Posdaya Melati 1 Bukit Duri Jaksel (4) “Kena Gusur, Warung Sumirah Jadi Dua Berkat Tabur Puja Damandiri”
RABU, 11 JANUARI 2017
JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Tidak jauh dari warung Dahlia dan Muktadin, dengan menyusuri proyek normalisasi Ciliwung yang masih berjalan, Cendana News sampai di Warung darurat milik Sumirah. Ia adalah warga RT 04, RW 011 serta anggota Simpan Pinjam Tabur Puja (Tabungan Kredit Pundi Sejahtera) Yayasan Damandiri, Posdaya Melati 1, RW 011 Bukit Duri, Jakarta Selatan (Jaksel). Selain sebagai anggota Posdaya, Sumirah juga seorang Penanggung Jawab (PJ) Kelompok 6 Tabur Puja, Posdaya Melati 1.
| Sumirah |
Menarik ke belakang untuk mengawali kisah Sumirah, ia juga mengalami hal yang kurang lebih sama dengan yang dialami Dahlia. Namun, perbedaannya adalah usaha nasi pecel ayam milik Sumirah berada di depan rumahnya dan yang terkena proyek normalisasi Ciliwung adalah bagian belakang rumah Sumirah. Pasrah saja pikir Sumirah, karena memang sudah menjadi kebijakan Pemprov mengenai normalisasi Ciliwung. Tapi, pasrah bukan berarti menyerah, melainkan pasrah untuk terus maju ke depan walau dengan keadaan apa pun.
Dampak normalisasi Ciliwung bagi Sumirah adalah usaha nasi pecel ayam miliknya berangsur sepi pembeli, karena memang sebagian besar langganannya adalah warga yang sekarang sudah tergusur oleh proyek normalisasi Ciliwung. Di benak Sumirah yang akrab dipanggil Ira oleh warga, ia harus tetap tenang menghadapi kenyataan sambil melihat peluang apa yang akan terbuka pasca penggusuran normalisasi Ciliwung. Bagi Sumirah, di balik sebuah peristiwa, tersimpan sebuah hikmah, dan dari hikmah itu tereduksi menjadi sesuatu hal baru yang nantinya bisa dieksplorasi menjadi peluang usaha.
“Beberapa waktu pasca penggusuran normalisasi Ciliwung, saya melihat jalan di belakang rumah ramai dilalui orang. Saya berpikir ini kesempatan usaha, keadaan jalan terbuka yang panas di siang hingga menjelang Maghrib pasti membuat siapa pun yang lewat butuh minum es dingin yang segar. Akhirnya, saya pindahkan semua dagangan minuman dan es campur ke belakang rumah. Nasi pecel ayam tetap tinggal di depan rumah,” tutur Ira kepada Cendana News.
Awal mengikuti Tabur Puja, Sumirah mendapatkan dana pinjaman sebesar Rp 2.000.000 dari Yayasan Damandiri. Dana itulah yang ia gunakan untuk membangun usaha nasi pecel ayam miliknya berikut minuman dingin, es campur dan lain sebagainya. Saat terkena dampak normalisasi Ciliwung, ia sudah menyelesaikan cicilannya, lalu mendapat pinjaman kedua sebesar Rp 2.500.000. Pinjaman kedua inilah yang sebagian besar digunakan Sumirah untuk mengembangkan usaha minuman dingin di belakang rumahnya.
| Jalan di lokasi dagangan Sumirah yang terkena normalisasi Ciliwung. |
Sejak pertama kali membuka warung darurat di belakang rumah, Sumirah mendapat omzet sejumlah Rp 85-100 ribu per hari. Jika diakumulasikan dengan omzet usaha nasi pecel ayam di depan rumahnya sebesar Rp 150-200 ribu, total omzet usaha Sumirah bisa mencapai kurang lebih Rp 300.000 setiap harinya. Mungkin ini yang dimaksud Sumirah dengan hikmah dari sebuah kejadian. Awalnya, ia hanya mendapatkan omzet dari satu usaha saja, kini usahanya sudah berada di dua tempat dengan omzet yang bertambah besar dari sebelumnya.
“Tapi untuk berjualan di belakang rumah memang tantangannya di sini adalah lapangan terbuka. Jadi rentan dengan debu maupun hal lain yang bisa mempengaruhi kebersihan dagangan. Saya berhati-hati untuk dagangan minuman saya di belakang rumah dengan terus menjaga kebersihan seperti menutupi dagangan serta gelas-gelas plastik maupun sedotan dengan terpal. Selain itu, untuk kesehatan, saya gunakan air mineral untuk meramu minuman dingin saya, sama dengan warung Dahlia di ujung itu,” pungkas Sumirah.
Dagangan Sumirah di belakang rumah hanya buka mulai siang hingga menjelang Maghrib. Waktu luang setelah itu digunakan untuk membina hubungan dengan para anggota Kelompok 6 yang dipimpinnya. Sumirah kerap berkeliling untuk menemui para anggotanya dengan harapan bisa mendapat inspirasi-inspirasi usaha lainnya jika banyak berbincang dengan rekan-rekannya tersebut. Untuk Hari Kas Tabur Puja Posdaya Melati 1, Bukit Duri, Jakarta Selatan, Sumirah rajin berkeliling mengingatkan 25 anggotanya dari RT 01, 02, 03, 04 di lingkungan RW 011 untuk menyiapkan cicilan Tabur Puja.
Cicilan Tabur Puja Sumirah untuk putaran kedua ini menyisakan tiga kali cicilan menuju pelunasan. Setelah ini, Sumirah berencana akan terus mengambil pinjaman Tabur Puja untuk mengembangkan usahanya. Namun tampaknya Sumirah memerlukan saran, karena itu untuk langkah penggunaan ketiganya nanti ia akan kerap berkomunikasi dengan pengurus Posdaya Melati 1 terutama dengan Ketua Trisno Budiarti dan Bendahara Titin Sumartini.
| Es campur dagangan Sumirah. |
“Sejauh ini, cicilan dan Tabungan Sumirah bagus di Tabur Puja. Sepertinya pinjaman ketiga nanti bisa naik menjadi Rp 3.000.000,” kata Titin, Bendahara Tabur Puja, Posdaya Melati 1, sekaligus mengakhiri pertemuan dan perbincangan dengan Sumirah.
Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw