RABU, 11 JANUARI 2017
JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Beranjak dari tempat Ade Rohayati, pelaku industri kreatif mikro sablon cap di RW 011, Bukit Duri, Jakarta Selatan (Jaksel), Cendana News coba manyambangi kediaman yang juga sekaligus tempat usaha Mi Pangsit Ibu Manen atau dikenal juga dengan Ibu Sri masih di wilayah yang sama. Manen asal Wonogiri, Jawa Tengah, sudah tinggal di RW 011 Bukit Duri, Jakarta Selatan sejak 1985. Untuk menghidupi keluarganya, ia berjualan mi pangsit dengan nama yang cukup dikenal di daerah itu Mi Pangsit Bude Sri.
| Tempat usaha Manen di RW 011, Bukit Duri, Jakarta Selatan. |
Awalnya, Manen berdagang mi pangsit dengan menggunakan rombong atau gerobak keliling kampung sampai mangkal di pinggir jalan. Seiring kelahiran anak pertama dan keduanya, usaha Manen terus dijalaninya demi menghidupi keluarga bersama dengan sang suami yang bekerja di luar rumah sebagai tenaga teknisi listrik. Waktu terus berjalan, sampai akhirnya satu-persatu anak Manen tumbuh besar lalu bisa membina keluarga kecilnya masing-masing. Salah satu anak Manen akhirnya memiliki rumah di lingkungan RW 011 Bukit Duri, sehingga Manen bersama suami ikut tinggal di dalamnya.
Timbul pemikiran untuk membuka usaha mi pangsit secara menetap di rumah. Tujuan Manen adalah dengan usaha menetap, ia bisa menjalankan usaha sampingan lainnya. Namun kembali semua terbentur dengan belum cukupnya modal usaha. Singkat cerita, Manen mendapatkan penyuluhan Tabur Puja (Tabungan Kredit Pundi Sejahtera) Yayasan Damandiri dari Posdaya Melati 1, RW 011, Bukit Duri Jakarta Selatan. Inilah jalan itu, pikir Manen. Inilah kesempatan yang bisa mewujudkan impiannya. Akhirnya, Manen ikut Tabur Puja dengan pinjaman awal sebesar Rp 2.000.000.
“Dana pinjaman awal Tabur Puja saya tambahkan untuk membuat rombong (gerobak–redaksi) mi pangsit permanen di rumah, sekaligus menambah kuantitas bahan mi pangsit saya juga tentunya,” demikian Manen mengawali ceritanya.
Setiap lakon kehidupan hari lepas hari dijalaninya dengan tekun dan giat bersama usaha mi pangsit miliknya. Usaha mi pangsit semakin bergerak maju seiring omset yang terus bertambah. Setelah mendapat tambahan modal dari Tabur Puja, Manen mulai menambah modal harian mi pangsitnya dari Rp 200-300 ribu menjadi Rp 400-500 ribu per hari. Dengan modal sebesar itu, Manen mampu meraup omset dari Rp 700-900 ribu per hari. Bahkan jika dagangan ramai dan habis, total omset mencapai Rp 1 juta. Peningkatan modal, berjalan seiring meningkatnya omset, itulah yang terjadi terhadap usaha Mi Pangsit Manen setelah ikut Tabur Puja.
Setelah melunasi pinjaman pertamanya, Manen memasuki pinjaman kedua dari Tabur Puja sebesar Rp 3.000.000. Sedikit suntikan modal awal tersebut kembali ia pergunakan untuk menyempurnakan gerobak mi pangsit dan sisanya ia kembangkan untuk usaha sampingan sesuai rencana sebelumnya. Usaha sampingan yang dipilih Manen adalah berjualan pakaian yang diambilnya dari Bandung, Jawa Barat. Semua usaha kecil-kecilan tapi semuanya menghasilkan dan bisa terealisasi berkat Tabur Puja.
“ Untuk pakaian dan jaket, biasa saya jual kisaran harga Rp 200-250 ribu per item. Itu saya tawarkan dari rumah ke rumah, khususnya untuk para remaja maupun pemuda sekitar Bukit Duri, Jakarta Selatan dulu,” pungkas Manen.
| Manen, pemilik usaha kreatif mikro Mi Pangsit Bude Sri. |
Pinjaman kedua Tabur Puja Manen sudah selesai dan pinjaman ketiga sekarang sedang dijalani dengan besaran sama seperti pinjaman kedua, yakni Rp 3.000.000. Untuk yang ketiga ini, digunakan Manen untuk membuka usaha bersama anak keduanya berupa mi pangsit berikut distro atau tempat menjual baju-baju trendi remaja. Usaha mi pangsit dan distro kecil-kecilan. Tapi dengan usaha itu, Manen mulai memasuki tahapan baru bersama Tabur Puja yang awalnya mengangkat usaha Manen, sekarang ikut pula mengangkat perekonomian anak-anaknya.
Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw