Sungai Way Pisang Meluap, Sejumlah Desa di Lampung Selatan Terisolir

SELASA, 21 FEBRUARI 207

LAMPUNG — Hujan deras di sejumlah wilayah di Lampung Selatan, ternyata juga menyebabkan air Sungai Way Pisang yang mengalir di Kecamatan Penengahan, Kecamatan Palas, meluap. Sejumlah desa terisolir, dan ratusan warga Desa Sukabakti di Kecamatan Palas, tak bisa berangkat bekerja. Demikian pula dengan anak-anak sekolah. Sementara itu, puluhan petani merugi hingga jutaan rupiah akibat sawah dan perkebunan sayurnya tergenang air.

Ukim menunjukkan sebuah gubuk yang terendam banjir di kejauhan.

Salah-satu warga Desa Sukabakti Kecamatan Palas, Ukim (34), ditemui Selasa (21/2/2017), mengatakan, jika ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk menggergaji kayu di Dusun Lebungbaru, akibat Sungai Way Pisang yang meluap ke daratan hingga ratusan meter dengan ketinggian air mencapai 2 meter.
Baca:
Banjir, Merusak Hektaran Lahan Persawahan di Lampung Selatan
Ukim mengatakan, pada Senin (20/2/2017) sore, hujan belum mengguyur dan jembatan penghubung antar desa yang di atas Sungai Way Pisang selebar 20 meter masih bisa dilintasi. Namu, pada Selasa (2/2/207) pagi, jembatan itu sudah tak bisa dilalui akibat tergenang luapan banjir dengan arus yang cukup deras. Bersama dua orang kawannya, ia pun terpaksa mengurungkan niatnya untuk menyeberangi jembatan. “Rencananya kami akan kerja di seberang sungai, tapi pagi ini air belum surut. Sungai yang semula hanya selebar dua puluh meter menjadi hampir seratus meter dan arusnya sangat deras,” ungkap Ukim.

Sejumlah warga tak melintasi jalan akibat tergenang banjir.

Selain Ukim yang tak bisa bekerja, puluhan siswa sekolah juga terpaksa memutuskan tidak berangkat sekolah akibat jembatan penghubung antar desa itu terputus. Sementara untuk perjalanan memutar membutuhkan waktu lama, dengan jarak tempuh yang jauh hingga puluhan kilometer. Ukim memastikan, banjir akan mengisolir warga selama beberapa hari ke depan, hingga banjir surut dan hujan berhenti.

Sementara itu, meluapnya air Sungai Way Pisang juga menerjang sejumlah dusun lainnya, antara lain Dusun Rantau Makmur. Di dusun ini, luapan Sungai Way Pisang bahkan menerjang ladang para petani, sehingga menimbulkan kerugian hingga jutaan rupiah.

Salah-satu warga pemilik areal perkebunan di bantaran Sungai Way Pisang, Saminah (45), saat ditemui di hari yang sama mengaku mengalami kerugian jutaan rupiah akibat sebagian besar tanaman sayur miliknya hanyut terbawa air. Beberapa sayuran diakui Saminah sempat dipanen sore sebelumnya dan telah dijual ke pasar dan memperoleh uang sekitar Rp. 950.000. Namun, berbagai jenis tanaman sayuran lainnya yang diperkirakan bernilai jutaan rupiah tidak bisa diselamatkan.

Beberapa tanaman sayuran tidak terselematakan, terdiri dari jagung manis seluas setengah hektar, kangkung cabut, bayam cabut, terong, dan cabai merah. Dipastikan, semua tanaman tersebut hanyut, karena ditanam di tanah guludan yang memang rentan terbawa arus sungai. Saminah bahkan sempat menangis, ketika salah-satu anaknya menunjukkan beberapa lahan perkebunannya hancur akibat luapan banjir Sungai Way Pisang.

Saminah mengatakan, selain perkebunan sayur, sebuah gubuk yang biasa digunakan untuk gudang pupuk dan mengumpulkan sayuran saat panen dan alat pertanian juga terendam. Di gubuk tersebut, ada sekitar 2 kuintal pupuk senilai Rp. 500.000 yang blum digunakan, sementara sebuah selang ukuran 200 meter yang biasa digunakan menyiram air dan menyedot air dari Sungai Way Pisang hanyut terbawa air.

Saminah menunjukkan ladang sayur miliknya yang tergenang banjir.

Lahan perkebunan milik Saminah berjarak sekitar 100 meter dari bibir Sungai Way Pisang, dan berada di ketinggian sekitar 5 meter. Namun, intensitas hujan yang sangat tinggi menyebabkan luapan Sungai Way Pisang, naik tinggi. “Sudah pasrah saja saya, apalagi hujan pasti belum berhenti dan luapan sungai ini masih bisa berlangsung seminggu ke depan dan sayuran yang saya miliki dipastikan busuk,” ungkap Saminah.

Selain Saminah, puluhan kebun milik warga yang berada di bantaran Sungai Way Pisang yang ditanami jagung, pisang, lombok juga dipastikan mengalami kerusakan cukup parah, terlebih hujan yang kini masih saja mengguyur sebagian besar wilayah Lampung Selatan.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Lihat juga...