MINGGU, 19 FEBRUARI 2017
YOGYAKARTA — Pondok pesantren selama ini selalu identik dengan berbagai kegiatan yang berbau keagamaan. Namun di kawasan dusun Plosokuning III, Minomartani, Ngaglik Sleman, tepatnya pondok pesantren Qashrul Arifin, terdapat kesenian tradisional yang sangat kental dengan nuansa kebangsaan yang biasa disebut Peksi Muda.
![]() |
| Gerakan Peksi Muda |
Kesenian Peksi Muda boleh dibilang merupakan kesenian khas ponpes Qashrul Arifin, Plosokuning III, Minomartani, Ngaglik, Sleman yang telah ada sejak puluhan tahun silam yang terbentuk dari memadukan gerakan beladiri pencaksilat dengan tari-tarian.
“Peksi Muda pertama kali diciptakan oleh Kyai Haji Raden Nachrowi. Awalnya, kesenian ini sebenarnya gerakan silat yang disamarkan dalam bentuk tarian. Karena pada masa penjajahan, beladiri pencaksilat tidak boleh diajarkan, termasuk di pondok pesantren. Untuk tetap bisa mengajarkannya pada para santri harus disamarkan lewat tarian,”ujar anggota kelompok kesenian peksi muda, Panji Langit.
Kini, setelah generasi ke empat, kesenian peksi muda, murni diajarkan sebagai sebuah kesenian tari. Dalam setiap gerakannya, kesenian ini selalu diiringi lagu-lagu bernuansa Islami serta bertema kebangsaan. Terdapat sebanyak empat dasar tarian dengan 20 lagu pada setiap jurusnya. Diantaranya lagu berjudul Bismilah, Presiden Kita, Negara Pancasila. Semuanya merupakan ciptaan KHR Nachrowi yang disesuaikan kondisi saat ini.
“Peksi muda ini sebenarnya merupakan gerakan silat yang diperlambat. Setiap gerakan atau jurus selalu diiringi dengan lagu atau nyanyian. Selain kerap dipentaskan untuk kegiatan lingkungan pondok, kesenian peksi muda ini juga sering dipentaskan dalam berbagai ajang kesenian di luar pondok,” katanya.
![]() |
| Pimpinan Ponpes Qasrul ‘Arifin, Gus Rahullah Taqi Murwat |
Dalam perkembangannya, kesenian tradisional yang menyimpan ajaran tareqot Naqsyabandiyah ini sempat berhenti hampir 14 tahun lamanya. Hal itu terjadi karena tidak ada generasi muda yang meneruskan. Namun kini, kesenian ini kembali dihidupkan. Hal itu dilakukan sebagai upaya melestarikan agar tidak hilang begitu saja.
“Salah satunya adalah dengan membuat lagu berjudul peksi muda menggalang. Lagu ini dibuat untuk menggalang santri-santri muda agar untuk mau ikut kesenian ini. Termasuk juga masyarakat umum. Saat ini sebanyak 40-an orang tergabung dalam kelompok ini. Memang kebanyakan berusia 30tahun ke atas. Tapi sudah mulai ada generasi muda yang tertarik,” katanya.
![]() |
| Gerakan Peksi Muda |
Sementara itu, Pimpinan Ponpes Qasrul ‘Arifin, Gus Rahullah, Taqi Murwat MHum, berharap agar semakin banyak generasi muda yang mempelajari kesenian asli peninggalan kakeknya itu. Sehingga kesenian peksi muda dapat terus eksis sebagai sebuah kesenian tradisional yang mengandung nilai-nilai ajaran Islam, sosial, maupun kebangsaan.
Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana

