Curah Hujan Tinggi, Produksi Teri di Bakauheni Turun Drastis

MINGGU, 19 FEBRUARI 2017

LAMPUNG — Produsen teri di wilayah Kecamatan Bakauheni dan Kecamatan Ketapang mengalami hambatan akibat kondisi cuaca dengan curah hujan cukup tinggi di wilayah tersebut. Selain itu, minimnya pasokan dari nelayan juga menjadi penyebab kurangnnya produksi.

Proses penjemuran teri

Sobri (40), salah satu produsen teri di Dusun Muara Piluk Kecamatan Bakauheni menyebutkan, sejak dua bulan terakhir, ia mengalami kesulitan dalam produksi teri jenis jengki dan teri nasi. Ia hanya mendapatkan ikan campuran yang diolah menjadi ikan asin akibat minimnya pasokan.

Pengaruh hujan dan kondisi cuaca yang ekstrem di perairan pantai Timur Lampung bahkan berimbas hasil tangkapan. Nelayan yang menggunakan bagan congkel dalam sekali melaut hanya mencapai sekitar 40 Cekeng (keranjang) dengan berat rata rata 15 kilogram. Dari jumlah tersebut,  pengusaha hanya bisa memproduksi sekitar 600 kilogram. Dalam kondisi normal, tangkapan nelayan bisa mencapai sekitar 200 cekeng atau hampir tiga ton.

“Selama sebulan terakhir pasokan bahan baku untuk produksi ikan teri minim sehingga terpaksa memproduksi ikan asin campuran. Saat musim teri jengki dan teri nasi kami fokus ke produksi teri saja,”ungkap Sobri saat ditemui Cendana News, Minggu (19/2/2017).

Ratno salah satu pekerja penjemuran ikan teri

Berkurangnya produksi dan pasokan ikan teri juga diakui Ratno (39) warga Kalianda yang bekerja selama tiga tahun sebagai karyawan di tempat penjemuran ikan teri. Dikatakan, dalam kondisi normal sebanyak 20 pandaran (tempat penjemuran) tak bisa menampung ratusan semoko (tempat penjemuran) yang digunakan untuk proses penjemuran.

Namun selama sebulan terakhir, banyak semoko yang tak digunakan karena hanya merebus sekitar 40 cekeng yang bisa menghasilkan sebanyak 100 semoko dan menggunakan sekitar 15 pandaran.

“Kalau hujan tiba tiba kami langsung tutupi dengan plastik karena jika terkena hujan proses penjemuran bisa lama lagi padahal beberapa semoko sudah dijemur selama tiga hari,”ungkap Ratno.

Proses penjemuran dalam kondisi normal hanya membutuhkan waktu satu hingga dua hari, namun saat cuaca mendung dan hujan berimbas proses penjemuran berlangsung lebih lama.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...