Agen e-Waroeng Butuh Sosialisasi Lebih

JUMAT, 3 MARET 2017

SEMARANG — Masyarakat berharap penyaluran bantuan sosial dengan sistem Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) bisa lebih baik lagi, lebih tepat sasaran dan lebih banyak pilihan karena pada saat penyaluran beras raskin kualitas berasnya jelek dan pilihannya hanya beras saja. Namun, berbagai kendala masih ditemukan dalam pelaksanaan program BPNT seperti kurangnya sosialisasi, masih minimnya pemahaman agen terhadap program BPNT dan hambatan yang bersifat kondisional. Kondisi ini dikhawatirkan berpotensi dapat menghambat pelaksanaan program.

Staf Ahli Menko PMK bidang Kependudukan, Sonny Harry B. Harmadi (dua dari kanan).

Kondisi ini merupakan beberapa temuan dari hasil Monitoring dan Evaluasi (Monev) kesiapan e-Waroeng dalam pelaksanaan BPNT yang dilakukan oleh Staf Ahli Menko PMK bidang Kependudukan, Sonny Harry B. Harmadi bersama dengan pihak Bantuan Sosial Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) di wilayah Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (02/03/2017).

Minimnya sosialisasi masih menjadi kendala yang dirasakan para pengelola  e-Waroeng. Seperti dituturkan Fitri, warungnya telah menjadi agen Rastra/agen 46 tetapi belum sanggup dan mau menjadi agen Rumah Pangan Kita (RPK). Pengelola warung ‘IbuTuti’ yang terletak di Kelurahan Bojong Salaman, Semarang Barat ini beralasan karena belum ada sosialisasi yang lebih detail dari Bulog serta belum ada informasi lebih lanjut berapa nantinya jumlah beras atau gula yang akan dipasok di warungnya.
“Kalau jumlahnya belum pasti. Kami juga belum siap sebab ini kaitannya dengan tempat penyimpanan stok tersebut,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Sugiarto, pemilik warung Okky yang ada di Kelurahan Gisikdrono, Semarang Barat. Warung miliknya sebenarnya sudah siap jadi agen Rastra/agen 46 bahkan siap juga menjadi agen RPK. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut dari pihak bank BNI maupun dari Bulog terkait dengan pendistribusian beras Bulog Keagen Rastra atau agen RPK.

“Warung saya sudah siap. Tapi, saya belum mendapatkan informasi kapan BPNT akan disalurkan di kecamatan Semarang Barat, serta kapan KPM akan menerima kartunya,” tuturnya.

Berbeda dengan yang lain, bagi Trisni meskipun sosialisasi dirasa masih minim tapi pemilik agen RPK Sumber Rezeki yang terletak di Kelurahan Kalibanteng Kidul, Semarang Barat, mengaku dirinya secara umum sudah siap. Kesiapan untuk menjadi agen RPK karena selama ini pihak Bulog sudah rutin mendistribusikan beras ke RPK ini.

Menanggapi kondisi tersebut Staf Ahli Menko PMK bidang Kependudukan, Sonny Harry B. Harmadi mengungkapkan, pelaksanaan Monev memang merupakan bentuk pelaksanaan koordinasi, sinkronisasi dan pengendalian (KSP) Kemenko PMK terhadap program pelaksanaan BPNT agar berjalan sesuai harapan.

“Dengan terjun langsung ke lapangan kami bisa secara cepat menemukan masalah serta cepat pula menemukan solusinya. Kami juga bisa merasakan kesusahan yang dialami masyarakat,” ujarnya.

Dari hasil terjun di lapangan ini, tambah Sonny, terungkap bahwa masyarakat sangat berharap penyaluran bantuan sosial dengan sistem BPNT bisa lebih baik lagi, lebih tepat sasaran dan lebih banyak pilihan karena pada saat penyaluran beras raskin kualitas berasnya jelek dan pilihannya hanya beras saja.

“Nah dengan sistem BPNT ini KPM punya beberapa pilihan untuk memilih sembako yang dibutuhkan, bisa beras, gula, minyak atau terigu, atau bisa juga diambil saat membutuhkan karena memang dana yang ada di dalam KKS tidak akan hangus,” jelasnya.

Sonny juga mengungkapkan, monev yang dijalankan kali ini terbagi dalam beberapa tim, yaitu tim yang menyasar agen Rastra atau Agen 46 dan Agen Rumah Pangan Kita (RPK), tim yang menyasar keluarga penerima manfaat (KPM) dan tim yang menyasar KUBE-PKH dan e-Waroeng.

Jurnalis: Shomad Aksara / Editor: Satmoko / Foto: Deni AM

Lihat juga...