Posdaya Melati 1 Bukit Duri Jaksel (3) “Warung Dahlia Tergusur Bangkit Lagi Berkat Tabur Puja Damandiri”

RABU, 11 JANUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Dari rumah sekaligus tempat usaha Manen, Mi Pangsit Bude Sri, perjalanan memutar cukup jauh sebelum mencapai lokasi R W011, Bukit Duri, Jakarta Selatan (Jaksel) yang dulunya pemukiman di sisi kali Ciliwung, Bukit Duri. Akhir 2016, lokasi ini terkena proyek normalisasi Ciliwung Pemprov DKI Jakarta. Rumah-rumah diratakan dengan tanah, ada warga yang direlokasi ke Rumah Susun Rawa Bebek Jakarta Timur. Namun tidak sedikit yang tidak masuk dalam daftar relokasi sehingga harus mencari tempat tinggal baru.

Warung Dahlia, berdiri di depan area tanah rata yang dulu merupakan warung berikut rumah miliknya.

Dampak dari normalisasi Ciliwung salah satunya adalah lumpuhnya usaha-usaha warga yang terkena proyek normalisasi. Salah satunya adalah usaha warung milik Dahlia dan suaminya Muktadin. Warung yang sebelumnya menjual minuman ringan, kue kering, jajanan gorengan sampai mi instan rebus, sudah rata dengan tanah bersama rumah milik Dahlia dan Muktadin. Resah, sedih, gelisah dan berbagai perasaan lainnya campur-aduk di dalam hati Dahlia. Suaminya yang sehari-hari bekerja di toko pakaian Pasar Tanah Abang Jakarta Selatan juga ikut merasakan kesedihan dan kehilangan yang mendalam akan rumah dan usaha mereka yang selama ini menjadi tumpuan kehidupan sehari-hari.

Pikiran Dahlia semakin bertambah berat karena warung miliknya yang lumpuh total itu sebelumnya sudah mendapat pinjaman awal dari Simpan Pinjam Tabur Puja (Tabungan Kredit Pundi Sejahtera) Yayasan Damandiri di Posdaya Melati RW 011, Bukit Duri, Jakarta Selatan, sebesar Rp 2.000.000. Namun Dahlia tidak patah arang, bersama sang suami ia coba membangun kembali usahanya namun dalam bentuk sebuah tenda mungil berisi minuman dingin seperti sirup dan lain sebagainya. Seiring itu, ia terus menjalankan kewajiban cicilan Tabur Puja. Pikir Dahlia, jika ia bisa segera menyelesaikan cicilannya, pinjaman kedua akan segera cair untuk menambah modal usahanya.

“Akhirnya saya bisa menyelesaikan cicilan saya tepat waktu, dan pinjaman kedua Tabur Puja bisa saya dapatkan. Jumlahnya lebih besar dari sebelumnya, yaitu Rp 3.000.000. Menurut pengurus Tabur Puja, bertambahnya jumlah pinjaman saya karena cicilan lancar dan tabungan saya di Tabur Puja meningkat,” tutur Dahlia.

Dahlia benar-benar mewujudkan rencananya. Ketika dana Tabur Puja putaran kedua cair sebesar Rp 3.000.000, langsung dimanfaatkannya untuk menambah jumlah dagangan dari minuman dingin, es campur hingga berbagai minuman hangat seperti kopi, teh manis, dan lain sebagainya. Omset warung terdahulu milik Dahlia sebesar Rp 200.000 per hari, namun untuk warungnya saat ini setiap hari memiliki omset sebesar Rp 85-150 ribu per hari, tergantung ramai tidaknya pembeli.

Jalan menuju warung milik Dahlia sekarang.

“Omset itu nomor kedua dengan keadaan saya sekarang ini. Yang penting bagaimana saya dan suami bisa keluar dari keadaan kami yang hancur-lebur untuk perlahan menata kembali kehidupan serta usaha warung kami berdua. Beruntung Tabur Puja memberi kepercayaan, sehingga proses pemulihan keadaan kami bisa berjalan dengan baik. Dan omset berjualan akhirnya datang juga menghampiri kami,” tambah Dahlia.

Lokasi warung Dahlia tepat di depan bekas rumah serta warung sebelumnya yang sudah rata dengan tanah, bagi Dahlia dan suaminya selain untuk menjaga para langganan, juga sebagai pengingat bagi mereka berdua. Bahwa kehidupan itu ada pasang-surutnya, jadi manusia tidak boleh patah semangat, patah arang apalagi putus asa. Tabur Puja seolah memberi Dahlia kesempatan kedua untuk menata kembali kehidupan yang seolah direnggut secara paksa dari genggamannya.

“Sekarang saatnya untuk menatap ke depan. Kehidupan kembali normal, saya sudah kembali bekerja secara rutin di Pasar Tanah Abang, dan istri saya mengurus warung di rumah sekaligus merawat anak-anak kami. Terima kasih buat semuanya,” ucap Muktadin, suami Dahlia, mewakili Dahlia menutup perbincangan.

Warung Dahlia yang mungil berada tepat di depan proyek normalisasi Ciliwung yang pembangunannya masih berlangsung hingga hari ini. Namun, impian Dahlia dan Muktadin sebenarnya berada jauh di depan dan Tabur Puja Yayasan Damandiri akan terus menemani perjalanan mereka. Dahlia dan Muktadin sekarang terus fokus dengan usahanya agar saat selesai cicilan pinjaman putaran kedua ini bisa melanjutkan ke pinjaman putaran ketiga. Mereka berdua pun memiliki rencana usaha selanjutnya dengan pinjaman tersebut.

Dahlia, pemilik warung, korban normalisasi Ciliwung.

“Dahlia ini tegar dan semangatnya tinggi. Untuk putaran ketiga nanti, tidak menutup kemungkinan bisa diangka Rp 3.000.000 karena cicilannya bagus serta tabungan Tabur Puja miliknya semakin meningkat,” demikian jelas Trisno Budiarti, Ketua Posdaya Melati 1, Bukit Duri, Jakarta Selatan, saat dimintai keterangan mengenai anggotanya, Dahlia dan Muktadin.

Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...