Sukses Jual Tanaman Hias, 10 Tahun Abung Jalan Kaki Pikul Dagangan

RABU, 4 JANUARI 2017

YOGYAKARTA — Kesuksesan memang tak bisa diraih semudah membalik telapak tangan. Butuh keseriusan, ketekunan serta kerja keras dan kesabaran untuk bisa meraihnya. Hal itu jugalah yang harus dijalani seorang penjual tanaman hias yang telah sukses asal Bandung, Jawa Barat, Abung Hidaya (69), warga Gindosuli, Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta.

Penjual tanaman hias Abung Hidaya (69), warga Gindosuli, Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta.

Abung yang memiliki kios tanaman hias “Sumber Tanaman Hias” di Jalan Kenari Yogyakarta ini, memang telah menggeluti bisnis tanaman hias selama puluhan tahun, bahkan seumur hidupnya. Selepas lulus SD sekitar tahun 1960, ia tak melanjutkan sekolah. Di usianya yang saat itu masih sekitar 15 tahun, ia justru mulai bekerja membantu orang tuanya dengan berjualan tanaman hias.

Setiap hari, selama sekitar 10 tahun, ia berkeliling menjual tanaman hias, dengan cara memikul dagangannya seorang diri. Sejumlah kota-kota besar telah ia susuri, mulai dari Jakarta, Bandung, Semarang hingga Yogyakarta. “Dulu saya selama 10 tahun itu berjualan dengan memikul tanaman. Berangkat itu pagi-pagi sekali. Lalu naik bis ke kota yang dituju. Setelah itu jalan kaki berkeliling memikul tanaman. Kalau semua dagangan habis terjual baru bisa pulang,” kenangnya saat ditemui Cendana News, Rabu (04/01/2017).

Bila dagangannya laku cepat, ia bisa pulang ke rumah pada siang atau sore hari. Namun saat sepi pembeli, ia terpaksa harus merelakan untuk tidak pulang ke rumahnya. Di saat seperti itu, ia pun harus menginap di sembarang tempat sekadar untuk beristirahat di malam hari. Paginya ia pun harus kembali berkeliling dengan jalan kaki menawarkan dagangan hingga semua laku terjual.

“Waktu G30S PKI tahun 65 itu saya masih berjualan keliling dengan memikul. Saya ingat betul, karena waktu itu saya sedang mengerjakan taman, saat mendengar berita di radio jendral-jendral dibunuh, ” ujarnya.

Setelah bertahun-tahun menggeluti bisnis tanaman hias, kini Abung tinggal memetik hasilnya. Sejak tahun 1980-an ia pun telah memiliki lahan strategis untuk menjual tanaman hias dagangannya di pusat kota Yogyakarta. Dari hasil bisnis tanaman hias itu pula ia menafkahi keluarganya. Mulai membangun rumah hingga menyekolahkan dan menguliahkan 6 orang anaknya.

Kini Abung yang telah memiliki 7 orang cucu ini, hanya sesekali berada di kios lapak tanaman hias miliknya. Pekerjaan sehari-hari ia serahkan pada anak dan pegawainya. Selain menjual tanaman hias, di kios itu, ia juga melayani  jasa pembuatan taman, renovasi taman, dekorasi taman, persewaan tanaman hias, hingga penjualan perlengkapan taman seperti pupuk pot dan lainnya.

“Tanaman hias ini saya datangkan dari Bandung, Jakarta, serta Malang. Ada juga beberapa dari sekitar Jogja. Jenisnya ada macam-macam. Mulai dari tanaman bunga-bungaan, tanaman buah dalam pot, bonsai, kaktus hingga puluhan jenis tanaman hias lainnya. Kalau omset memang tidak bisa dipastikan. Kalau rame itu satu hari ya bisa sampai 1,5 juta. Tapi kalau pas sepi ya sama sekali ga laku,” katanya.

Abung sendiri mengaku memilih bisnis tanaman hias karena telah telanjur suka sejak kecil. Selama hidupnya ia selalu bergelut dengan dunia tanaman hias. Tak pernah sekalipun ia berniat alih profesi lain. Terlebih lagi karena sejak dulu, sejumlah saudaranya di Bandung juga menggeluti bisnis yang sama.

“Bisnis tanaman hias ini sepintas kelihatannya mudah. Padahal sebenarnya itu sulit. Harus bener-bener yakin dan tekun. Karena kita berurusan dengan makhluk hidup. Sehingga harus bisa menyayangi. Karena satu tanaman itu dalam setahun belum tentu laku terjual, tidak seperti dagangan lainnya. Sehingga harus benar-benar dirawat,” tuturnya.

Meski kini semakin banyak orang menggeluti bisnis tanaman hias, Abung mengaku sama sekali tak khawatir. Ia bahkan merasa senang, karena menurutnya dengan semakin banyak kompetitor, justru akan semakin membuat usahanya semakin maju. Ia sendiri bahkan selalu membagi semua ilmunya pada setiap karyawannya dan mendorong untuk membuka kios tanaman hias sendiri.

“Banyak karyawan saya yang dulu saya ajari sekarang telah punya kios sendiri dan sukses. Saya tidak merasa rugi. Justru saya merasa senang. Karena bagi saya semua itu sudah ada yang mengatur. Termasuk rejeki,” pungkasnya.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...