Karakter Semar Ingatkan Kembali Budaya dan Jati Diri Bangsa

MINGGU, 15 JANUARI 2017

YOGYAKARTA — Masyarakat Indonesia saat ini dinilai telah semakin tercerabut dari nilai-nilai budaya bangsa yang dimiliki. Hal itu salah-satunya ditunjukan dengan semakin lunturnya sikap maupun perilaku masyarakat dari ajaran-ajaran luhur budaya bangsa.
Ketua Penyelenggara Deklarasi Gerakan Komunitas Masyarakat Anti Fitnah, Boni Soehakso
Maraknya berita-berita bohong atau hoax yang tersebar di berbagai media, sebagai akibat perilaku masyarakat yang asal membagikan informasi tanpa tahu kebenarannya. Beberapa waktu belakangan, menjadi salah satu contoh nyata, semakin hilangnya jati diri bangsa.
Ketua Penyelenggara Deklarasi Gerakan Komunitas Masyarakat Anti Fitnah, Boni Soehakso mengatakan, perlunya upaya untuk mengingatkan kembali nilai-nilai budaya bangsa yang semakin dilupakan masyarakat Indonesia tersebut.
Salah satunya adalah dengan mencontoh tokoh atau karakter ajaran lokal seperti misalnya Semar sebagai bagian dari nilai-nilai budaya yang dimiliki bangsa Indonesia.
“Tokoh Semar itu mengajarkan nilai-nilai kebijaksanaan, ke-rendah-hati-an, serta mengajarkan kita untuk selalu meng-endap-kan segala sesuatu. Jadi sangat relevan dengan situasi saat ini, dimana kita sering sekali membagikan informasi tanpa tahu kebenarannya, tanpa mengendapkannya terlebih dahulu,” ujarnya kepada Cendana News, Sabtu (13/01/2017).
Menurut Boni, nilai-nilai pancasila sebenarnya telah terkandung di dalam nilai ajaran budaya bangsa Indonesia sejak lama. Sehingga sebelum pancasila dirumuskan pun, hubungan antar semua elemen masyarakat di zaman dahulu selalu harmonis meski terdiri dari berbagai golongan dan kepercayaan.
“Sementara kalau kita melihat saat ini, pengamalan dan pemahaman ideologi negara semakin menurun. Akibatnya masyarakat menjadi terkotak-kotak pada kesukuan, agama, ras antar golongan. Sehingga dikhawatirkan bisa menimbulkan perpecahan,” tambahnya.
Melalui gerakan yang ia bentuk itulah ia mengaku ingin membudayakan literasi. Bukan sebagai upaya melawan berita bohong dengan data dan fakta. Melainkan untuk mengajak masyarakat belajar kembali mengenal jati diri bangsa, agar tidak semakin kehilangan nilai-nilai budaya bangsa yang telah dipegang selama ini
“Kegiatan literasi ini bisa dilakukan dengan bekerjasama dengan berbagai pihak. Yang terpenting adalah harus menyentuh semua lapisan masyarakat. Khususnya anak muda. Karena mereka lah yang menjadi korban. Sehingga harus diselamatkan. Caranya bisa dilakukan misalnya dengan menyelenggarakan lomba antar pelajar yang mengangkat tema anti berita hoax,” pungkasnya.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...