Ketika Belajar Bahasa Inggris Menjadi Kesenangan

SElASA 24 JANUARI 2017
BOGOR—Menguasai Bahasa Inggris merupakan keniscayaan di era globalisasi ini. Globalisasi menurut guru Besar Universitas Aachten, Jerman  Emanuel Ritcher merupakan satu jaringan kerja global yang mempersatukan masyarakat secara bersamaan yang sebelumnya tersebar menjadi terisolasi ke dalam saling ketergantungan dan persatuan dunia. 
Pertemuan English Debat di SMA Regina Pacis Bogor.
Hanya saja hingga dekade lalu belajar Bahasa Inggris baru hanya di tingkat formal (di sekolah) dan informal (melalui kursus). Namun seiring dengan kemajuan teknologi sehingga remaja bisa mengakses internet dengan genggaman,  belajar Bahasa Inggris sudah mempunyai fungsi untuk fun atau kesenangan, selain karena tuntutan bisa survival di era globalisasi. Munculnya berbagai lomba pencarian bakat di televisi di mana peserta menyanyi dalam Bahasa Inggris membuat belajar Bahasa Inggris sebagai sbeuah kebutuhan.

Sejak itulah english club bermucnulan di sekolah-sekolah sebagai ekstra kurikuler, baik namanya english club maupun debat english.  Ketika sudah marak, debat dalam Bahasa Inggris menjadi kompetisi. 

Di kota Bogor, hampir semua sekolah tingkat menengah atas mempunyai English Club. Di antaranya Sekolah Menengah Atas Regina Pacis, Bogor merupakan satu sekolah yang melihat hal tersebut sebagai satu hal yang penting dan diperlukan oleh siswa-siswinya. Maka dari itu, dibentuk eksktrakurikuler English Conversation Club. Pada 2011 dibentuk ekskul English Debate yang tidak hanya memerlukan kemampuan percakapan dari masing-masing anggotanya, namun diperlukan juga kematangan intelektualitas dan keluasan wawasan masing-masing individu anggotanya. 
Seiring berjalannya waktu, pada 2015, semua siswa yang tergabung dalam English Conversation Club ditransfer ke English Debate sehingga jumlah anggota jadi lebih banyak. “Dalam satu tahun jumlah anggota lima puluh siswa, dan yang aktif dua puluhan orang,” kata Barto, pengajar ekstrakurikuler Bahasa Inggris. 
Menurut Barto English Debate bukan sekedar percakapan biasa. Ada bahasan-bahasan yang disampaikan seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, konflik dunia, pertahanan dan keamanan. Keberadaan ekskul ini juga menuntut anggotanya untuk memiliki wawasan yang luas, dan intelektualitas yang matang dibandingkan anak-anak seumurannya.

“Kurikulum tidak bisa memenuhi kebutuhan siswa, begitu juga saya sebagai guru belum tentu mampu memenuhi semua kebutuhan siswa akan mata pelajaran,” tuturnya. 
Gerald Yudha Putra kelas XI MIPA 2 bergabung dengan English Debate karena ajakan temannya pada saat remaja itu duduk di kelas sepuluh atau satu SMA. Kepada Cendana News, Gerald mengakui bahwa dia memiliki kemampuan berbahasa Inggris, dan disalurkan di ekstrakurikuler english debate. 
“Dari SD sih kak, sudah speaking bahasa Inggris, terus kelas tiga dan empat mama ku dapat beasiswa kuiah di Australia, dan aku juga sekolah bahasa Inggris, maka dari itu sampai sekarang ya aku dilatih terus” katanya kepada Cendana News. 
Siswa lainnya, Jonathan Salomo 17 tahun ini bergabung dengan English Debate ketika dia berada di kelas sebelas. Kepada Cendana News, Jonathan mengaku bergabung di english debate karena melihat prestasi-prestasi yang dicapai. “Selama ini, saya hanya tahu soal teori grammatical, tapi belum tahu soal bagaimana berbicara sama orang, makanya saya gabung kesini,” ungkapnya.
Jonathan menilai bahwa orang yang mampu berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris memiliki nilai lebih dalam pergaulan. “Seneng banget, teman-temannya welcome banget, dapat pengalaman baru juga. Orang tua selalu pesan sih kak kalau sudah belajar bahasa Inggris jangan dibiarin aja, harus diasah” ujarnya. 
Kezia dari kelas XI MIPA 5 yang bergabung di English Debate dari kelas sepuluh. Kepada Cendana News, Kezia mengakui bergabung di english debate. “Karena ekskul ini berbeda dengan ekskul lainnya dan debat ini bisa dilakuin di SMA.   saya berpikir sekalipun kita bukan yang terbaik, kita perlu tempat untuk berimprovisasi.” pujinya.
Sekolah lain yang mempunyai English Club adalah SMA Pesat Bogor. Menurut Kepala Sekolahnya Lida Hasanah, minat siswa untuk mengikuti English Club mencapai sepuluh persen dari siswa setiap angkatan.  Para siswa sadar bahwa Bahasa Inggris adalah bahasa internasional dan mengikuti English Club para siswa bisa berekspresi dalam Bhaasa Inggris, serta bisa meningkatkan kemampuannya.
“Tentu saja tidak sama dengan di kelas. Karena  kegiatan ini ekstar kurikuler, Kegiatan English Club bersifat fun, ada storytelling (bercerita) hingga singging (bernyanyi).  Selain ini kami punya kegiatan outdoor seperti mengunjungi  Kebun Raya Bogor. Di sana siswa bercakap-cakap dengan turis yang kebanyakan bukan native speaker, seperti orang Brazil, Belanda, yang baru belajar Bahasa Inggris, sehingga pas,” ujar Lida ketika dihubungi Cendana News Selasa (24/1)
Lida juga menyebutkan perlu kompetisi antar sekolah. Sayangnya di Bogor kompetisi seperti ini tidak terlalu seirng. Terkadang sekali setahun dan terkadang dua atau tiga kali setahun, bergantung instansi mana yang mengadakan.  Lebih banyak kompetisi lebih bagus untuk mengasah kemampuan para peserta English Club.  Sekaligus juga sarana melatih anak bangsa mengahdapi era global. 
Jurnalis: Yohannes Krishna Fajar Nugroho/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Yohannes Krishna Fakar Nugroho
Lihat juga...