SELASA, 21 FEBRUARI 2017
YOGYAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat tren terjadinya bencana di Indonesia terus meningkat sejak beberapa tahun terahir. Jika pada tahun 2015 jumlah bencana hanya mencapai 1732, namun pada tahun 2016 jumlah bencana di Indonesia meningkat hingga 60 persen lebih atau mencapai 2.384 bencana.
![]() |
| Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangilei, (kiri). |
Peningkatan bencana tersebut antara lain dipengaruhi oleh faktor alam seperti perubahan iklim maupun kondisi lingkungan yang disebabkan faktor perilaku manusia seperti degradasi lingkungan, munculnya pemukiman di daerah rawan bencana, DAS kritis, tingginya urbanisasi, dan sebagainya. Akibat seringnya bencana tersebut, negara bahkan harus mengalami kerugian sebesar Rp 30 triliun setiap tahunnya.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangilei, mengatakan, 90 persen bencana yang terjadi di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi atau bencana yang terkait dengan cuaca dan pengelolaan air. Salah satunya adalah bencana banjir yang tercatat sebagai bencana yang paling banyak terjadi di tahun 2016 hingga 775 kali. Bencana banjir bahkan meluas di beberapa daerah yang tidak pernah mengalami banjir sebelumnya seperti di Garut, Pangkal Pinang, Kota Bandung, Kota Bima, Kemang Jakarta dan sebagainya.
“19 juta masyarakat Indonesia terancam banjir dan longsor akibat hujan yang terjadi sepanjang bulan Januari-Februari 2017. Sementara ada sekitar 175 ribu masyarakat yang terdampak,” ujarnya dalam kuliah umum Penanggulangan Bencana dan Tantangannya di Indoensia bertempat di di Ruang Multimedia Kantor Pusat UGM, Selasa (21/02/2017) siang.
Dalam kesempatan itu Willem mengatakan, sebagai negara rawan bencana, bahkan penduduk Indonesia tinggal di kawasan rawan bencana. Pihaknya mencatat ada sebanyak 148,4 juta warga Indonesia tinggal di daerah rawan gempa bumi, 63,7 juta jiwa di daerah rawan banjir, 40,9 juta jiwa tinggal di daerah rawan longsor, 5 juta jiwa di daerah rawan tsunami, serta 1,2 juta jiwa di daerah rawan erupsi gunung api.
“Terdapat 386 kabupaten/kota di Indonesia yang berada di zona bahaya gempa bumi. Ada 315 kabupaten/kota berada di daerah bahaya banjir, 274 kabupaten/kota di daerah bahaya bencana longsor. Ada 233 kabupaten/kota berada di daerah rawan tsunami, dan 75 kabupaten/kota terancam erupsi gunung api,” katanya.
Berdasarkan catatan sepanjang tahun 2016, kejadian bencana dikatakan paling banyak terjadi di provinsi Jawa Tengah dengan sebanyak 639 kali bencana. Diikuti Jawa Timur dengan 409 kali bencana, Jawa Barat 329 kali bencana, Kalimantan Timur 190 kali bencana dan pemerintah Aceh 83 kali bencana. Sementara sebaran kejadian bencana di tiap kabupaten/kota tertinggi terjadi di Cilacap sebanyak 100 kali, Magelang 56 kali, Wonogiri 56 kali, Banyumas 53 kali, dan Temanggung 50 kali.
“Karena itu perlu upaya penanggulangan bencana untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa dan kerugian akibat bencana. Yakni dengan menjauhkan masyarakat dari bencana, menjauhkan bencana dari masyarakat, serta hidup secara harmonis dengan bencana. Upaya penanggulangan bencana ini tentu sangat membutuhkan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan swasta termasuk perguruan tinggi,” katanya.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana