Teh Talua Kawa dan Limo Lenggek, Variasi Minuman Khas Minang

SABTU, 25 FEBRUARI 2017

PADANG — Kuliner di ‘Ranah Minang’ memang tiada habisnya. Bagi masyarakat Sumatera Barat, teh talua (Teh Telur) bukanlah sebuah hal yang baru. Karena ada sebagian bapak-bapak menjadikannya sebagai minuman di pagi hari. Harganya juga tidak mahal, hanya setara dengan harga sepiring lontong gulai, yaitu Rp8.000 untuk satu gelasnya. 
Teh talua kawa yang disajikan di dalam tempurung kelapa
Seiring tahun berlalu, kuliner di ranah minang terus bermunculan dengan rasa khas dan berbagai variasi. Untuk menarik pengunjung, setiap warung memiliki ciri khasnya tersendiri, seperti teh talua kawa hingga teh talua limo lenggek.
Hasil racikan Syofianita, seorang pekerja di Waroeng A+ Padang, yang terletak di Jalan Moh. Hatta, teh talua kawa (daun kopi) menggabungkan telur itik, teh serbuk, gula, dan sedikit kopi menjelma menjadi salah satu minuman yang menarik untuk dicoba dan dinikmati.
“Biasanya orang lain ada yang buat kopi kawa daun, dan saya pikir-pikir bagaimana kalau mencoba kawa itu dicampur untuk teh talua. Buktinya, pemilik waroeng A+ ini suka dengan teh talua kawa itu,” katanya, Sabtu (25/2/2017).
Syofianita tengah meracik teh talua kawa
Ia menjelaskan, untuk membuat teh talua kawa itu tidaklah terlalu sulit. Hanya perlu menyediakan telur itik yang kulitnya berwarna agak kebiru-biruan lalu dipisahkan antara kuning telur dengan putihnya. Setelah dipisahkan, kuning telur itu dimasukan ke dalam gelas, lalu dicampur dua sendok gula pasir, sedikit kopi, setetes vanile, dan sedikit moka.
“Jika semua telah dimasukan ke dalam gelas, saatnya proses pengadukan (dikocok). Untuk proses ini, ada yang menggunakan mesin. Tapi jika mau menunggu lama, bagusnya dikocok menggunakan lidi dari pohon kelapa, maka rasanya akan lebih enak. Butuh waktu sekitar 5 menit, atau tunggu pengadukan itu hingga berwarna dan berbusa,” papar Syofianita.
Setelah proses pengocokan selesai, langkah selanjutnya masukan air kawa (rebusan daun kopi) yang benar-benar panas. Setelah semuanya tercampur, dibagian akhirnya tuangkan susu sekitar satu sendok teh, saatnya untuk menikmati teh talua kawa.
Di akuinya, saat ini belum begitu banyak pelanggan untuk menikmati teh talua kawa tersebut. Karena, hingga saat ini teh talua kawa hanya ada di Waroeng A+, dan belum ada di di warung-warung lainnya. Untuk satu gelas nya teh talua kawa itu, Syofianita menetapkan harganya Rp10.000. 
Teh Telur Limo Lenggek Milik Pak Abu
Tidak hanya soal rasa, tampilan juga memiliki keunikan tersendiri. Seperti halnya sajian warung pak Abu, teh talua limo lenggek (lima tingkat), karena terdapat beragam warna hasil dari adukan teh, telur, dan susu.
Teh talua milim pak Abu
Pelanggan dari pak Abu ini, kebanyakan dari karyawan PT. Semen Padang, karena berada dekat di Jalan Tanah Sirah, Kecamatan Lubeg, atau sekitar delapan kilometer dari Kantor Pusat PT Semen Padang di Indarung. 
“Pada pagi hari di warung saya ini sudah ramai. Hal ini dikarenakan teh talau ini bermanfaat sebagai penambah stamina, jadi pelanggan lebih banyak datang dipagi hari,” katanya, Sabtu (25/2/2017).
Ia menjelaskan, bahan yang digunakan dalam membuat teh talua ini, masih sama dengan bahan pada biasanya, yaitu kuning telur itik, teh serbuk, gula, susu, dan madu. Jadi, yang menyebabkan munculnya tampilan 5 tingkat itu, dari bahan yang dimasukan setelah diaduk dan diberi air panas.
Usaha teh talua lima tingkat ini, sudah ada sejak tahun 1978, yang ketika itu Abu masih duduk dibangku sekolah SMP. Sampai saat ini pun, Abu masih tetap eksis dengan usaha warung teh talua-nya.
Dengan keunikan dan nikmatnya teh talua milik pak Abu itu, dalam sehari ia mampu menjual 200 lebih gelas teh talua, dengan harga Rp9.000. Bahkan, teh talua miliknya itu pernah dipromosikan ke Malaysia pada tahun 2009 lalu, dalam ajang lomba teh telur, yang dibantu oleh Dinas Pariwisata Kota Padang.
“Momen semacam itu sangat membuat saya bangga, karena bisa menampailkan teh talua minuman khas Sumatera Barat ke luar negeri. Dampak dari lomba itu, warung saya jadi semakin banyak pelanggan,” ujar Abu.
Salah seorang pelanggan warung Abu, Roni mengatakan, hal yang paling membuat banyak pelanggan suka dengan teh talua pak Abu, yaitu rasanya yang pas, tidak terasa telurnya, dan benar-benar enak di lidah.
“Saya meminum teh talua di warung pak Abu ini, 3 kali dalam seminggu lah. Karena jika minum setiap hari, bisa sakit pinggang saya,” canda Roni dengan dialeg minang.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto: Muhammad Noli Hendra

Lihat juga...