SELASA, 24 JANUARI 2017
BANTEN — Meski terletak di Kabupaten Lebak yang jaraknya relatif dekat Ibu Kota Provinsi Banten, namun masih ada sekolah yang seperti kandang kambing, yaitu di Madrasah Ibtidaiyah Al-Faruq dan Madrasah Tsanawiyah Miftahul Falah yang berlokasikan di Kampung Cikadu, Desa Jagaraksa, Kabupaten Lebak, Kecamatan Muncang, Banten. Sekolah ini hanya terbuat dari bambu dan kayu. Tiang penyangganya dari bambu dan berlantai tanah. Sekolah yang dibangun swadaya masyarakat ini sengaja dibuat untuk warga sekitar yang membutuhkan sekolah.
![]() |
| Bangunan sekolah ala kandang kambing. |
Sekolah darurat ini tidak mempunyai ruang guru atau perpustakaan, kamar mandi pun tidak punya. Demikian juga siswanya, mereka bebas mengenakan alas kaki, ada yang bersepatu, sandal, bahkan ada pula yang tanpa alas kaki.
Sekolah darurat ini berdiri sejak 2006, jadi sampai sekarang umurnya sudah 10 tahun. Namun sampai saat ini bangunannya masih belum layak seperti sekolah pada umumnya.
“Sekolah darurat ini sebetulnya milik dari sebuah yayasan. Namun karena letaknya yang berada di lain desa membuat sekolah ini tidak mendapatkan perhatian yang sama dengan sekolah-sekolah lain yang berada di bawah naungan yayasan tersebut. Selama ini sumber dana untuk alokasi sekolah berasal dari hasil swadaya masyarakat yang peduli pendidikan.
“Sekolah ini dibangun karena sekolah dasar terdekat mencapai 2 kilometer dengan waktu tempuh 1 jam,” ungkap Edo, selaku guru MI Al-Faruq dan MTs Miftahul Falah.
![]() |
| Ruang belajar-mengajar. |
Pihak warga berharap Pemda segera membangun sekolah agar anak usia sekolah di desa mereka dapat bersekolah dengan fasilitas yang memadai.
Bangunan sekolah yang baru juga menjadi harapan siswa. Selain dekat dengan rumah, mereka juga tidak terkendala dengan alam. Dengan bangunan sekolah seperti sekarang, proses belajar-mengajar sering terganggu.
“Metode pembelajaran menyesuaikan kurikulum yang ada namun lebih banyak mata pelajaran tentang agama. Tetapi sistem belajarnya yang jauh dari kata layak, siswa harus bergantian menggunakan ruang kelas ketika kegiatan belajar-mengajar berlangsung. 1 bangunan digunakan untuk kelas 1,4, dan 5, sedangkan 1 bangunan lagi untuk kelas 2,3 dan 6. Jadi saat kelas 1 masuk kelas lainnya menunggu di luar. Begitu seterusnya, harus di-rolling. Berlaku hal yang sama dengan MTs. Untuk MI jam belajar dimulai pukul 07.30 hingga 12.00 sedangkan MTs dari pukul 13.00 hingga 16.00. Dahulu 1 ruangan ada 3 kelas, lalu disekat tapi sangat tidak kondusif. Namun sekarang dipisah antara MI dan MTs,” lanjut Pak Edo menjelaskan.
![]() |
| Kondisi ruang belajar di dalam sekolah ala kandang kambing. |
Meski kondisi seperti itu, anak-anak di Kampung Cikadu ini tetap bersemangat datang ke sekolah untuk menimba ilmu. Wilayah Muncang, Lebak, Banten ini memang termasuk daerah terpencil. Keterbatasan akses jalan dan sekolah membuat pembangunan di wilayah ini tergolong terbelakang.
Jurnalis: Lya Septiarini / Editor: Satmoko / Foto: Lya Septiarini

