Damandiri Diminta Berdayakan Kembali PAUD Bacang

MINGGU, 5 FEBRUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Jauh sebelum berdirinya Posdaya di RW02, Kelurahan Srengseng Sawah, wilayah tersebut sudah memiliki fasilitas Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD. Berkedudukan di kediaman Hj.Tuty Rohati, Jalan H. Shibi No.73, RT03, RW02, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, BKB (Bina Keluarga Balita) PAUD Bacang dibuka pertama kali awal 2007 oleh Sri Hartati, isteri mantan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.
Sisa fasilitas bermain BKB PAUD Bacang di sekretariat Posdaya Bacang
Kediaman Tuty dipugar sedemikian rupa, mulai dari ruang garasi, ruang tamu dan beberapa ruangan lain agar bisa dipergunakan sebagai tempat yang nyaman dan memadai untuk PAUD. Murid PAUD terdiri dari anak-anak sekitar yang kerap dibawa orangtua untuk penimbangan badan ke Posyandu balita wilayah RW02.
Dana awal PAUD Bacang diberikan oleh Dinas Pendidikan Dasar (Dikdas) sebesar Rp 25 Juta untuk keperluan belanja perlengkapan, peralatan operasional seperti buku dan lain sebagainya. Serta tidak lupa untuk membangun sarana bermain anak-anak. BKB PAUD Bacang berjalan selama kurang lebih enam tahun sebelum akhirnya tutup pada 2013. Penyebab tutupnya PAUD akibat regenerasi di tubuh pengurus PAUD maupun guru-guru yang kurang berjalan dengan semestinya.
“ Pada 2012, ketika saya mengundurkan diri dari kepengurusan, semua pengurus maupun anggota kurang bisa menerima keputusan saya. Akhirnya PAUD terbengkalai dan mulai tidak bisa menjalankan fungsinya dengan semestinya,” terang Tuty Rohati.
Ketika Posdaya Bacang berdiri di RW02 Srengseng Sawah pada 2014, Tuty Rohati menjadi Ketuanya. Ia pun mulai memikirkan kembali BKB PAUD Bacang. Agak sulit bagi Tuty untuk menggagas PAUD itu kembali. Penyebabnya, karena sejak dibubarkan pada 2013, sekarang wilayah Srengseng Sawah sudah banyak bermunculan Taman Kanak Kanak (TK), Bimbel maupun Bimba. Untuk mengaktifkan kembali PAUD Bacang, Tuty khawatir ada gesekan dengan lembaga-lembaga pendidikan tersebut.
Namun jika tidak diaktifkan kembali, PAUD merupakan salah satu bagian dari program pemberdayaan Yayasan Damandiri untuk aspek Pendidikan. Berada di persimpangan jalan untuk menentukan langkah selanjutnya, begitulah keadaan Tuty Rohati terkait PAUD Bacang. 
“ Di satu sisi, sepertinya sudah tidak ada gunanya lagi, karena sudah banyak pendidikan anak usia dini seperti TK, Bimbel maupun Bimba di sekitar tempat kami. Akan tetapi, apakah semua anak di sini terfasilitasi dengan baik? Bagaimana dengan anak-anak yang orangtuanya tidak mampu membayar iuran bulanan? “ imbuhnya.
Di semua Posdaya binaan Yayasan Damandiri, keberadaan PAUD juga memang begitu diperjuangkan. Bahkan rata-rata PAUD yang ada di setiap Posdaya benar-benar mengedepankan kerja sosial gotong royong, artinya memang benar-benar kerja sosial demi masyarakat yang kurang mampu menyekolahkan anak-anaknya di tempat yang memiliki standar biaya tinggi. Jadi sepertinya Posdaya Bacang harus mengambil langkah penyelamatan untuk anak-anak usia dini Srengseng Sawah yang tidak mampu, agar mereka bisa menikmati pendidikan layak.
Sisa fasilitas bermain BKB PAUD Bacang di sekretariat Posdaya Bacang
Butuh sinergi lagi untuk membangun PAUD Bacang, yakni dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Pancasila atau Universitas Trilogi, dengan Yayasan Damandiri sendiri dan pihak-pihak pemerintahan terkait. Membangun kembali PAUD Bacang bukan membuka persaingan, akan tetapi lebih kepada memberdayakan masyarakat yang kurang mampu.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...