Damandiri Berdayakan Lansia Kreatif Bangun Industri Kerajinan Tangan

SABTU, 25 FEBRUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Lahir di Utan Kayu, Jakarta Timur pada 1949, Ike Septinah masuk ke Jagakarsa 28 tahun kemudian pada 1977 bersama suaminya Hamidi. Suasana kediamannya dulu masih kawasan hutan dengan banyak jalan setapak, begitu kenang Ike saat bertemu Cendana News. Tapi disinilah Ike Septinah mulai berkonsentrasi membuka usaha. Dari berdagang kecil-kecilan sampai akhirnya bisa membuka sebuah toko roti dan kue basah.

Ike Septinah

Toko Roti dan Kue ‘Diana’, begitulah orang mengenal tempat usaha milik Ike Septinah, perempuan berusia 68 tahun, warga RT05, RW04, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Ika benar-benar mempraktikkan semua kemampuannya dalam membuat kue. Mulai dari lemper, bolu kukus, arem-arem dan beberapa kue lain menjadi andalan menuai rejeki.

Dari sebuah warung kecil, perlahan Ike terus meningkatkan dagangannya hingga bisa membangun ruko permanen di atas tanah miliknya di Jalan Paso, RT05, RW04, Jagakarsa pada tahun 2000. Seiring berjalan usahanya tersebut, Ike juga aktif dalam kegiatan PKK RW04 sampai Kelurahan serta Kecamatan Jagakarsa. Akhirnya pada 2012, ketika Yayasan Damandiri mendirikan Posdaya Cempaka di lingkungan RW04 Jagakarsa, Ike bergabung menjadi anggota Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja).

Ike Septinah menjadi anggota Tabur Puja selama dua putaran pinjaman modal usaha. Putaran pertama ia mendapatkan modal sejumlah Rp 2 juta dengan termin cicilan selama 12 bulan. Putaran kedua Ike mendapat Rp 3 juta dengan termin pengembalian yang sama. Modal usaha dari Yayasan Damandiri selama dua putaran digunakan Ike sepenuhnya untuk membesarkan usaha toko kue miliknya. Nama Toko kue milik Ike semakin dikenal sampai seluruh Kecamatan Jagakarsa.

Warung Pempek Palembang ‘Diana’

Selain usahanya berkembang, Ike turut berperan mensejahterakan para karyawannya. Sehingga saat memasuki akhir cicilan putaran kedua Tabur Puja, satu persatu karyawan Ike berhenti lalu pulang kampung. Dengan berbekal tabungan selama bekerja di tempat Ike, mereka akhirnya berkeluarga kemudian membuka usaha di kampung halaman masing-masing. Karena sulit mencari karyawan yang cocok dan bisa dipercaya, satu persatu toko kue Ike tutup. Ia menghabiskan semua dagangannya tanpa berusaha mengembangkan lagi.

“ Kepercayaan itu sangat penting dalam dunia usaha, sama seperti Damandiri sudah mempercayai saya selama dua putaran Tabur Puja,” sebut Ike.

Pada Desember 2014, Ike resmi melunasi cicilan Tabur Puja putaran keduanya dan dengan berat hati beristirahat sebagai anggota aktif Tabur Puja. Nama Ike tetap terdaftar sebagai anggota Posdaya berikut Tabur Puja namun pasif dari kegiatan Tabur Puja.

“ Memang seperti itu, dari 170 anggota Tabur Puja hanya 148 yang aktif melakukan peminjaman modai usaha dan sisanya sebanyak 22 orang masih terdaftar sebagai anggota aktif Posdaya namun pasif dalam Tabur Puja. Salah satunya Ibu Ike Septinah,” demikian penjelasan Deni, Asisten Kredit (AK) Tabur Puja Posdaya Cempaka mengenai Ike Septinah.

Akhirnya Ike terus aktif dengan kegiatan pemberdayaan yang dilakukan Posdaya Cempaka namun pasif memanfaatkan fasilitas pinjaman modal usaha Tabur Puja.

Desember 2016, menggunakan sisa tabungannya selama menjalankan toko kue, Ike dan suaminya kembali membuka usaha yang berbeda yaitu Pempek Palembang ‘Diana’ tepat di depan sekretariat Posdaya Cempaka.

“ Suami memesan bahan pempek langsung dari Palembang. Dua hari sekali kiriman datang dari sana untuk memenuhi kebutuhan kami. Dan untuk menjalankan usaha ini saya kembali dibantu seorang karyawan toko kue yang sudah kurang lebih lima belas tahun bersama saya sebelumnya. Lumayan hasil usaha pempek bulan pertama pendapatan saya menyentuh dua juta rupiah,” tambah Ike.

Bagi dirinya, menjadi seorang pelaku usaha itu tidak mengenal usia atau waktu. Tidak ada kata terlambat untuk memulainya, karena usaha baik itu kecil maupun besar pada hakikatnya adalah sama, yaitu mencari rejeki untuk keluarga. Minimal dengan anak-anak yang sudah berkeluarga nun jauh di tempat lain menikmati keberhasilan, Ike bisa menggunakan hasil usahanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri. Sekaligus ia masih bisa menghidupi seorang karyawan yang hingga kini setia menemani usahanya.

Ike aktif di sekretariat Posdaya Cempaka hanya setiap setiap Hari Kas. Dari membantu pengurus dalam membina para anggota, sampai sekedar mengerjakan kerajinan tangan sambil melihat bantuan apalagi yang bisa diberikannya kepada pengurus maupun anggota Posdaya yang hilir mudik melakukan pembayaran cicilan Tabur Puja. Selain itu ia juga aktif di tempat yang sama saat digunakan oleh kegiatan PKK RW04.

Kerajinan tangan yang sedang dibuat Ike Septinah

Kegiatan Posdaya lahir dan beranggotakan para penggiat PKK, Ike Septinah sekarang jadi sesepuh ibu-ibu pengurus PKK maupun Posdaya. Bahkan pengurus Posdaya Cempaka sudah melakukan koordinasi dengan Ketua RW setempat untuk mensinergikan Ike sebagai pembina kerajinan tangan dalam usaha mengangkat kegiatan industri kreatif dari para ibu rumah tangga anggota Tabur Puja.

“ Saya sudah meminta bantuan Ibu Ike agar menyempatkan diri membina para ibu anggota Tabur Puja membuat kerajinan tangan seperti yang beliau kerjakan sekarang, agar bisa menjadi pendapatan tambahan kelak,” pungkas Yessy Febriane, Ketua Posdaya Cempaka, sambil menunjuk Ike yang sedang menjahit sebuah sarung bantal dari kain percak.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...