Posdaya Melati 1 Bukit Duri Jaksel (5) “Usaha Yuliani Terhindar Rentenir dan Raup Omzet Berkat Tabur Puja Damandiri”

RABU, 11 JANUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Dari warung Sumirah di pinggir lokasi normalisasi Ciliwung, hanya butuh sekitar dua menit untuk mencapai warung milik Yuliani di lingkungan RW 011, Bukit Duri, Jakarta Selatan. Yuliani adalah seorang pemilik warung kelontong kecil sekaligus anggota Simpan Pinjam Tabur Puja (Tabungan Kredit Pundi Sejahtera) Yayasan Damandiri, Posdaya Melati 1 RW 011 Bukit Duri, Jakarta Selatan (Jaksel). Sejak keikutsertaannya dalam Tabur Puja, usaha Yuliani walaupun kecil-kecilan tapi menjadi lengkap dengan beragam dagangan untuk kebutuhan pokok warga setempat.

Yuliani dan dagangannya.

Bertemu Cendana News, ibu muda Yuliani menuturkan banyak sekali kisah perjalanan sejak mengawali usaha warung miliknya pada 2011. Usaha kecil-kecilan miliknya ini, tadinya menempati sebuah rumah di gang sempit di tengah sesaknya pemukiman RW 011, Bukit Duri, Jakarta Selatan. Omzet warung Yuliani kala itu dengan dagangan seadanya antara Rp 300-400 ribu setiap hari. Bagi Yuliani, sudah lumayan, namun dari sisi kebutuhan keluarga bersama suami dan ketiga anaknya tidaklah mencukupi. Apalagi sang suami hanya bekerja sebagai seorang pengemudi pariwisata di sebuah perusahaan travel di Jakarta.

Dengan keadaan tersebut, otomatis kehadiran usaha warung menjadi tumpuan atau sandaran hidup keluarga. Jalan keluar untuk menambah omzet akhirnya dibicarakan dengan sang suami, lalu muncul dua cara menambah omzet warung. Pertama adalah dengan mencari lokasi baru yang lebih ramai, kedua mencari pinjaman sebagai tambahan modal. Yuliani adalah warga Betawi asli RW 011, Bukit Duri Jakarta Selatan, otomatis tidak terlalu sulit mendapatkan lokasi baru, mengingat banyak famili yang tinggal di sekitarnya siap membantu.

Kalau begitu, jalan keluar kedua untuk menambah omzet yang jadi masalah, karena baik Yuliani maupun suaminya tidak berani ambil pinjaman kepada rentenir yang kerap menyamar sebagai Bank Keliling masuk-keluar perkampungan padat penduduk di Bukit Duri. Banyak saudara maupun teman Yuliani sudah terjerat rentenir sampai kehilangan usahanya. Bukannya maju, malah bangkrut. Namun begitu, kekhawatiran Yuliani, sampai kapan ia bisa bertahan jika terus didatangi. Lalu jalan keluar mendapat dana juga tidak kunjung datang. Saat Yuliani bimbang di persimpangan pikirannya itulah, pengurus Posdaya Melati 1, yakni Ketua Posdaya, Trisno Budiarti yang kebetulan Ketua RW 011 datang mensosialisasikan Tabur Puja Yayasan Damandiri.

“Ini dia jawaban yang dicari, begitu pikir saya. Hati saya senang dan langsung saya bergabung. Saya pun mendapat pinjaman awal sebesar Rp 2.000.000. Kemudian saya juga diajari mekanisme kenaikan limit pinjaman seperti besarnya tabungan dan tentunya ketepatan waktu membayar cicilan. Saya ikuti semuanya, karena kesempatan itu tidak datang dua kali melainkan hanya sekali seumur hidup. Jadi saya pergunakan kepercayaan itu sebaik-baiknya,” begitu tutur Yuliani.

Dana awal dari Tabur Puja langsung ia gunakan untuk menambah barang dagangannya. Setelah pindah lokasi usaha ke perempatan jalan yang cukup lebar, ia merasa banyak peningkatan omzet. Hingga semua dana Tabur Puja dibelikan tabung gas ukuran 3 kg, galon air mineral merk ternama serta beras. Sebenarnya bukan itu saja, ia juga menambah beberapa barang dagangan seperti kue kering dan lain-lainnya. Sambil terus giat berdagang, Yuliani terus mencicil pinjamannya. Ketika lunas, pengurus mendapati tabungan Yuliani sudah tembus angka Rp 1.000.000 dengan kondite pembayaran cicilan yang sempurna.

“Karena menurut pengurus saya layak, akhirnya saya dapatkan pinjaman kedua sebesar Rp 3.000.000. Itu kembali sepenuhnya saya pergunakan menambah barang dagangan khususnya tabung gas, galon air mineral dan beras,” lanjut Yuliani.

Tembusnya tabungan Tabur Puja Yuliani di angka Rp 1.000.000, tidak lepas dari cara Yuliani dalam membayar cicilan. Dari jumlah cicilannya sebesar Rp 325.000, Yuliani membulatkannya menjadi Rp 350.000 setiap kali pembayaran. Itulah kunci utama cepat bertambahnya tabungan Yuliani. Karena pinjaman keduanya sudah naik, sekarang baik tabung gas 3 kg maupun galon air mineral sudah dimiliki Yuliani, masing-masing sebanyak 10 buah. Beras dagangan Yuliani pun selalu datang dari agen beras sebanyak 2-3 karung beras ukuran 60 liter. Karena terus bertambahnya barang dagangan, ditambah lokasi usahanya sekarang yang cukup strategis, omzet warung kecil-kecilan Yuliani bisa tembus di angka Rp 1.000.000 per hari. Terlihat kecil bagi orang lain, namun bagi Yuliani, jumlah tersebut sangatlah besar dan berarti bagi ia dan keluarganya.

“Anak saya semua tiga orang dan semuanya sudah keluar dari rumah karena berkeluarga maupun kos di tempat lain agar lebih dekat dengan tempat kerjanya. Tinggal saya dan suami sekarang berdua di rumah. Mau apalagi? Lebih fokus usaha saja agar nanti pinjaman dari Tabur Puja terus bertambah sehingga impian besar saya kelak bisa terwujud,” tambahnya untuk mengakhiri perbincangan.

Yuliani bersama rekan-rekan warga setempat di depan warung dagangannya.

Saat ditanya mengenai impian besarnya tersebut, sambil tersipu malu ia mengatakan, ingin menjadi agen gas 3 kg, air mineral, dan beras. Sebuah mimpi yang sangat besar dan indah, namun melihat tekad dan kesungguhan Yuliani menjalankan usahanya, impian besar dan indah bukan hanya akan menjadi bunga mimpi. Melainkan akan menjadi kenyataan suatu saat kelak. Tabur Puja Yayasan Damandiri pun akan tetap menjadi penyokong utama, teman, sekaligus saksi abadi perkembangan usaha serta keberhasilan Yuliani di kemudian hari.

Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...