Plered, Bekas Ibu Kota Kerajaan Mataram Islam yang Sempat Hilang

RABU, 11 JANUARI 2017

BANTUL — Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul yang terletak sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta, saat ini mungkin hanya dikenal sebagai sebuah wilayah pedesaan yang tak terlalu ramai. Padahal pada masa abad ke 16,  wilayah ini pernah menjadi pusat pemerintahan sekaligus ibu kota kerajaan Mataram Islam yang dipimpin oleh Sultan Agung serta anaknya Amangkurat I. Di kawasan sekitar Plered inilah, Sultan Agung pernah pernah membuat sejumlah kebijakan besar yang menjadi peristiwa sejarah dan dikenal hingga saat ini.

Edukator Museum Sejarah Purbakala Plered, Hanif Adrian.

Sebagaimana diketahui pada masa awal di bawah kepemimpinan Panembahan Senopati, ibu kota Kerajaan Mataram Islam  berada di Kotagede. Perkembangan Kotagede yang begitu pesat, membuat raja ke III Kerajaan Mataram Islam, Sultan Agung Hanyakrakusuma, berniat memindahkan pusat pemerintahan ke daerah yang lebih sepi dan disebut Kerta, sekitar 3 kilometer arah selatan Kotagede. Babad Mataram menyebutkan, proses pemindahan pusat pemerintahan dari Kotagede ke Kerta dilakukan mulai tahun 1617 hingga tahun 1625.

“Awalnya, Sultan Agung hanya membuat sebuah pesanggrahan kecil untuk tempat menyepi dan meditasi. Bangunan di Kerta didominasi terbuat dari bahan kayu. Memang bangunan di Kerta ini belum bisa dibilang sebagai sebuah istana kerajaan. Dari topografinya, tidak terdapat benteng. Bangunan masjid serta alun-alun juga belum bisa dipastikan keberadaannya. Yang tersisa dan ditemukan hanya umpak (batu penyangga tiang bangunan). Meski begitu Ibu Suri yang awalnya masih tinggal di Kotagede diketahui sudah ikut diboyong ke Kerta,” ujar edukator Museum Sejarah Purbakala Plered, Hanif Adrian, kepada Cendana News, belum lama ini.

Setelah masa pemindahan pusat pemerintahan ke Kerta, Sultan Agung tercatat dalam Babad Mataram membuat sejumlah kebijakan besar, seperti melakukan penyerangan ke Batavia pada 1628, memberlakukan sistem kalender Jawa pada 1633, hingga membangun kompleks makam raja-raja Mataram di Bukit Merak yang kini disebut Imogiri.

“Sultan Agung kemudian wafat dan digantikan oleh anaknya Amangkurat I. Setelah dinobatkan sebagai raja, ia kemudian menyingkirkan petinggi-petinggi kerajaan yang berseberangan dengannya. Amangkurat I juga membangun kraton atau istana kerajaan baru di Plered di sisi sebelah selatan Kerta. Ini karena Amangkurat I membenci ayahnya dan enggan menempati Kerta,” jelasnya.

Dari sisa-sisa benda peninggalan yang ditemukan, diungkapkan Hanif, kraton yang dibangun di Pleret telah berdiri utuh. Yakni memiliki konsep catur gatra seperti halnya di Kotagede, dengan bangunan kraton, masjid, serta alun-alun dan pasar. Sisa-sisa puing bangunan benteng kraton juga ditemukan. Termasuk juga sebuah situs berupa tanggul setinggi 5 meter, yang diyakini merupakan bekas bendungan besar atau waduk buatan yang digunakan sebagai tempat rekreasi sekaligus latihan militer pasukan armada laut kerajaan Mataram.

“Sebagai ibu kota kerajaan, Pleret terbilang maju. Hampir sama seperti Kotagede. Dari sisi bangunan kraton, bahkan lebih besar dibanding Kotagede. Itu bisa diihat dari sejumlah umpak batu yang ditemukan. Benteng yang dibangun di Plered juga lebih besar. Yakni dengan tinggi 5-6 meter, lebar 1,5 meter, dan panjang 2256 meter,” ujarnya.

Meski pernah menjadi ibu kota kerajaan terbesar di Pulau Jawa, anehnya tak banyak peninggalan baik berupa situs ataupun bangunan yang tersisa di Plered sampai saat ini. Sejumlah bangunan, seperti masjid atau benteng juga seolah lenyap tak tersisa. Sisa-sisa peninggalan kraton Plered hanyalah topomim atau nama desa yang diambil berdasarkan sejarah lokasi tersebut dulu digunakan. Antara lain seperti Desa Segoroyoso yang berarti ‘laut buatan’, Desa Kedaton, Desa Alun-alun, hingga Desa Kauman dan sebagainya.

“Ada sejumlah dugaan yang menjadi penyebab lenyapnya kraton Plered tanpa banyak meninggalkan sisa-sisa peninggalan. Pertama karena adanya sejumlah peristiwa pemberontakan besar pada masa itu. Sehingga kraton dan bangunan lainnya dijarah, dibakar, dirusak dan dihancurkan, sampai akhirnya kraton dipindahkan ke Kartasura,” ujarnya.

Kedua adalah dijadikannya Plered sebagai benteng pertahanan saat perang Diponegoro. Dimana kemungkinan batu-bata bekas benteng kraton, dipakai untuk membangun benteng pertahanan sebelum akhirnya dihancurkan Belanda. Ketiga adalah pendirian pabrik gula di sekitar kawasan Plered oleh Belanda, yang kemungkinan juga memanfaatkan batu-bata bekas benteng kraton, sebelum akhirnya hancur saat Agresi Militer II.

Museum sejarah purbakala di Plered yang dibangun tepat di bekas kedaton atau tempat raja.

“Pada masa kemerdekaan, sisa-sisa batu-bata bekas benteng ini dimanfaatkan oleh warga penduduk sekitar untuk membuat semen merah dalam membuat rumah. Karena pada saat itu semen belum banyak digunakan, dan masih memakai bligon atau campuran pasir, gamping dan batu-bata merah. Sejumlah hal itulah yang kemungkinan menjadi penyebab lenyapnya bangunan benteng kraton Plered hingga tak bersisa,” pungkasnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...