Pada Kebiadaban Kanigoro 1965, Oknum Polisi Justru Terima Kasih Kepada PKI

MINGGU, 22 JANUARI 2017

KEDIRI — Pada 13 Januari 1965, KH Ibrahim Rais mengalami siksaan cukup berat dari anggota PKI dalam Mental Training Pelajar Islam Indonesia di Kanigoro. Saat itu, menurut Ibrahim, para peserta Training diteror dan ditakuti. Ibrahim dan kawan-kawannya diperlakukan seperti binatang oleh anggota PKI. Leher mereka diikat dengan tali, badan juga diikat, lalu didorong-dorong memakai kaki seperti binatang. “Kami digiring bersama-sama menuju kantor polisi,” jelas Ibrahim, pada peringatan Kekejaman PKI di Kanigoro 1965, tanggal 14 Januari 2017 lalu.
KH Ibrahim Rais
Ketika digelandang menuju kantor Polisi, seluruh peserta training PII diancam akan dibunuh dan dibantai. Sepanjang perjalanan, massa PKI ini meneriakkan dengan lantang Yel “Nasionalis, Agama, Komunis (NASAKOM) bersatu, singkirkan kepala batu, inilah kepala batu,” sambil menuding ke arah anak-anak PII. Mereka terus berteriak sangat keji, sambil bernyanyi, menari, berteriak-teriak, dan terus meludahi anak-anak PII dan para Kyai. “Ternyata, teman saya juga ada yang masuk dalam rombongan anggota PKI itu,” kata Ibrahim.
Menurut teman Ibrahim yang masuk PKI itu, penggerebegan adalah tugas revolusi. Jadi, tidak ada kawan, tidak ada teman,  tidak ada saudara. Semua tindakan PKI dianggap dilakukan sebagaimana mestinya, karena semua anak-anak PII difitnah sebagai musuh-musuh revolusi. Beruntunglah, saat itu, para peserta trainig masih bisa menahan diri, karena mereka merasa belum disakiti terlalu keras.
Saat Ibrahim dan teman-temannya sampai di kantor kepolisian, para Polisi menyambut dengan baik. Celakanya, saat itu, oknum Polisi tersebut mengucapkan terimakasih kepada para anggota PKI, karena mereka telah menyerahkan orang-orang kontra revolusi.  “Para polisinya kurang ajar sekali, karena kami dianggap kontra revolusi,” cerita Ibrahim dengan nada kesal.
Untung saja, saat itu, Sumadi sebagai Camat, berupaya bernegosiasi dengan Polisi agar membebaskan seluruh anak-anak PII. Sumadi datang seraya menangis melihat kondisi peserta training. Sumadi saat itu juga meminta maaf atas kelalaiannya, karena tidak bisa menjaga keselamatan peserta mental training.
Setelah anak-anak PII bisa diselamatkan, Sumadi di angkat sebagai Bapak angkat anak-anak PII. Sumadi dianggap sudah berjasa. Meskipun sudah terlambat, Sumadi mempunyai sikap yang baik terhadap peserta training.
Setelah kejadian tersebut, ditangkaplah dua orang dari pihak PKI dan PII. Dari pihak PKI, yang ditangkap adalah ketua Pemuda Rakyat kecamatan Kras, yakni Suryadi. Sedangkan dari pihak PII, yang ditangkap adalah Anis Abioso. Anis dituduh membongkar rencana jahat PKI yang akan melakukan pemberontakan. Indikasi pemberontakannya adalah mendesak dibentuknya angkatan ke lima, yaitu buruh dan tani supaya dipersenjatai.
Persidangan Kanigoro Memunculkan Pasal Penistaan Agama

Setelah Anis dan Suryadi ditangkap, kemudian diadakan persidangan terus-menerus secara marathon setiap minggu bergiliran dari pihak PII dan dari pihak PKI. Pada setiap ada jadwal sidang, tempat sidang selalu penuh dengan massa PII dan PKI. Bahkan, saat itu, PKI membawa berbagai senjata tajam, air cabe, bensin, sebagai persiapan jika harus terjadi bentrok. Pada momentum inilah, lahir pasal pidana penistaan agama oleh pemerintah Republik Indonesia
Kondisi itu tidak membuat Ibrahim dan massa PII merasa gentar ataupun takut. Mereka tahu, PKI penakut, karena mereka tidak mempunyai pegangan dan motivasi untuk apa mereka berbuat itu. Sedangkan anak-anak PII selalu punya motivasi untuk berjuang di jalan Allah. “Seandainya kami mati, kami yakin, akan mendapatkan tempat yang baik di sisi Alllah. Jika kami bisa hidup, kami akan menuai kemuliaan,” ujar Ibrahim.
Seminggu setelah kejadian Kanigoro, semua anggota PII se Jawa Timur sempat ingin melakukan pembalasan kepada PKI. Tapi, berita tersebut bocor, sehingga Pemuda Rakyat PKI melarikan diri entah kemana. Hal itu menunjukkan, orang-orang PKI itu penakut. Mereka hanya berani kalau jumlah mereka lebih banyak.
Setelah beberapa lama berlalu dari peristiwa Kanigoro, Ibrahim menjadi tahu, tujuan penyerbuan PKI terhadap PII di Kanigoro adalah untuk mengukur kesiapan orang-orang PKI sendiri (terutama Pemuda Rakyat dan BTI) untuk melakukan hal yang sama di kemudian hari. “Peristiwa Kanigoro adalah uji coba untuk melatih kesiapan para anggota PKI. Dan ternyata, latihan itu bukan hanya di Kanigoro, tetapi juga terjadi di daerah lainnya,” jelas Ibrahim.
Menurut Ibrahim, selain pengecut, PKI juga licik, pintar memprovokasi, dan pintar memutarbalikkan fakta . PKI lihai menempatkan diri tidak bedosa, tidak berbuat, dengan segala tipu daya, dan menghalalkan segala macam cara. Padahal, PKI yang berbuat dosa.
Tragis! Di Masa Reformasi, Kebiadaban PKI Dianggap Sebagai Korban

Pada masa reformasi ini, menurut Ibrahim, PKI atau pemeluk komunis justru berusaha mengurangi dosa, berusaha menghilangkan dosa, kemudian berusaha lagi menghapuskan dosa. Akhirnya, PKI menuduh orang lain yang berdosa. PKI yang melakukan pemberontakan, tapi sekarang, dia berusaha seakan-akan menjadi korban.
Ibrahim menegaskan, PKI itu pelaku kebiadaban, bukan korban. Umat Islam dan TNI yang menjadi korban. Sekarang ini, ada yang memutarbalikkan fakta. Mereka menuduh para tentara dan umat Islamadalah pelaku pembantaian. Itulah kebohongan ajaran komunis. Dengan sering berbohong, niscaya orang-orang akan menjadi percaya kebohongan itu sebagai kebenaran. Para anak muda banyak menjadi korban kebohongan PKI jaman sekarang.

Jurnalis : Agus Nurchaliq / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Agus Nurchaliq

Lihat juga...