Berkat Bimas Indonesia Dapatkan Penghargaan FAO

KAMIS, 23 MARET 2017
 
JAKARTA — Dalam acara seminar perihal Mewujudkan Kemandirian Pangan dan Kesejahteraan Petani Melalui Pendekatan Sistem Ekonomi Pancasila di Universitas Trilogi Jakarta, Kamis (23/3/2017) juga dilakukan penandatanganan kerja sama antara Universitas Trilogi dengan PT Pupuk Kujang yang ikut peduli dengan ketahanan pangan. Selain penandatanganan kerja sama, Universitas Trilogi juga memberikan hadiah kepada pemenang lomba penulisan Serangan Oemoem 1 Maret, serta pemberian plakat penghargaan dan buku kepada para narasumber yang telah berpartisipasi dalam terlaksananya acara seminar.

Rektor Universitas Trilogi, Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, M.Sc (kanan) dan Ir. Syamsuddin Abbas.

Universitas Trilogi kini sudah memasuki tahun atau usia ke empat. Namun pada usia yang ke empat ini, sudah mendapatkan kepercayaan dari 7 yayasan yang didirikan oleh  Presiden Kedua RI H.M Soeharto untuk selalu mengingatkan bahwa negara yang maju adalah negara yang tak lupa akan sejarahnya. Khususnya dalam hal pangan atau bidang pertanian.

Jejak kesuksesan Pak Harto di bidang pertanian.

Bisa dicatat keberhasilan Orde Baru setelah pada Orde Lama Indonesia sebagai importir beras. Pada tahun 1968, Presiden Soeharto mengadopsi suatu metode yang dibangun pada saat itu oleh mahasiswa Institut Pertanian Bogor. Salah satu dari saksi hidupnya adalah lulusan IPB tahun 1963, yakni Ir. Syamsuddin Abbas. Pada waktu itu, ia ikut berangkat ke daerah Kerawang guna menanggulangi kekurangan padi yang produktivitasnya 2 ton per hektar. Dengan inovasi itu, bisa berubah menjadi 4 ton per hektar dan akhirnya diadopsi oleh negara yang pada saat itu bernama Bimbingan Massal (Bimas).

Pada 1984 Indonesia berhasil mendapatkan penghargaan FAO dengan prestasi swasembada pangan.

“Pada tahun 1984 dengan adanya Bimas, Indonesia mendapatkan penghargaan dari FAO sebagai negara yang menjadi self sufficiency dari masalah beras ini. Bisa dibayangkan dari importir menjadi self sufficiency, dan sekarang kita harus pikirkan kembali masalah ketahanan pangan ini. Jadi, kita harus belajar dari masa lalu, kebaikan-kebaikannya dan tentunya sejarahnya. Namun, apabila kita lupa akan masa lalu, lupa akan sejarah, kita akan sulit untuk maju. Untuk itu, ke depan, bagaimana universitas bisa ikut berperan menyumbangkan soal kemandirian dan ketahanan pangan itu,” jelas Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, M.Sc, Rektor Universitas Trilogi.

Jurnalis: M. Fahrizal / Editor: Satmoko / Foto: M. Fahrizal

Lihat juga...