Potensi Usaha Genteng di Ponorogo Terus Meningkat

SENIN, 16 JANUARI 2017

PONOROGO — Desa Kupuk, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo memang dikenal sebagai sentra pembuatan genteng. Genteng yang dijadikan peneduh di kala hujan dan terik panas menjadi kebutuhan utama saat membangun rumah. Salah satu pembut genteng, Tongat (59) telah memulai usaha pembuatan genteng ini sejak 1992. Ia biasanya membuat genteng dibantu dengan tiga orang karyawannya, karena proses pembuatannya tidak bisa dilakukan dengan menggunakan mesin namun manual.

Tongat saat membuat genteng hasil produksinya.

“Sekarang kalau tidak pesan jauh-jauh hari, pembeli bisa-bisa tidak kebagian genteng,” jelasnya saat ditemui Cendana News di rumahnya, Senin (16/1/2017).

Menurutnya, hal ini dikarenakan proses pembuatan genteng tidak bisa cepat mengingat cuaca yang selalu mendung. Padahal dalam proses pengeringannya dibutuhkan sinar matahari yang cukup. Selain itu proses pembakaran juga membutuhkan tujuh ribu buah genteng sekali bakar. Jika dilakukan kurang dari itu khawatir kualitas genteng akan menurun.

“Kalau sekarang, proses pembuatan genteng dua hari baru bisa jadi. Melihat kondisi dan cuaca, proses pembakaran saja butuh waktu 17 jam,” ujarnya.

Bapak tiga orang anak ini pernah melakukan pengiriman genteng ke beberapa wilayah di Jawa Timur, mulai dari Tulungagung, Nglorok, Malang, Madiun, dan Ngawi.

“Tinggal pemesan maunya seperti apa, diantar atau diambil sendiri, kami siap melayani,” tandasnya.

Untuk bahan baku, berupa tanah liat, lanjut Tongat, sebenarnya mudah didapat karena di Kupuk masih banyak tanah liat. Namun, saat musim hujan kendalanya, jalannya tidak bisa dilewati akibat terlalu becek. Sedangkan kayu untuk proses pembakaran, Tongat pesan hingga ke Pacitan, untuk satu bak truk dihargai Rp 1 juta.

“Kadang kalau kekurangan bahan, saya beli dari daerah Wringinanom dan Sambilawang, per satu truk biasanya Rp 220 ribu,” tuturnya.

Meski usaha ini termasuk usaha industri rumahan, Tongat cukup yakin akan mampu menuruti permintaan konsumen saat memesan genteng. Saat ini, Tongat mampu membuat genteng dengan bermacam-macam, seperti genteng biasa, genteng prentul, genteng semi, dan genteng mantili.

“Harganya kalau genteng biasa per satuan dijual Rp 1 ribu, genteng prentul Rp 1-2 ribu, genteng semi Rp 1-3 ribu dan genteng Mantili Rp 1-8 ribu. Karena mantili yang paling berat dan paling besar,” cakapnya.

Saat ini, Desa Kupuk tengah bersiap menjadi desa wisata. Salah satu keunggulannya dengan cara memaksimalkan potensi usaha di Desa Kupuk melalui sumber daya manusia. Untuk pembuat genteng sendiri memiliki kelompok, bernama Kelompok Lestari yang anggotanya berjumlah 19 orang. Dari sini jika ada pelatihan atau pesanan dari Indakop, anggota kelompoklah yang diajukan terlebih dahulu.

Genteng produksi Tongat.

“Kalau bantuan dari pemerintah itu, hanya sekali pada tahun 1990-an berupa mesin giling untuk mengaduk tanah liat. Selebihnya hingga saat ini belum ada,” pungkasnya.

Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Satmoko / Foto: Charolin Pebrianti

Lihat juga...