Meski Sudah Tua, Mbah Mamik Masih Kreatif

SELASA, 21 FEBRUARI 2017

PACITAN — Berkreatifitas tidak memandang usia. Sepertinya hal inilah yang menjadi pegangan Mbah Mamik (68), warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Pacitan. Mbah Mamik membuat seni kreatif dari bahan dasar limbah gabus atau stereofoam bekas yang diubah menjadi lambang negara, Garuda Pancasila, atau gunungan wayang dan ornamen naga sesuai pesanan konsumen.

Mbah Mamik dan gabus yang diolahnya menjadi barang seni.

Kakek satu orang cucu ini saat ditemui menjelaskan, usahanya itu pada awalnya karena keisengannya mengumpulkan gabus bekas dari para nelayan dan pedagang buah. Berkat ide kreatifnya, ia pun mengubah gabus-gabus itu menjadi berbagai bentuk karya yang dapat dijual lagi. “Gabus-gabus itu diberikan kepada saya secara gratis, tidak dipungut biaya,” terangnya kepada Cendana News, Selasa (21/2/2017).

Menurutnya, gabus-gabus itu merupakan limbah yang berbahaya, sehingga harus pandai- pandai mengolahnya, agar bisa bernilai ekonomi lagi. Karena jika gabus ini ditimbun ke tanah, bisa merusak mikro organisme yang ada di dalam tanah, dan jika dibakar, udara yang dihasilkan dari sisa pembakaran bisa membahayakan. “Jadi, saya olah menjadi barang kreasi, meski butuh ketelatenan dan kesabaran yang tinggi, beruntung peminatnya masih banyak hingga saat ini,” katanya.

Mbah Mamik mematok harga sesuai dengan ukuran dan tingkat kerumitan kerajinan gabus yang dibuatnya. Untuk lambang Garuda Pancasila berukuran 50 centi meter, dijual seharga Rp. 150.000. Sementara, gunungan wayang dijual cukup mahal, mencapai Rp. 1,5 Juta. Maklum, waktu dan fokus yang tersita cukup banyak, agar garapan gunungan wayangnya detil. “Proses pengerjaannya mulai dari nol sampai finishing bahkan memakan waktu empat hari,” terangnya.

Mbah Mamik mengaku, ia juga melayani pemesan yang berasal dari luar Pacitan seperti Surabaya, Yogyakarta hingga Jakarta. Disinggung soal pendapatan yang diperolehnya dari hasil mengolah limbah gabus, Mbah Mamik tak malu-malu mengakui jika hasilnya mencapai jutaan rupiah. “Yang jelas, cukup buat makan dan kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya.

Jurnalis: Charolin Pebrianti/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Charolin Pebrianti

Lihat juga...