Enggan Melaut Karena Gelombang Tinggi, Permintaan Solar di SPBN Menurun

RABU, 4 JANUARI 2017

LAMPUNG — Aktifitas nelayan di pantai Timur Lampung yang terhambat akibat kondisi cuaca angin dan gelombang tinggi mempengaruhi tingkat permintaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Nelayan yang melaut dalam sepekan terakhir masih cukup sedikit sehingga berimbas pada jumlah permintaan solart. Diprediksi permintaan akan bahan bakar solar akan kembali terjadi dalam dua pekan ke depan.
SPBN melayani pembelian solar bagi nelayan yang akan melaut di Muara Piluk
Catur S. Udiyanto, pengelola stasiun pengisian bahan bakar khusus nelayan (SPBN) milik PT Aneka Kimia Raya (AKR) di area tempat pendaratan ikan (TPI) Desa Muara Piluk menyebutkan, penurunan permintaan tersebut terjadi sejak akhir tahun 2016 hingga awal tahun 2017 ini. 
Disebutkan, harga bahan bakar solar bersubsidi masih berada di kisaran Rp 5.150 per liter. Diharapkan harga khusus untuk nelayan tersebut tidak mengalami kenaikan agar tidak memberatkan nelayan yang sudah beberapa hari tidak melaut dan mencegah melambungnya harga ikan.
Dalam sekali stok dan pembelian ke depo, Catur mengaku untuk kebutuhan nelayan setempat disiapkan sebanyak 30 ton BBM jenis solar. Namun akibat berkurangnya aktifitas nelayan melaut dan sebagian nelayan memilih menyandarkan kapal sambil menunggu cuaca membaik. 
“Jumlah 30 ton BBM solar yang biasanya habis dalam waktu sekitar tiga hari kini bisa mencapai lima hari,”sebutnya. 
Permintaan yang masih belum banyak tersebut diakuinya berimbas pada perputaran uang untuk modal yang harus digunakan untuk membeli solar kembali.
“SPBN untuk nelayan di sini beda dengan SPBU yang ada di sepanjang jalan lintas, bisa dibeli untuk umum tapi untuk solar khusus nelayan pembelian dilakukan dengan sistem quota per kapal mengantisipasi pembelian berlebih dan saat kondisi bahan bakar langka,”ungkapnya kepada Cendana News, Rabu (4/1/2017).
Nelayan Muara Piluk menambatkan kapal setelah sepekan belum melakukan aktifitas
Sistem kuota tersebut ungkap Catur diberlakukan dengan menghitung jumlah nelayan yang bersandar di dermaga Muara Piluk. Kartu khusus untuk pembelian bahan bakar pun diberikan kepada nelayan yang ada di wilayah tersebut sehingga nelayan dari wilayah lain dipastikan tidak bisa membeli di SPBN yang hanya melayani nelayan di Muara Piluk.
Salah seorang nelayan, Somad, mengaku sengaja belum membeli bahan bakar solar untuk melaut karena kapal bagan miliknya masih harus menjalani perbaikan di bagian kemudi serta beberapa lampu. Ia akan membeli saat akan melakukan aktifitas melaut yang diperkirakan dalam lima hari ke depan.
Sebagai nelayan tangkap ia mengaku melakukan penangkapan ikan jenis ikan selar, ikan cumi, ikan kembung, ikan tongkol, ikan kakap serta jenis ikan lainya di perairan pantai Timur Lampung hingga ke Laut Jawa. Sementara sebagian nelayan lain memfokuskan aktifitas melaut dengan aktifitas mencari ikan jenis teri nasi dan teri jengki yang akan diolah menjadi teri kering. Imbas dari aktifitas nelayan yang sempat terhenti tersebut pasokan produsen pembuatan teri kering di wilayah Bakauheni bahkan sempat tersendat akibat kurangnya pasokan bahan baku.
Nelayan di pantai Timur Lampung
Selain itu akihat perputaran uang yang tersendat dengan berkurangnya aktifitas nelayan, pendamping nelayan Muara Piluk Bakauheni, Sadide, mengungkapkan sebagian nelayan banyak yang terpaksa terjerat hutang pada rentenir. Hutang tersebut dipergunakan untuk kebutuhan sehari hari nelayan selama di darat dan memperbaiki peralatan kapal. Harapan akan mendapat tangkapan yang lebih banyak setelah cuaca membaik diungkapkannya bisa meringankan beban nelayan setempat yang terjerat hutang pada para tengkulak yang juga meminjamkanb uang sebagai modal.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...