MINGGU, 5 FEBRUARI 2017
LOMBOK — Bagi sebagian masyarakat Lombok, terutama masyarakat sepuh kelahiran tahun enam puluh dan tujuh puluhan sampai sekarang masih memegang teguh adat – istiadat dan nilai kearifan lokal dalam setiap menjalankan aktifitas keseharian, khususnya dalam hal membaca fenomena alam.
![]() |
| Sali, petani dan tokoh masyarakat Desa Banyu Urip, Kabupaten Lombok Tengah NTB |
Dalam membaca fenomena alam, sebagian masyarakat masih menggunakan penanggalan masehi dan penanggalan sasak peninggalan nenek moyang. Meski ada prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, namun penanggalan sasak masih menjadi acuan masyarakat saat hendak bercocok tanam.
Hujan lebat disertai angin kencang yang berlangsung dan mengguyur Nusa Tenggara Barat (NTB) selama beberapa hari belakangan misalkan, oleh masyarakat dipercaya sebagai bulan barat sepuluh-sepuluh berdasarkan perhitungan penanggalan masyarakat Suku Sasak Lombok.
Dalam kepercayaan masyarakat Suku Sasak Lombok, angin barat sepuluh sebagai bulan dimana hujan disertai angin kencang selama sepuluh hari akan terus berlangsung tanpa henti, tapi setelah itu hujan akan berhenti turun.
“Sekarang ini namanya angin barat sepuluh, dimana hujan hanya akan berlangsung selama sepuluh hari, setelah itu hujan akan berhenti turun,” kata Sali petani Desa Banyu Urip, Kbupaten Lombok Tengah (Loteng) kepada Cendana News, Minggu (6/2/2017)
Ia menjelaskan, angin barat sepuluh menurut perhitungan penanggalan bulan Sasak Lombok juga mengakibatkan banyak tanaman padi petani yang rebah, baik yang masih muda maupun yang sudah tua.
Pada bulan sepuluh ini petani biasanya akan disibukkan dengan aktivitas membangunkan padi yang rebah, membuatkan penyangga dari kayu atau tali, supaya buah padi tidak saling menindih dan menyentuh tanah.
“Sebab buah padi yang rebah akibat angin kalau tidak segera dibangunkan dan dibuatkan penyangga akan membusuk dan bisa mengurangi hasil panen,” tutupnya.
Jurnalis : Turmuzi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Turmuzi