MINGGU, 22 JANUARI 2017
ENDE — Ketua komunitas adat (Mosalaki) Nuabosi, Aloysius Sido saat ditemui di rumahnya di Nuabosi, Sabtu (14/1/2017) mengaku mendukung langkah yang diambil AMAN Nusa Bunga. Bagi Wisu sapaannya, dengan adanya penetapan kawasan hutan, komunitas adat Nuabosi selama ini tidak bisa menebang kayu di dalam kawasan hutan untuk keperluan pembangunan rumah adat. [baca juga: AMAN Nusa Bunga Perjuangkan Pengesahan UU dan Perda PPHMA]
![]() |
| Kayu untuk bangunan rumah adat Nuabosi yang ditebang dari hutan sekitar meski dilarang pemerintah |
Padahal kata Wisu, untuk memperbaiki rumah adat pihaknya membutuhkan kayu-kayu bulat berukuran besar yang biasanya tumbuh di dalam kawasan hutan di sekitar wilayah perkampungan mereka. Masyarakat komunitas adat pun takut dipenjara bila menebang kayu sehingga rencana perbaikan rumah adat selalu terbengkelai. Banyak rumah adat pun terpaksa tiangnya dibuat dari semen.
“Waktu mau bangun rumah adat ini kami disuruh pak Lipus tebang pohon sehingga saya pun berani tebang karena bila ada yang melarang maka dia siap bertanggung jawab dan menjamin kami tidak ditangkap aparat. Akhirnya rumah adat kami bisa diperbaiki setelah terlantar puluhan tahun,” beber Wisu.
![]() |
| Aloysius Sido, Ketua Mosalaki Nuabosi di depan rumah adat Nuabosi |
Wisu harapkan agar negara bisa mengakui hak-hak komunitas adat khususnya yang berdiam di sekitar kawasan hutan lindung. Kearifan lokal masyarakat adat terkait buka kebun dan ladang serta menjaga ekosistem hutan yang selama ini dijalani beserta ritual adatnya lama kelamaan hilang akibat tidak diperbolehkannya masyarakat adat masuk ke dalam kawasan hutan.
“Kami masyarakat adat tidak merusak lingkungan sebab sejak dahulu kami selalu menjaga hutan dan nenek moyang kami tidak pernah melakukan kegiatan penebangan pohon untuk dijual. Daerah sekitar mata air pun selalu kami jaga sehingga mata air tidak mengering, Kami dukung AMAN agar memperjuangkan hak-hak kami yang selama ini dipasung,” pungkasnya.
Jurnalis : Ebed de Rosary / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary
