SELASA 24 JANUARI 2017
MATARAM—Berdasarkan survei tingkat literasi keuangan yang dilakukan OJK di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), tingkat pemahaman sebagian besar masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan masih sangat rendah.
![]() |
| Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Yusri. |
“Hal tersebut bisa dilihat dari jumlah masyarakat yang memiliki akses ke lembaga keuangan formal baru sebesar 22 sampai 23 persen dari 4,5 juta penduduk NTB” kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Yusri di Mataram, Selasa (24/1/2017.
Selain pemahaman yang masih minim tentang keuntungan menggunakan layanan program perbankan, akses kantor lembaga keuangan perbankan yang jauh dari pedesaan juga menjadi salah satu penyebabnya.
Karena itulah sejak Maret 2015 OJK telah meluncurkan program Laku Pandai yang merupakan sebuah terobosan dari OJK bagi industri perbankan dalam Rangka Keuangan Inklusif.
“Program Laku Pandai sendiri merupakan program Layanan Keuangan Tanpa Kantor yang bertujuan untuk menjangkau dan memberikan kemudahan kepada masyarakat di pelosok nusantara,” jelas Yusri.
Program tersebut dilakukan dengan menggandeng sejumlah lembaga perbankan yang ada untuk lebih mendekatkan pelayanan perbankan kepada masyarakat, terutama daerah pinggiran dan pedesaan.
Dikatambahkan, melalui program layanan keuangan Laku Pandai tersebut, selain lebih memudahkan masyarakat untuk melakukan transaksi keuangan berupa penarikan dan tabungan, juga untuk memastikan keamanan uang yang dimiliki dan dikelola masyarakat.
Jurnalis: Turmuzi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Turmuzi