telapak tangan, kaki, sendi dan tulang sehingga bisa menyebabkan kecacatan dan bisa diobati juga dengan meberikan suntikan Penicilin,” terangnya.
| Murid SDI Wairhubing yang dirawat akibat pusing dan mual diberikan makanan dan minuman |
Untuk itu Sofia mengimbau agar masyarakat menjaga kebersihan diri dengan mandi teratur memakai sabun, cuci pakaian setiap habis dipakai dantidak memakai pakaian bekas penderita serta hindari kontak langsung dengan penderita.
“Tadi juga kami temukan satu lagi penderita sehingga sudah dua penderita dan ini harus segera diatasi agar tidak menular kepada anggota keluarga dan tetangga lainnya,” pungkasnya.
Jurnalis : Ebed de Rosary / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary