IIBF Ajak Pebisnis Muslim Bebas dari Hutang dan Riba

RABU 22 FEBRUARI 2017

MALANG—Membebaskan para  pebisnis muslim dari jeratan hutang dan riba menjadi salah satu program sekaligus tujuan yang ingin dicapai Indonesian Islam Best Forum (IIBF). IIBF sendiri merupakan sebuah komunitas pebisnis muslim yang mempunyai visi  building character and wealth.

Ketua IIBF Malang,  Nashihuddin Al Bila.

“Seperti yang sudah kita ketahui bahwa saat ini kemiskinan terbesar ada pada masyarakat muslim. Jadi dengan visi tersebut kita ingin membangun para pebisnis muslimyang kaya. Karena ketika pebisnis muslim ini kaya maka akan semakin banyak lagi orang yang bisa dibantu untuk dientaskan dari kemiskinan,” jelas Ketua IIBF Malang,  Nashihuddin Al Bilal kepada Cendana News.
Lebih lanjut menurut pria yang akrab disapa Bilal tersebut, selain program membangun karakter berbisnis yang sebenarnya, IIBF sendiri juga memiliki program yaitu membebaskan pebisnis dari riba.
“Kami mempunyai kampanye anti riba melaui program how to be debt free,  di mana dalam program tersebut  para pengusaha yang  sedang terjerat hutang bisa datang ke IIBF untuk konsultasi menyelesaikan permasalahan hutang mereka,” terangnya.
Disebutkan, khusus di daerah Jawa Timur sendiri, IIBF sudah tersebar di 27 kota. Sedangkan di Malang sendiri jumlah anggota IIBF sudah ada sekitar 200 orang yang kebanyakan merupakan para pebisnis makanan dan  jasa. Untuk bisa menjadi anggota IIBF, calon anggota harus mengikuti workshop wajib “how to be debt free”. 
Pada workshop wajib tersebut nantinya diajarkan bagaimana membangun mental untuk berbisnis dan pembelajaran mengenai financial literasy untuk mempelajari mengenai pembacaan laporan keuangan dan lain sebagainya. Karena disemua bisnis, laporan keuangan adalah kuncinya.
“Mau bisnis apapun kalau kita sudah memahami yang namanya pembacaan laporan serta pembuatan laporan, kita ibaratnya sudah menguasai yang lainnya,” ucapnya.
Menurut Bilal, kebanyakan yang masuk ke IIBF itu orang yang sudah punya usaha dan sudah pernah mengalami jatuh bangun dalam dunia bisnis. Karena di IIBF memang lebih menekankan pada belajar teori yang kemudian langsung dieksekusi atau dipraktekkan. 
“Jadi bukan belajar terus tapi tidak segera di eksekusi,”  tuturnya.
Bilal menyebutkan  kegiatan IIBF pada  2017-2018 difokuskan  pada pembenahan bisnis para member. Mulai dari penjualan, marketing, branding, operasional dan yang terutama adalah pembenahan dalam sisi keuangannya. lima hal tersebut yang akan dibenahi IIBF agar bisnis para anggota bisa tumbuh dan jadi bisnis yang kuat.
“Jadi kita akan mendatangi para member, kita akan data permasalahan mereka ada dimana, kemudian kita analisa untuk selanjutnya kita bantu mereka untuk membenahinya. Misalnya saja ada permasalahan di penjualan, kita bantu mereka untuk masuk ke akses pasar sekalgus di  hubungkan ke distributor yang menjualkan produk mereka,” terangnya.
Jadi IIBF mendorong para member agar bisa mulai bekerjasama dengan para profesional di bidangnya. Karena kebanyakan para pelaku Usaha Kecil Menengah (UMK) jika disuruh bekerjasama dengan orang lain, mereka akan merasa keuntungannya akan berkurang. Padahal dengan mereka berusaha  bekerjasama dengan orang lain, masalah mereka terselesaikan. Pada sisi lain penjualan dan profit justru bisa semakin meningkat, pungkasnya.
Jurnalis: Agus Nurchaliq/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Agus Nurchaliq
Lihat juga...